Skinpress Rss

Showing posts with label Catatan Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kuliah. Show all posts

Thursday, November 23, 2017

BLOG SONIA || Apa Itu Perubahan Sosial ? Adakah Pada Saat Sekarang?

0

PERUBAHAN SOSIAL

sumber photo : http://www.pengertianku.net/2016/08/pengertian-perubahan-sosial-secara-umum-dan-faktornya.html


A. DEFINISI PERUBAHAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat, dari yang bersifat individual sampai yang lebih kompleks. Perubahan sosial dapat dilihat dari segi terganggunya kesinambungan di antara kesatuan sosial walaupun keadaannya relatif kecil. Perubahan ini meliputi struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek yang dihasilkan dari interaksi antarmanusia, organisasi atau komunitas, termasuk perubahan dalam hal budaya.

Perubahan sosial terbagi atas dua wujud sebagai berikut :

1) Perubahan dalam arti kemajuan (progress) atau menguntungkan.

2) Perubahan dalam arti kemunduran (regress) yaitu yang membawa pengaruh kurang menguntungkan bagi masyarakat.

Jika perubahan sosial dapat bergerak ke arah suatu kemajuan, masyarakat akan berkembang. Sebaliknya, perubahan sosial juga dapat menyebabkan kehidupan masyarakat mengalami kemunduran.

Adanya pengenalan teknologi, cara mencari nafkah, migrasi, pengenalan ide baru, dan munculnya nilai -nilai sosial baru untuk melengkapi ataupun menggantikan nilai – nilai sosial yang lama merupakan beberapa contoh perubahan sosial dalam aspek kehidupan. Dengan kata lain, perubahan sosial merupakan suatu perubahan menuju keadaan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya.

Ada dua faktor yang dapat menyebabkan terjadi perubahan sosial, yaitu faktor yang berasal dari dalam masyarakat dan juga faktor yang berasal dari luar masyarakat. Faktor yang bersumber dari masyarakat itu sendiri meliputi : bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, dan terjadinya pemberontakan atau resolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Sedangkan, faktor yang berasal dari luar masyarakat meliputi : sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, peperangan dengan negara lain, dan pengaruh kebudayaan lain.

Selain adanya faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, adapula faktor yang mendorong dan juga menghambat perubahan sosial. Faktor yang mendorong terjadinya perubahan yaitu : kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan yