Skinpress Rss

Showing posts with label Resume. Show all posts
Showing posts with label Resume. Show all posts

Thursday, November 23, 2017

BLOG SONIA || Apa Itu Perubahan Sosial ? Adakah Pada Saat Sekarang?

0

PERUBAHAN SOSIAL

sumber photo : http://www.pengertianku.net/2016/08/pengertian-perubahan-sosial-secara-umum-dan-faktornya.html


A. DEFINISI PERUBAHAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat, dari yang bersifat individual sampai yang lebih kompleks. Perubahan sosial dapat dilihat dari segi terganggunya kesinambungan di antara kesatuan sosial walaupun keadaannya relatif kecil. Perubahan ini meliputi struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek yang dihasilkan dari interaksi antarmanusia, organisasi atau komunitas, termasuk perubahan dalam hal budaya.

Perubahan sosial terbagi atas dua wujud sebagai berikut :

1) Perubahan dalam arti kemajuan (progress) atau menguntungkan.

2) Perubahan dalam arti kemunduran (regress) yaitu yang membawa pengaruh kurang menguntungkan bagi masyarakat.

Jika perubahan sosial dapat bergerak ke arah suatu kemajuan, masyarakat akan berkembang. Sebaliknya, perubahan sosial juga dapat menyebabkan kehidupan masyarakat mengalami kemunduran.

Adanya pengenalan teknologi, cara mencari nafkah, migrasi, pengenalan ide baru, dan munculnya nilai -nilai sosial baru untuk melengkapi ataupun menggantikan nilai – nilai sosial yang lama merupakan beberapa contoh perubahan sosial dalam aspek kehidupan. Dengan kata lain, perubahan sosial merupakan suatu perubahan menuju keadaan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya.

Ada dua faktor yang dapat menyebabkan terjadi perubahan sosial, yaitu faktor yang berasal dari dalam masyarakat dan juga faktor yang berasal dari luar masyarakat. Faktor yang bersumber dari masyarakat itu sendiri meliputi : bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, dan terjadinya pemberontakan atau resolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Sedangkan, faktor yang berasal dari luar masyarakat meliputi : sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, peperangan dengan negara lain, dan pengaruh kebudayaan lain.

Selain adanya faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, adapula faktor yang mendorong dan juga menghambat perubahan sosial. Faktor yang mendorong terjadinya perubahan yaitu : kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan yang lebih maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju, toleransi, sistem lapisan masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, orientasi ke muka, dan juga nilai meningkatkan taraf hidup.

Faktor yang menghambat terjadinya perubahan soaial adalah : kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang tradisionalistis, adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat, rasa takut akan terjadinya kegoyahan kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal yang baru, hambatan ideologis, kebiasaan dan nilai pasrah.

B. PENDAPAT PARA AHLI TENTANG PERUBAHAN SOSIAL

Para sosiolog dan antropolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai perubahan sosial. Berikut ini adalah para ahli beserta pendapat mereka mengenai perubahan sosial :

1. William F. Ogburn (1964), mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan material dan immaterial, yang ditekankan pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.

2. Kingsley Davis (1960), mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan yang selanjutnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.

3. Mac Iver (1937: 272), mengartikan bahwa perubahan sosialsebagai perubahan dalam hubungan sosial (perubahan yangdikehendaki dan perubahan yang tidak dikehendaki) atausebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium)hubungan sosial.

4. Gillin dan Gillin (1957: 279), mengartikan perubahan sosialadalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baikkarena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaanmaterial, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karenaadanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalammasyarakat

5. Selo Soemardjan (1962: 379), merumuskan perubahan sosial sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

6. Samuel Koenig (1957: 279), mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi dapat disebabkan oleh faktor intern dan ekstern.

7. Sugihen (1982), mengkaitkan perubahan sosial dengan beberapa kata lain yang merujuk pada proses sosial yang sama, seperti : industrialisasi, modernisasi, dan pembangunan.

8. Merton (1957;1964), mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan fungsi manifestasi dari suatu rekayasa sosial lewat upaya pembangunan yang dilambangkan atau diwujudkan dalam kegiatan industralisasi menuju suatu masyarakat modern.

9. Rogers, et. al. (1988), memahami bahwa perubahan sosial adalah suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan di dalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan. Ada 3 tahapan utama dalam proses perubahan sosial yang terjadi. Pertama, berawal dari diciptakannya atau lahirnya sesuatu yang berkembang menjadi suatu gagasan. Bila gagasan tersebut sudah menggelinding seperti roda yang berputar pada sumbunya, dan sudah tersebar di kalangan masyarakat maka perubahan tersebut sudah memasuki tahap kedua. Tahapan yang ketiga yaitu disebut dengan hasil, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu sistem sosial yang bersangkutan sebagai akibat dari diterimanya, atau ditolaknya suatu inovasi.

10. Larson dan Rogers (1964), mengemukakan pengertian tentang perubahan sosial yang dikaitan dengan adopsi teknologi yaitu perubahan sosial merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam suatu bentangan waktu tertentu. Pemakaian teknologitertentu oleh suatu warga masyarakat akan membawa suatu perubahan sosial yang dapat diobservasi lewat perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.



C. TIPE – TIPE PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial dapat terjadi dalam segala bidang yang wujudnya dapat dibagi menjadi beberapa bentuk. Beberapa bentuk perubahan sosial menurut Soekanto, yaitu sebagai berikut :

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat.

Perubahan terjadi secara lambat akan mengalami rentetan, perubahan yang saling berhubungan dalam jangka waktu yang cukup lama. Perkembangan perubahan ini termasuk dalam evolusi. Perubahan secara evolusi dapat diamati berdasarkan batas waktu yang telah lampau sebagai patokan atau tahap awal sampai masa sekarang yang sedang berjalan. Adapun penentuan kapan perubahan tersebut terjadi, bergantung pada orang yang bersangkutan.

Perubahan sosial yang terjadi secara cepat mengubah dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, perubahan itu dinamakan revolusi. Contohnya, Revolusi Industri di Eropa. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan besar-besaran dalam proses produksi barang-barang industri. Contoh lain Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang mengubah tatanan kenegaraan dan sistem pemerintahan NKRI.

2. Perubahan yang Pengaruhnya Kecil dan Perubahan yang Pengaruhnya Besar

Perubahan yang pengaruhnya kecil adalah perubahan yang memengaruhi unsur-unsur kehidupan masyarakat. Akan tetapi, perubahan ini dianggap tidak memiliki arti yang penting dalam struktur sosial. Contohnya, perubahan mode pakaian yang tidak melanggar nilai sosial. Perubahan yang pengaruhnya besar adalah perubahan yang dapat memengaruhi lembaga-lembaga yang ada pada masyarakat. Misalnya, perubahan sistem pemerintahan yang memengaruhi tatanan kenegaraan suatu bangsa.

3. Perubahan yang Dikehendaki dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki

Perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau disebut juga perubahan yang direncanakan (planned-change) merupakan perubahan yang memang telah direncanakan sebelumnya terutama oleh pihak yang memiliki wewenang untuk mengeluarkan kebijaksanaan. Misalnya, penerapan program Keluarga Berencana(KB) untuk membentuk keluarga kecil yang sejahtera dan menurunkan angka pertumbuhan penduduk.

Perubahan yang tidak dikehendaki (unintended-change)atau disebut juga perubahan yang tidak direncanakan (unplanned-change) umumnya beriringan dengan perubahan yang dikehendaki. Misalnya adanya pembuatan jalan baru yang melalui suatu desa maka sumber alam desa akan mudah dipasarkan ke kota. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan penduduk desa akan meningkat. Meskipun begitu lancarnya hubungan desa dengan kota menyebabkan mudahnya penduduk desa melakukan urbanisasi dan masuknya budaya kota terutama yang bersifat negatif, seperti mode yang dipaksakan, minuman keras, VCD porno, dan keinginan penduduk desa untuk memiliki barang-barang mewah.

D. PERUBAHAN SOSIAL YANG TERJADI DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

Sekarang ini banyak sekali perilaku yang menunjukkan perubahan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Di lingkungan tempat tinggal saya pun terjadi berbagai macam perubahan sosial, seperti :

1. Perubahan Jumlah Penduduk

Dahulu, sepasang suami istri memiliki anak yang lebih dari dua, misalnya lima, atau enam bahkan lebih. Dengan adanya program Kelurga Berencana (KB), saat ini sepasang suami istri hanya mempunyai 2 orang anak. Selain dipengaruhi oleh kelahiran perubahan jumlah penduduk di lingkungan saya juga disebabkan oleh adanya kematian dan juga perpindahan penduduk. Banyak masyarakat yang berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan tetapi juga sebaliknya banyak penduduk yang dari kota berpindah ke desa.

2. Perubahan Kualitas Penduduk

Masyarakat di taun-taun yang lampau hanya menempuh pendidikan sampai Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah saja, namun sekarang masyarakat telah banyak yang menempuh pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Dengan demikian pengetahuan yang dimiliki semakin bertambah, hal ini sebagai akaibat positif dengan terjadinya perubahan.

Akan tetapi, selain memberikan dampak positif bagi kualitas penduduk, perubahan sosial juga menimbulkan dampak negatif yang berupa penurunan moral yang dimiliki oleh masyarakat. Penurunan moral ini sering terjadi pada anak muda, hal ini dapat dilihat pada perilaku yang kurang sopan dalam masyarakat. Misalnya ketika jalan/lewat di depan warga masyarakat tanpa memberi salam, berbicara yang kurang sopan kepada orang lain. Selain itu, banyak juga masyarakat yang tidak mentaati peraturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Misalnya tentang peraturan lalu lintas.

3. Perubahan Sistem Pemerintahan

Perubahan sisitem pemerintahan yang terjadi dalam negara, juga mempunyai pengaruh bagi pemerintahan suatu dusun. Misalnya dalam suatu pengambilan keputusan dalam suatu musyawarah. Di lingkungan tempat tinggal saya pengambilan keputusan dilakukan melalui demokrasi yaitu melalui musyawarah mufakat.

4. Perubahan Mata Pencaharian

Dahulu, Mata pencaharian penduduk di lingkungan saya sebagaian besar adalah sebagai petani, namun dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan yang mereka miliki, saat ini banyak yang menjadi pegawai negeri, karyawan suatu perusahaan, dan juga ada yang pergi merantau bekerja ditampat lain.

5. Perubahan Gaya Hidup

Seiring dengan perkembangan jaman, gaya hidup masyarakat pun berubah. Saat ini gaya hidup konsumtif sudah menjangkit sampai di lingkungan pedesaan. Warga masyarakat memiliki keinginan untuk berbelanja yang tinggi. Contoh perilaku konsumtif masyarakat dapat dilihat misalnya pada gaya berpakaian. Setiap hari selalu ada model pakain baru yang ditawarkan baik di toko maupun di pasar. Warga masyarakat yang merasa mampu tentunya tidak ingin ketinggalan. Selain itu, dengan adanya perubahan sosial, masyarakat mempunyai pandangan bahwa produk dari luar negeri lebih baik dari pada produk dari dalam negeri.

6. Perubahan karena Adanya Teknologi

Dahulu, para petani di lingkungan tempat tinggal saya masih menggunakan bantuan tenaga hewan dalam mengerjakan/membajak sawahnya dan juga dibantu oleh tetangga dalam menanam padi atau tanaman lainnya. Namun saat ini, dengan berkembangnya teknologi, para petani telah menggunakan traktor dalam membajak sawah dan juga sudah menggunakan mesin perontok padi untuk mengolah hasil panenannya.

Selain teknologi dalam bidang pertanian, teknologi yang berkaitan dengan komunikasi pun berkembang pesat. Dahulu, apabila ingin berkomunikasi jarak jauh memerlukan waktu yang lama. Akan tetapi, alat komunikasi saat ini sudah canggih. Misalnya melalui telepon seluler yang saat ini satu orang tidak hanya memiliki satu alat komunikasi tersebut. Bahkan, sekarang anak usia remaja bahkan yang masih anak-anak sekalipun telah mengenal apa itu facebook, email, twitter, dan lain sebagainya

7. Perubahan Budaya

Perubahan budaya yang terjadi dalam lingkungan masyarakat dapat dilihat pada perilaku anak muda saat ini. Banyak yang meniru trend-trend atau budaya masyarakat barat, misalnya cara berpakaian. Sekarang ini, jarang sekali anak muda yang mau mengenakan pakaian adat Jawa (Jogja), begitupun dalam acara pernikahan. Mereka bilang terlalu ribet.

Selain itu, contoh-contoh hasil kebudayaan seperti, angklung, gamelan, kesenian ketoprak, lagu-lagu tradisional tidak lagi diminati oleh masyarakat. Bahkan ada warga yang tidak mengetahui kebudayaan daerah tempat tinggalnya sendiri. Sekarang ini, keberadaan kesenian-kesenian tersebut telah tergantikan oleh adanya lagu-lagu pop, rock, dan lain sebagainya.

Sunday, February 19, 2017

BLOG SONIA: KARAKTERISTIK DAN KESIAPAN SISWA DALM BELAJAR MATEMATIKA || Pendidikan Matematika SD Kelas Rendah

0

KARAKTERISTIK DAN KESIAPAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA
 
BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Guru dalam rnerencanakan dan melaksanakan pembelajaran terlebih dahulu harus memahami karakteristik siswa, karena siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pebelajaran.

Maka kami berharap makalah kami dapat membantu para pembaca untuk menambah wawasannya.



B. Rumusan Masalah

Masalah yang akan di bahas penyusun dalam makalah ini adalah :

1. Apa Hakkat Matematika?

2. Bagaimana Karakteristik Siswa SD?

3. Bagaimana Model Pembelajaran Siswa SD Dalam Matematika?



C. Tujuan

Tujuan penyusun membuat makalah ini adalah:

1. Menjelaskan pengertian Hakikat Matematika.

2. Mendeskripsikan Karakteristik Ssiwa SD.

3. Menguraikan pembelajaranSiswa SD Dalam Matematika.


BAB II

PEMBAHASAN


A. Hakikat Matematika

Pertama kita haruslah paham apa yang diartikan dengana Matematika. Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani, mathein dan mathenem yang berarti mempelajari. Kata matematika berasal dari perkataan latin matematika yang mulanya diambil dari perkataan yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu mempunyai asal katanya mathemayang berarti pengetahuan dan ilmu (knowledge, science). Kata matheimatike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar (berpikir). Pendefinisian matematika sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat, namun demikian dapat dikenal melalui karakteristiknya. Matematika adalah ilmu pengetahuana yang diperoleh dengan bernalar.

Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan bahasa matematika atua notasimatematika yang bernilai global (universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika.

Pada hakikatnya matematika itu adalah sebuah simbol, dan bersifat deduktif (dari umum ke khusus) dan merupakan ilmu yang logis dan sistematis . Dalam ilmu matematika terdapat istilah-istilah diantaranya :

a. Aksioma: suatu pernyataan yang dijadikan dalil atau dasar pemula yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi.

b. Definisi: Suatu pernyataan yang di jadikan pembatas suatu konsep

c. Teorema: Pernyataan yang diturunkan dari aksioma yang kebenaranya masi perlu di buktikan.

d. Himpunan: Sekumpulan suatu himpunan yang mana dalam matematika terdapat beberapa himpunan.

Dari uraian diatas dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa matematika merupakan ilmu yang pasti dan bersifat sistematis. Dan tujuan mempelajari matematika adalah :

1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan.

2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi.

3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi.

Matematika dikenal sebagai ilmu dedukatif, karena setiap metode yang digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan metode deduktif, sedang dalam ilmu alam menggunakan metode induktif atau eksprimen. Namun dalam matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan cara deduktif, tapi seterusnya yang benar untuk semua keadaan hars bisa dibuktikan secara deduktif, karena dalam matematika sifat, teori/ dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif.

Matematika mempelajari tentang keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan, konsep-konsep matematika tersusun secara hierarkis, berstruktur dan sistematika, mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep paling kompleks. Dalam matematika objek dasar yang dipelajari adalah abtrak, sehingg disebut objek mental, objek itu merupakan objek pikiran. Objek dasar itu meliputi: Konsep, merupakan suatu ide abstrak yang digunakan untuk menggolongkan sekumpulan obejk. Misalnya, segitiga merupakan nama suatu konsep abstrak. Dalam matematika terdapat suatu konsep yang penting yaitu “fungsi”, “variabel”, dan “konstanta”. Konsep berhubungan erat dengan definisi, definisi adalah ungkapan suatu konsep, dengan adanya definisi orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang dimaksud. Prinsip, merupakan objek matematika yang komplek. Prinsip dapat terdiri atas beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi/operasi, dengan kata lain prinsip adalah hubungan antara berbagai objek dasar matematika. Prisip dapat berupa aksioma, teorema dan sifat. Operasi, merupakan pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan matematika lainnya, seperti penjumlahan, perkalian, gabungan, irisan.

Pembelajaran matematika sebaiknya dimulai dari masalah yang kontekstual. Sutarto Hadi menyatakan bahwa masalah kontekstual dapat digali dari: (1) situasi personal siswa, yaitu yang berkenaan dengan kehidupan sehari-hari siswa, (2) situasi sekolah/akademik, yaitu berkaitan dengan kehidupan akademik di sekolah dan kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran siswa, (3) situasi masyarakat, yaitu yang berkaitan dengan kehidupan dan aktivitas masyarakat sekitar siswa tinggal, dan (4) situasi saintifik/matematik, yaitu yang berkenaan dengan sains atau matematika itu sendiri.

Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal menyebutkan dua jenis matematisasi, yaitu matematisasi horizontal dan vertical. Gravemeijer mengemukakan bahwa dalam proses matematisasi horizontal, siswa belajar mematematisasi masalah-masalah kontekstual. Pada mulanya siswa akan memecahkan masalah secara informal (menggunakan bahasa mereka sendiri). Kemudian setelah beberapa waktu dengan proses pemecahan masalah yang serupa (melalui simplifikasi dan formalisasi), siswa akan menggunakan bahasa yang lebih formal dan diakhiri dengan proses siswa akan menemukan suatu algoritma. Proses yang dilalui siswa sampai menemukan algoritma disebut matematisasi vertikal.

Berdasarkan uraian di atas maka secara umum Hakikat Pembelajaran Matematika sebagai berikut:

1. Matematika pelajaran tentang suatu pola/ susunan dan hubungan

2. Matematika adalah cara berfikir

3. Matematika adalah bahasa

4. Matematika adalah suatu alat

5. Matematika adalah suatu seni

Beberapa hakikat atau definisi dari matematika adalah sebagai berikut:

a. Matematika sebagai cabang ilmu pengetahuan eksak atau struktur yang teroganisir secara sistematik.

Agak berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika merupakan suatu bangunan struktur yang terorganisir. Sebagai sebuah struktur, ia terdiri atas beberapa komponen, yang meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif, dan dalil/teorema (termasuk di dalamnya lemma (teorema pengantar/kecil) dan corolly/sifat).

b. Matematika sebagai alat ( tool )

Matematika juga sering dipandang sebagai alat dalam mencari solusi berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh :

Siswa menyelesaikan soal-soal matematika dan memecahkan masalahnya sehingga siswa di tuntut untuk berfikir kreatif dan logis, seperti menjelaskan sifat matematika, berbicara persoalan matematika, membaca dan menulis matematika dan lain-lain. Menggunakan berbagai alat peraga/media pendidikan matematika seperti jangka, kalkulator, dan sebagainya.

c. Matematika sebagai pola pikir deduktif

Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).

Contoh :

Kegiatan pembelajaran dapat dimulai dengan menyajikan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat-sifat yang muncul, memperkirakan hasil yang mungkin, dan kemudian siswa dapat diarahkan menyusun generalisasi secara deduktif. Selanjutnya, jika memungkinkan siswa dapat diminta membuktikan generalisi yang diperolehnya secara deduktif

Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking).

Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar, paling tidak karena beberapa hal, seperti matematika memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran matematika yang sistematis.

Contoh :

Matematika memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran matematika yang sistematis.

d. Matematika sebagai bahasa artifisial.

Simbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam matematika. Bahasa matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial, yang baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.

Contoh :

Jika kita mempelajari kecepatan berjalan dari sebuah benda, maka objek “kecepatan gerak benda” dapat kita lambangkan dengan x. Dalam hal ini, x hanya mempunyai arti “kecepatan gerak benda”. Di samping itu, lambing x tidak memiliki arti majemuk lainnya. Jika kita ingin menghubungkan “kecepatan gerak benda” dengan “jarak yang di tempuh benda” (dalam hal ini dilambangkan dengan ‘y’), maka kita dapat melambangkan hubungan tersebut dengan lambang x = y/z di mana z melambangkan “waktu yang ditempuh”.

e. Matematika sebagai seni yang kreatif.

Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berpikir yang kreatif.

Contoh :

Keindahan matematika berdasarkan pola yg dituangkan dalam angka :


1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987



B. Kepribadian atau Karakteristik Anak SD

perkembangan dan karakteristik anak pada usia SD berbeda-beda Antara anak yang satu dengan anak yang lainnya, karakter anak pada masa kelas rendah berbedah dengan karakter anak pada kelas tinggi hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran anak. usia sekolah dasar utamanya yang ada di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas tinggi sudah dapat berfikir, berkreasi secara luas.

Berikut adalah karakter anak SD kelas rendah serta implikasinya terrhadap pembelajaran :

1. kongkrit, siswa sd kelas rendah salah satu karakteristiknya yaitu belajar dari hal-hal yang konkrit dan secara bertahap menuju kearah yang abstrak.Kongkrit maksudnya belajar dari hal –hal yang nyata , misalnya dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba bahkan diotak atik, itu disebabkan karena anak sd kelas rendah belum bisa menggambarkan atau membayangkan sesuatu berdasarkan penjelasan atau teori. Oleh karena itu pembelajaran ips harus diusahakan ada media atau alat peraga sesuai dengan tujuan materi yang diajarkan..memanfaatkan lingkungan sekitar dalam proses belajar mengajar akan menghasilkan hasil belajar yang lebih bernilai.

2. Integratif , yaitu pada tahap anak sd kelas rendah anak masih memandang sesuatu sebagai satu keutuhan, mereka belum bisa memisahkan suatu konsep ke bagian demi bagian.oleh karena itu dalam pembelajaran ips harus dilakukan secara bertahap,dari hal-hal umum yang mudah dipahami ke hal-hal yang lebih khusus.

3. Hierarkis, yaitu cara belajar anak yang berkembang secara bertahap dari hal yang sederhana ke hal yang lebih kompleks.oleh karena itu pembelajaran ips materi atau ilmu yang diajarkan hrus logis atau masuk akal, agar mudah dimengerti oleh siswa.

4. Suka bermain dan lebih suka bergembira / riang (Basset, Jacka, dan Logan:1983) , anak SD kelas rendah masih suka bermain dan suka bergembira disebabkan karena mereka berada pada tahap peralihan dari TK yang penuh dengan permainan.implikasinya terhadap pembelajaran ips, guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman dan penuh ceriah dengan merancang model pembelajaran yang serius tapi santai.

5. Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan. (Basset, Jacka, dan Logan:1983

6. Krakteristik anak SD kelas rendah adalah senang merasakan atau melakukan / memperagakan sesuatu secara langsung ditinjau dari teori perkembangan kognitif anak SD memasuki tahap opersional kongkrit. Impliklasinya yaitu guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

7. Siswa masih senang belajar bersama temannya atau berkelompok karena pergaulannya dengan kelompok sebaya . karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Karena anak pada usia ini cenderung ingin mengajar anak-anak lainnya.

8. sebagian siswa tertentu misalnya yang paling kecil, besar, gemuk/ kurus ataupun kecacatan fisik lainnya biasanya suka mencari perhatian seperlunya, oleh karena itu pembelajarannya hendaknya diberikan perhatian khusus seperlunya dan diberikan kasihsayang tampak pamrih

9. Siswa usia ini sedang mengalami masa peka / sangat cepat untuk meniru , mendapat contoh / figure dari guru yang dipavoritkannya.karena itu di dalam pembelajarannya guru hendaknya bersikap baik dan bisa menjadi contoh bagi murid-muridnya.

10. Bahasa yang digunakan anak usia ini masih dipengaruhi oleh usia ibu Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana tidak kompleks.

11. Rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak SD usia ini sangat kritis mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan jadi alam pembelajaran

Sebagai guru sd, guru sd harus memiliki strategi dalam proses pembelajaran. Agar kita bisa menarik simpati dan minat siswa sd. Dalam hal itu seorang guru sd harus memiliki jurus jitu dalam merebut hati siswa sd. Ada beberapa contoh dalam strategi pembelajaran.

Masa usia sekolah adalah babak terakhir bagi periode perkembangan dimana manusia masih digolongkan sebagai anak masa usia sekolah dikenal juga sebagai masa tengah inilah anak paling siap untuk belajar. Pada masa usia sekolah dasar sering pula disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian sekolah. Pada masa keserasian sekolah ini secara relatif anak – anak lebih mudah dididik dari pada sebelumnya dan sesudahnya. Pada masa ini terjadi dua fase, fase tersebut adalah :
Masa kelas – kelas redah sekolah dasar kira – kira umur 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun.
Masa kelas – kelas tinggi sekolah dasar kira – kira umur 9 tahun 10 tahun sampai kira – kira 12 tahun atau 13 tahun.

Adapaun karakteristik anak – anak kelas rendah pada sekolah dasar. Ciri khas dari pada kelas rendah ini sebagai berikut :

a. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi sekolah

b. Sikap tunduk kepada peraturan – peraturan permainan tradisional

c. Ada kecendrungan menuju diri sendiri

d. Suka membanding – bandingkan dirinya dengan anak lain pada kecendrungan meremehkan orang lain

e. Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu hal, maka soal itu dianggappnya tidak penting

f. Pada masa ini akan memnghendaki nilai raport yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai atau tidak.

Berikut adalah karakteristik anak SD berdasarkan perkembangan fisik atau jasmani

a. Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik mencakup aspek – aspek anatomis dan fisiologis

1) Perkembangan Anatomis

Perkembangan anatomis ditujukan dengan adanya kuantitatif pada strukutur tulang – berulang. Indeks tinggi dan berat garis keajegan bafan secara keseluruhan.

2) Perkembangan Fisiologi

Perkembangan fisioligu ditandai dengan adanya perubahan – perubahan secara kuantitatif, kulaitatif dan fungsional dari sistem – sistem kerja hayati seperti konstraksi otak, peredaran darah dan pernafasan.

b. Perkembangan perlikau fsikomotor

Perilaku psikomotorik memerlukan adanya koordiansi fungsional antara neuronmuscular( persyarafan dan otot ) dan fugnsi pskis ( kognitif, afektif dan konatif). Loree (1970:75) menyatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa kanak – kanaknya ialah berjalan dan memegang benda. Yang kedua jenis keterampilan psikomotorik ini merupakan basis bagi oerkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain dan bekerja.

Berikut adalah karakteristik anak SD berdasarkan intelektual dan emosional

a. Perkembangan intelektual

1) Perkembangan kognitif

Menurut Piaget anak usia antara 5 – 7 tahun memasuki tahap operasai konkret yaitu pada waktu anak dapat berfikir secara logik mengenai segala sesuatu. Pada umumnya mereka pada tahap ini sampai kira – kira11 tahun.

2) Berpikir operasional

Melakukan berbagai bentuk operasional yaitu kemampuan aktivitamental sebagai kebalikan dari aktivitas jasmani. Pada tahao ini anak – anak telah memulai bekerja dengan angka – angka, mengetahui konsep – konsep eaktu dan ruang dan dapat membedakan kenyataan dengan hal – hal yang bersifat fantasi.

3) Konservasi

Pada masa ini, anak – anak telah bisa memahami konsep – konsep. Menurut Piaget kemampuan konservasi di mungkinkan untuk berkembang jika sistem syarat yang cukup matang dan mendukung kemampuan yang ia miliki.

4) Seriasi ( Runtunan )

Pada masa ini, mereka bisa memahami suatu posisi, seriasi ini juga berlaku untuk berbagai dimensi, artinya anak SD mampu meyusun benda mulai dari paling yang tingkatnya tinggi hingga ke yang terkecil.

5) Klarifikasi dari objek – objek

Yaitu kemampuan untuk memilih sub kelompok

b. Perkembangan emosional

Pada masa ini pada umumbta mulai dituntut untuk dapat mengerjakan aau menyelesaikan sesuatu dengan baik bahkan sempurna. Untuk mendapatakan kemampuan tersebut, kita harus bisa menumbuhkan kepercayan dan kecakapan dalam menyelesaikan tugas tersebut. Pada masa ini, anak – anak mulai merasakan perbedaan atau membedakan antara guru ini dengan guru ini. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain faktor yang melatarbelakingya adalah takut, cemas atau guru tersebut pemarah. Ada 3 aspek emosional yang terlibat dalam suatu perilaku, antara lain:

a. Rangsangan yang menimbulkan emosi ( the stimulus variable )

b. Perubahan – perubahan fisiologis variable yang terjadi bila mengalami emosi ( the organismic variable )

c. Pola sambutan ekspresi atas terjadinya pengalaman emosional itu. ( the respons vatiable )



Pada masa ini, anak menjalani sebagian besar dari kehidupannya di sekolah yaitu Sekolah Dasar. Pada masa ini dikatakan pula sebagai masa kondosional. Pada masa keresaian sekolah ini secara relative anak – anak lebih muda dididil dari pada sebelumnya dan sesudahnya. Ada beberapa hal sifat khas dari anak SD. Antara lain :

1. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi sekolah

2. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang tradisional

3. Ada kecendrungan menuju diri sendiri

4. Suka membanding bandingkan dirinya dengan anak lain

5. Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu hal maka soal itu dianggap tidak penting



C. Pembelajaran Matematika Anak SD

Pembelajaran matematika di SD selalu berbeda, berikut adalah ciri-ciri pembelajaran matematika di SD:

1. Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral.

Pendekatan spiral dalam pembelajaran matematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu mengkaitkan atau menghubungkandengan topik sebelumnya. Topik sebelumnya dapat menjadi prasyarat untuk dapat memahami dan mempelajari suatu topik matematika.

Topik baruyang dipelajari merupakan pendalamandan perluasan dari topik sebelumnya. Konsep diberikan dimulai dengan benda-benda konkritkemudian konsep itu diajarkan kembali dengan bentukpemahaman yang lebih abstrak denganmenggunakan notasi yang lebih umum digunakan dalam matematika.

2. Pembelajaran matematika bertahap

Materi pelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsepyang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit. Selain itu pembelajaran matematika dimulaidari yang konkret, ke semi konkret dan akhirnya kepada konsep abstrak. Untuk mempermudah siswa memahami objek matematika maka benda-benda konkrit digunakan pada tahap konkrit, kemudian ke gambar-gambar pada tahap semi konkrit dan akhirnya ke simbol-simbol pada tahap abstrak. Contoh : Seorang guru yang akan mengajar mengenai perkalian bilangan cacah di kelas 2, maka dapat memberikan pemahaman arti perkalian dengan menggunakan benda-benda konkrit seperti permen, kelereng, buku,penggaris, dll Misal : Pemahaman 3 x 4, dapat dilakukan dengan memberikan soalcerita, seperti,Ibu mempunyai 3 bungkus kelereng yang tiap-tiap bungkus berisi 2 kelereng. Guru mengelompokkan 2 kelompok. Menggambar 2 kelereng sebanyak 3 kelompok .

Seperti berikut :

Guru bertanya pada siswa. Guru memberikan penjelasan Bahawa 3 kumpulan yang berisi 2 kelereng sama dengan kumpulan yang terdiri dari 6 kelereng. Dengan menggambar dan menuliskan 3 x 2 = 6.

3. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif.

Matematika merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif.

Contoh : Pengenalan bangun-bangun ruang tidak dimulai dari definisi, tetapi dimulai dengan memperhatikan contoh-contoh dari bangun tersebut dan mengenal namanya. Menentukan sifat-sifat yang terdapat pada bangun ruang tersebut sehingga didapat pemahaman konsep bangun-bangun ruang itu.

4. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi

Kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar jika didasarkan kepada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah diterima kebenarannya. Meskipun di SD pembelajaran matematika dilakukan dengan cara indukti tetapi pada jenjang selanjutnya generalisasi suatu konsep harus secara deduktif.

5. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna

Pembelajaran secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yangmengutamakan pengertian daripada hafalan. Dalam belajar bermakna aturan-aturan, sifat-sifat, dan dalil-dalil tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya aturan-aturan, sifat-sifat, dan dalil-dalil ditemukan oleh siswa melalui contoh-contoh secara induktif di SD, kemudian dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya



Konsep-konsep matematika tidak dapat diajarkan melalui definisi, tetapi melalui contoh-contoh yang relevan. Guru hendaknya dapat membantu pemahaman suatu konsep dengan pemberian contoh-contoh yang dapat diterima kebenarannya secara intuitif. Artinya siswa dapat menerima kebenaran itu dengan pemikiran yang sejalan dengan pengalaman yang sudah dimilikinya. Pembelajaran suatu konsep perlu memper hatikan proses terbentuknya konsep tersebut. Dalam pembelajaran bermakna siswa mempelajari matematika mulai dari proses terbentuknya suatu konsep kemudian berlatih menerapkan dan memanipulasi konsep-konsep tersebut pada situasi baru. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa terhindar dari verbalisme. Karena dalam setiap hal yang dilakukannya dalam kegiatan pembelajaran ia memahaminya mengapa dilakukan dan bagaimana melakukannya. Oleh karena itu akan tumbuh kesadaran tentang pentingnya belajar. Ia akan belajar dengan baik.

Contoh : Pembelajaran matematika di yang bermakna

a. Untuk mendapatkan sifat komutatif perkalian

Misal : a × b = b × a

Maka dapat dilakukan dengan memberikan soal :

3 × 2 =

5 × 4 =

4 × 5 =

Selanjutnya guru dapat membimbing siswa sehingga dapat menyimpulkan a × b = b × a

b. Untuk mengajar konsep balok siswa diberi balok dan disuruh untuk menghitung banyak rusuk, titik sudut, bidang sisi balok sehingga siswa dapat menyimpulkan definisi balok.



Seorang harus bisa menjadi seseorang yang menyenangkan bagi siswa nya. Dan mengajarkan matematika dalam hal yang menyenangkan dan mengasikkan agar siswa – siswa tidak bosan dengan matei yang kita ajarkan. Dan tidak hanya itu saja, seorang guru harus lah bisa menjadi seorang siswa SD seperti mereka agar mereka tertarik dan mempunyai rasa ingin tahu dengan pelajaran matemartika ini.



BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah:

1. Matematika adalah salah satu pengetahuan tertua yang terbentuk dari penelitian bilangan dan ruang. Matematika adalah suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan tidak merupakan cabang dari ilmu pengetahuan alam. Kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu mempunyai asal katanya mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan asal katanya, maka perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar).

2. Matematika merupakan ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan kepada observasi (induktif) tetapi generalisasi yang didasarkan pada pembuktian secara deduktif. Dasar penalaran deduktif yang berperan besar dalam matematika adalah kebenaran. Suatu pernyataan haruslah didasarkan pada kebenaran pernyataan-pernyataan sebelumnya. Pernyataan awal atau pernyataan pangkal dalam matematika dikenal dengan istilah aksioma atau postulat.

3. Matematika sebaga ilmu yang terstruktur dimana konsep-konsep matematika tersusun secara hierarki, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke aksioma/postulat dan akhirnya pada teorema. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.

4. Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Dimana matematika tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu. Matematika juga sebagai pelayan ilmu karena melayani kebutuhan ilmu pengetahuan dalam pengembangan dan operasionalnya.

5. Matematika disebut sebagai ilmu tentang pola karena pada matematika sering dicari keseragaman seperti keterurutan, keterkaitan pola dari sekumpulan konsep-konsep tertentu atau model yang merupkan representasinya untuk membuat generalisasi dan matematika disebut ilmu tentang hubungan karena konsep matematika satu dengan lainnya saling berhubungan.

6. Matematika memperhatikan semesta pembicara artinya penyelesaian dalam matematika harus disesuaikan dengan semesta pembicaraan. Simbol-simbol akan bermakna jika ruang lingkup pembicaraanya jelas.

7. Matematika kosisten dengan sistemnya artinya dalam matematika banyak sistem yang saling berkaitan satu sama lainnya dan ada juga yang tidak saling berkaitan. Didalam masing-masing sistem berlaku konsistensi atau ketaatazasan, artinya bahwa dalam system tidak boleh terdapat kontradiksi. Suatu teorema ataupun definisi harus menggunakan istilah atau konsep yang diterapkan terlebih dahulu. Konsistensi itu baik dalam makna maupun dalam hal nilai kebenaran.

8. Kesepakatan dalam Matematika merupakan ikatan yang mengikat untuk menghindari pembuktian yang berputar-putar baik dalam pembuktian maupun dalam pendefinisian. Kesepakatan yang mendasar adalah aksioma dan konsep primitive.

9. Matematika memiliki symbol yang kosong dari arti maksudnya adalah ia akan bermakna sesuatu bila kita mengaitkannya dengan konteks tertentu. Secara umum, hal ini pula yang membedakan symbol matematika dengan symbol bukan matematika. Kosongnya arti dari model-model matematika itu merupakan “kekuatan” matematika, yang dengan sifat tersebut ia bisa masuk pada berbagai macam bidang kehidupan.

B. SARAN

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabankan.

Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah dijelaskan.



DAFTAR PUSTAKA



Andi Hakim, N. (1980). Landasan Matematika, Jakarta : Bharata Aksara.

Erman, S dan Winataputra, U.S. (1993). Strategi Belajar Mengajar Matematika, Jakarta : Universitas Terbuka.

Herman, H. (1990). Strategi Belajar Matematika, Malang : IKIP Malang.

Ruseffendi, E.T. (1988). Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini Untuk Guru dan SPG, Bandung : Tarsito.

Ruseffendi, E.T. (1988). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA,Bandung : Tarsito.

Sumardyono. (2004). Karakteristik Matematika dan Impilikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika. Yogyakarta : PPPG Matematika

























































Saturday, January 21, 2017

BLOG SONIA: PROSES MASUK DAN PENGARUH KEBUDAYAAN BARAT DI INDONESIA

0

PROSES MASUK DAN PENGARUH KEBUDAYAAN BARAT DI INDONESIA




Masuknya pengaruh kebudayaan Barat atau Eropa ke Indonesia banyak diwarnai dengan Paham Kolonialisme dan imperialisme yang saat itu memang sedang berkembang di Eropa. Paham Kolonialisme dan Imprealisme mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk mencari dan memperluas wilayah-wilayah kolonialnya. Indonesia yang kaya akan sumber alam menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa untuk dijadikan koloninya

Kolonialisme dan Imprealisme berkembang di Eropa karena dipicu oleh beberapa factor yang mempengaruhinya saat itu, seperti adanya Merkantilisme, Revolusi Industri dan Kapitalisme. Merkanrilisme merupakan suatu kebijakan poltik dan ekonomi dari Negara-negara imprerialis dengan tujuan untuk memupuk kekayaan berupa logam mulia sebanyak-banyaknya sebagai standard an ukuran kekayaan yang dimiliki, kesejahtraan dan kekuasaan Negara tersebut. Gerakan ini menjadi mapan untuk saat itu

Sementara itu, pada abad ke-16 dan 17 banyak Negara-negara Eropa yang menemuakan bentuk dan identitanya serta telah menjadi Negara nasional. Tiap-tipa Negara nasional berusaha untuk memperkuat kedudukannya didalam negri. Kuat atau tidaknya posisi mereka banyak ditentukan oleh masalah-masalah didalam negrinya. Sedangkan pemecahan masalah didalam negri memerlukan biasya yang sanagat besar. Untuk mendapatkan biaya itu masing-masing Negara nasional di Eropa menempuh dengan cara perdagangan ke luar wilayahnya.

Selain itu, pertumbuhan perekonomian di Eropa setelah revolusi industry berjaln cepat, sehngga berakibat luas pada keadaan masyarakat. Bebrbagai penemuan peralatan kerja untuk meningkatkan hasil produksi telah menandai perubahan yang radikal dan cepat terhadap kemampuan manusia.

Rovolusi industri pada awalnya berkembang di Inggris, untuk kemudian menyebar luas di daratan Eropa. Akibat dari percepatan dalam proses produksi karna revolusi industri, maka kebutuhan bahan baku sanagt tingg. Untuk memenuhi bahan baku tersebut, bangsa-bangsa Eropa mencari daerah-daerah yang kaya bahan mentah dan bahan baku, untuk kemudian menjadikannya sebagai daera koloni atau jajahan, termasuk Indonesia.



Proses Masuknya Kebudayaan Barat di Indonesia

Zaman pengaruh kebudayaan Barat atau Eropa di Kepulauan Nusantara didahului dengan adanya aktivitas perdagangan bangsa Prortugis pada awal abad ke-16, setaelah sebelumnya Negara Protugal pada tahun 1511 dapat menaklukan perlabukan Negara Malaka yang letaknya sanagn strategis, sebagai pintu gerbang untuk memasuki laut-laut Nusantara dari arah barat. Walaupun demikian, bangsa Protugis tidak lama bisa berjuasa sendiri karena bangsa-bangsa Eropa lainnya juga datang berlayar sampai di daerah nusantara untuk berdagang rempah-rempah, seperti Inggris, Spayol dan Belanda. Akhirnya, bangsa Belandalah denagn perusahaan dagangnya VOC, berhasil menduduk tempat-tempat yang paling strategisseperti Kepulauab Maluku Tengah (Ambon, Seram, Banda).

Kemudian mereka kembali berhasil direbutnya dari Protugis pada tahun 1641. Bangsa Belanda telah mendirikan sebuah benteng dan kota pelabuhan yang kuat, dengan benteng itu bangsa Belanda dapat menjaga dan menguasai Banten, mengamankan politik monopoli perdaganagnnya, serta hubungan pelayarannay antar Maluku dan Malaka.

Akhir abad ke-18, perusahaan dagang Belanda (VOC) mundur, sehingga terpaksa dinyatakan bangkrut dalam tahun 1799, dengan demikian, semua miliknya di Indonesia diambil alih oleh kerajaan Belanda, dan dengan itu daerah-daerah di Indonesia yang selama itu dikuasai oleh VOC menjadi jajahan Negara Belanda,

Pada waktu penagmbilan-alihan pada akhir abad ke-18 tersebut, belum senua daerah yang sekarang menjadi wilayah NKRI itu dikuasai oelh Belanda. Banyak daerah lain di luar Jawa baru kemudian sepanjang abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, dikuasai oleh Belanda. Bengkulu misalnya baru ditukar denagn Singapura dan Inggris pada suatu perjanjian diplomatic antara Inggris dengan Belanda sesudah mereka berhasil untuk ikut campur tanagn dalam perang Padri tahun 1837.



Pengaruh Kebudayaan Barat (Belanda) di Indonesia

Pusat-pusat kekuasaan pemerintah Belanda merupakan kota-kota pemerintahan, seperti kota provinsi, kota kabupaten dan kota distrik. Kota-kota tersebut kecuali dalam hal luas tidaknya wilayah, pada umumnya memiliki pola yang sama. Pusat kota merupakan suatu lapangan (alun-alun) yang dikelilingi oleh gedung-gedung panting, seperti pendopo yaitu rumah dan kantor kepala pemerintahan, masjid, penjara, rumah gadai, dan beberapa kantor lainnya; kmudian ada kampug Cina yang merupakan toko-toko barang, kelontong, pasar dan beberapa pertukaran dan industry kecil yang memberi pelayanan kepada penduduk kota.

Terutama yang ada di Jawa, Sulawesi Utara, dan Maluku, berkembangkah dua lapisan sosial lapisan pertama adalah kaum buruh yang telah meninggalkan pekejaan petani dan bekerja dengan tangan dalam berbagai macam lapangan pertukanagan sebagai pelayan di rumah tangga orang pegawai atau pedagang-pedagang Tionghoa, atau sebagai buruh dalam perusahaan dan industry kecil. Lapisan kedua adalah kaum pegawai (di Jawa disebut kaum Priyayi) yang bekerja dibelakang meja atau dikantor-kantor pemerintahan. Dalam lapisan sosial ini, pendidikan barat di sekolah-sekolah dan kemahiran dalam bahasa belanda menjadi syarat utama untuk naik kelas sosial.

Dalam beberapa kota di Jawa dan di beberapa daerah lain di Indonesia teelah mulai berkembang pula, suatu golongan orang pedagang Indonesia yang dapat menempati sector-sektor dalam ekonomi indonesi di tingkat menengah, yang belum atau tidak diduduki oleh orang-orang Tionghoa, seperti kerajinan tangan batik, tenun, rokok kretek dan lain-lain,

Sampai sekarang ini, kebudayaan dengan mentaliet pegawai negri masih amat mempengaruhi kehidupan kebudayaan Indonesia pada umumnya. Anda bisa menyaksikan sendiri bagaimana membludaknya masyarakat Indonesia yang mengikuti ujian CPNS beberapa tahun terakhir ini. Sebaliknya mentalitet yang mengarah pada kemandirian atau kewirausahaan masih belum membudayakan pada masyarakat Indonesia. Banyak orang Tionghoa juda dimasukkan oleh Belanda untuk dipekerjakan sebagai kuli dan buruh dalam peetambangan dan perkebnan orang Belanda.

Struktur ekonomi rakyat Indonesia, dimana sebagian besar hidup di desa-desa, tetep berada dalam keadaan miskin dan tidak ikut terseret dalam proses perkembangan dan kemajuan ekonomi serta kemakmuran luar biasa yang dialami oleh kaum penjajah itu. Namun, dalam keadaan serba miskin itu, rakyat Indonesia, terutama di Jawa, dimana kekuasaan Belanda sedang mendominasi, menaglami suatu proses kenaikan jumlah penduduk dengan suatu laju yang luar biasa cepatnya.

Pengaruh kebudayaan Eropa ke dalam kebudayaan Indonesia yang bersifat positif adalah pengaruh ilmu engetahan dan teknologi dalam kehidupan ornag Indonesia, walaupun sampai masa sekarang ini apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi masih tetap terbatas pada suatu bagian yang kecil pada masyarakat Indonesia, namun kesadaran mengenai pentingnya hal itu demi kemajuan sudah mulai ada pada suatu kalangan yang luas di negri ini.

Pengaruh kebudayaan Barat atau Eropa yang juga masuk ke dalam kebudayaan Indonesia dalam rangka kolonialisme Belanda, ialah tersebarnya agama Kalotik dan Kristen Protestan (terutama aliran Calvinisme) penyiaran terutama dilakukan di daerah-daerah dengan peduduk yang belum pernah mengalami pengaruh Hindu-Budha, atau yang belum memeluk agama Islam.

Selain itu, hasil kebudayaanm Barat di Indonesia juga dapat disaksiakan sampai sekarang dimana masih terdapatnya gedung-gedung tua yang bergaya Eropa, terutama dikota-kota besar seperti Bndung, Jakarta, Surabaya, Semarang dan beberapa kota di luar Jawa. Gedung-gedung tersebut tetap berdiri kokoh sampai sekarang dan masih digunaan untuk kantor-kantor pemerintah, markas militer, bandk, rumah sakit dan lain-lainnya,
 DAFTAR PUSTAKA
Sapriya, dkk.(2006). Konsep Dasar IPS. Bandung: UPI PRESS


Saturday, September 24, 2016

Resume Struktur Ilmu-Ilmu Sosial (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Antropologi, Sosiologi, Politik, Dan Psikologi Sosial)

0




A. Pengertian Struktur Ilmu-Ilmu Sosial

1. Pengertian struktur sosial secara umum

       Kata struktur berasal dari bahasa latin (structum). Struktur sosial adalah kumpulan individu dengan pola prilaku yang beragam. Struktur sosial juga dapat diartiakan sebagai sebuah bangunan sosial yang tersusun atas berbagai unsur pembentuk masyarakat.

2. Pengertian struktur sosial menurut para ahli

Pengertian struktur sosial menurut para ahlisebagai berikut:

a. SoerjonoSoekanto→struktur sosial adalah suatu tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang mangakibatkan timbal balik dalam masyarakat.

b. Raymond Firth→struktur sosial adalah pergaulan hidup manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang terbentuk dari banyak individu, dan meliputi berbagai tipe kelompok serta lembaga. Dimana didalamnya terdapat orang yang ambil bagian.

       Jadi, kesimpulan menurut para ahli diatas bahwa struktur sosial adalah suatu pola hubungan timbal balik antara individu atau kelompok kecil maupun besar sehingga individu atau kelompok tersebut bisa berperan dalam masyarakat.

B. Struktur Ilmu-Ilmu Sosial dalam Berbagai Konseptual

       Pada bagian berikut ini diuraikan beberapa disiplin ilmu sosial. Secera garis besar sruktur dari setiap disiplin meliputi pula contoh-contoh yang tersesun dalam kerangka sebagai berikut :

1. Model inkuri

       Model inkuri yaitu, model pembelajaran penemuan. Pembelajaran inkuri membuat siswa untuk bisa mencari dan menyelidiki suatu masalah dengan cara sistematis, kritis, logis, dan di analisis dengan baik.

Model inkuri terdiri atas 2 bagian:

a. Masalah yang dipertanyakan

b. Metode (alat) penelitian

2. Struktur ilmu pengetahuan

Terdiri atas 2 bagian :

a. Konsep

Adalah: Penanaman (pemberian tabel) terhadap sesuatu untuk membantu manusia mengenal dan memahami sesuatu tersebut.

b. Generalisasi

Adalah: Sebuah pernyataan yang disusun dari sejumlah konsep yang membentuk makna tertentu masih perlu diuji atau dibuktikan kebenarannya melalui proses penelitian.

       Uraian dibawah ini, hanyalah struktur yang bersifat umum. Semua daftar pertanyaan, metoda, konsep, dan generalisasi tentu saja belum lengkap. Namun beberapa contoh dapat mewakili dan menyajikan untuk mengembangkan tujuan pengetahuan bagi pembelajaran IPS.

       Berikut pembahasan tentang disiplin ilmu-ilmu sosial secara konseptual.

1. Struktur ilmu sosial Sejarah

       Sejarah adalah studi tentang kehidupan manusia dimasa lampau.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau?

2) Sejauh mana sebab dan akibat dari peristiwa-peristiwa masa lalu dapat dibentuk?

3) Apakah masyarakat yang besar mencipakan peristiwa yang besar?

b. Metode penelitian

1) Analisis dokumen umum

2) Analisis dokumen pribadi

3) Analisis peninggalan-peninggalan bangunan

4) Wawancara

5) Observasi peristiwa-peristiwa sekarang

c. Konsep-konsep sejarah

       Perubahan, waktu, masa lampau, penyimpangan pribadi, nilai-nilai, penyimpangan budaya, peristiwa sejarah, abad, kepercayaan, sebab dan akibat, catatan sejarah, parang saudara, pertempuran, pemimpin agama, karya seni, penjelajah, pemimpin sosial, kemajuan, peperangan, sisrem ekonomi, pemerintahan, pemimpin politik, kekuasaan, perjanjian dan masih banyak lagi.

d. Generalisasi

1) Perubahan yang terus menerus telah menjadi kondisi yang umum bagi masyarakat manusia selamanya

2) Peristiwa sejarah yang komplek tidak dapat dijelaskan satu persatu hubungan sebab akibat yang sama

3) Peristiwa-peristiwa masa lampau mempengaruhi peristiwa-peristiwa masa kini

2. Struktur ilmu sosial Geografi

       Geografi itu sendiri adalah mempelajari permukaan bumi dan bagaimana manusia mempengaruhi serta dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Mengpa manusia hidup ditempat itu?

2) Mengapa penduduk manusia tersebar tidak merata?

3) Sejauh mana bumi membagi manusia?

4) Sejauh mana manusia membagi dunia?

b. Metode penelitian:

1) Survey

2) Kerja lapangan

3) Pemetaan

4) Table dan grafik

5) Deskipsi wilayah

c. Konsep Geografi

       Bentuk tanah, sumber-sumber alam, peta, sumber-sumber air, symbol peta, arah, wilayah waktu, ras, lokasi, iklim, penduduk, sistem transportasi, pegunungan, samudra, gurun, sungai, hutan, garis lintang dan garis bujur, ketinggian tanah, peternakan, tumbuh-tumbuhan, panen, jalur perdagangan, pola pemukiman, pekakas, penggunaan jalan, migrasi, belahan bumi, dan masih banyak lagi

d. Generalisasi

1) Karena kemajuan pembangunan ekonomi, manusia terus menerus mengubah permukaan bumi (dengan membuka lahan, membangun bendungan, mengotori udara dan air)

2) Pekembangan perternakan mengakibakan perubahan dalam kegiatan mencari nafkah dan pola-pola pemukiman

3. Struktur sosial Ekonomi

Ekonomi sendiri adalah adalah stuatu studi tentang bagaiman langkanya sumber-sumber dimanfaatkan untuk memenuhi keinginan-keinginan manusia yang tidak terbatas.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Bagaimana manusia mengalokasikan sumer-sumber yang langka dalam kondisi permintaan yang tidak terbatas?

2) Bagaimana para konsumen memutuskan tentang apa dan berapa banyak harus melakukan konsumsi barang?

3) Bagaimana barang dan jasa diproduksi didistribusikan kepada masyarakat konsumen yang memerlukan?

b. Metode penelitian:

1) Survey

2) Studi kasus

3) Pengembangan dan pengujian model secara teoritis

4) Perbandingan antar bangsa

5) kontruksi table, bagan, dan grafik

c. KonsepEkonomi

       Kelangkaan, jumlah produsen, jumlah permintaan, jumlah penawaran, kebutuhan ekonomi, komsumsi, upah, spesialisasi, pembeli dan penjual, produkdi, barang kepentingan umum, penghhematan, pasar, bunga, harga kesempatan pajak, pengangguran, sistem ekonomi, kemiskinan, barter, pertubuhan ekonomi dan banyak lagi.

d. Generalisasi

1) Perubahan teknologi sering mengakibatkan peningkatan produktivitas dan perubahan dalam jenis barang yang dihasilkan

2) Alattukar (uang) diperlukan dalam ekonomi yang berdasarkan pada spesialisasi dan perubahan

4. Struktur ilmu sosial Antropologi

       Antropologi yaitu pempelajari tentang budaya manusia yang dimulai dari kebudayaan pra-sejarah (kebudayaan yang diciptakan sebelum lahirnya zaman sejarah) sampai kebudayaan pada zaman modern sekarang ini.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Apakah hakekat kebudayaan?

2) Bagaimana kebudayaan itu berkembang dan berubah?

3) Bagaimana limgkungan alam itu mempengaruhi kebudayaan?

b. Metode penelitian

1) Observasi tentang prilaku sekitar

2) Wawancara

3) Penggalian

4) Analisis bahasa

5) Deskripsi aspek-aspek fisik tentang budaya (perkakas, perumahan)

c. KonsepAntropologi

       Kebudayaan, sifat-sifat kebudayaan, kelurga kecil, artefak, tingkat perkembangan teknologi, praktek pemeliharaan anak, difudi, tradisi, perumahan, pakaian, bahasa, kebiasaan dan sebagainya.

d. Generalisasi

1) Dengan kebudayaan (suatu sistem kepercayaan, nilai, kebiasaan, dan prilaku) anggota masyarakat dapat berinteraksi dengan sesamanya dan dengan lingkunagan fisik umtuk memperoleh kebutuhan dasar hidup

2) Apabila manusia tidak memiliki kecakapan untuk mengembangkan bahasa yang komplek, manusia tidak dapat mengembangkan kebudayaan

5. Struktur ilmu sosial Sosiologi

Sosiologi yaitu mempelajari prilaku manusia dalam kelompok-kelompok.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Bagaimana inovasi teknologi mempengaruhi institusi sosial?

2) Bagaimana kelompok-kelompok membuat keputusan ?

3) Bagaimna kelompok memecahkan masalah?

4) Bagaimna perubahan dalam institusi terjadi?

b. Metode penelitian:

1) Wawancara

2) Pertanyaan-pertanyaan

3) Observasi partisipasi

4) Studi kasus

5) Studi longitudinal

6) Observasi naturalistic

c. Konsep Sosiologi

       Kelompok, istitusi, sosialisasi, peranan-peranan sosial, kelurga, ras, masyarakat, tindakan kekerasan, nilai-nilai, norma-norma, kelompok, etnik, peranan jenis kelamin, status sosial, konflik kelompok, organisasi sosial, sratifikasi, jumlah penduduk dan lain sebagainya.

d. Generalisasi

1) Perbedaan dalam nilai kelompok (ideologi) bisa mengakibatkan konflik atau tindakan kekerasan

2) Dalam suatu organisasi sosial, tindakan kekerasan dapat meletus apabila perbedaan nilai tidak diselesaikan

6. Sruktur ilmu sosial Politik

       Ilmu politik adalah mempelajari tentang kebijakan umm (public policies). Mereka tertari dengan perkembangan dan penggunaan kekuasaan manusia didalam masyarkat, khususnya yang tercermin dalam peerintahan.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Bagaimana asalnya pemerintahan dan organisasi politik lainnya?

2) Bagaimana pemimpin dan atau organisasi politik memperoleh kekuasaan?

3) Apakah tujuan peayanan dari organisasi politik?

4) Bagaiman keputusan-keputusan politik dibuat?

b. Metode penelitian:

1) Analisis dokumen-dokumen resmi

2) Analisis undang-undang dan keputusan-keputusan pengadilan

3) Analisis sistem

4) Wawancana

5) Survey

6) Studi kasus

7) perbandingan sistem politik yang berbeda-beda

c. KonsepPolitik

       Kekuasaan, organisasi, masyarakat, Negara, bangsa-bangsa, tanggung jawab, kebebasan politik, keputusan kebijakan, aturan mayoritas, hak asasi mansia, proses pengambilan, keputusan partai politik, undang-undang, peraturan, anggota dewan legislativ, pemimpin politik, unit-unit politik, kelompok keagamaan, pemilihan umum, sistim ploitik, pajak, warga Negara, otokrasi, dan lain sebagainya.

d. Generalisasi

1) Kebebasan politik merupakan ide yang dapat dilaksanakan, hanya apabila diimbangi dengan tanggung jawab politik

2) Keputusan-keputusan politik merupakan pertimbangan-pertimbangan nilai

3) Hukum merupakan mekanisme yang efektif untuk perubahan sosial

7. Struktur ilmu sosial Psikologi Sosial

       Arti dari psikologi social adalah mempelajari prilaku individu-individu dan kelompok-kelompok kecil individu.

a. Masalah yang dipertanyakan:

1) Apakah yang membuat seetiap ornag itu berbeda?

2) Factor-faktor apakah yang mempengaruhi konsep diri?

3) Apakah hakekat berfikir itu?

4) Bagaimana belajar itu terjadi?

5) Bagaimana faktor pembawaan, lingkungan, dan lingkungan belajar mempengaruhi prilaku?

b. Metode

1) Observasi naruralistik

2) Eksperimentasi laboratorium

3) Wawancara

4) Pertanyaan tertulis

5) Studi kasus

6) Observasi partisipasi

c. Konsep Psikologi Sosial

       Belajar, prilaku instik, prilaku yang dipelajari, ingatan, pengkondisian kelas, pemecahan masalah, hukuman, sifat-sifat klise, hadiah, stimulus, presepsi, bahasa, respon, pengukuran, motivasi, sikap, perasaan, keterampilan sosial, IQ, perkembangan, keturunan, lingkungan, dan sebagainya.

d. Generalisasi

1) Prilaku lebih memungkinkan dipelajari dan diulang apabila individu memperoleh hadiah

2) Apabila belajar terjadi, maka ada perubahan yang relative tetap dalam kemampuan prilaku


DAFTAR PUSTAKA

Sapriya, dkk. (2006). Konsep Dasar IPS. Bandung: UPI PRESS
Soerjo Soekanto.(2007).Sosiologi suatu Pengantar.Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta.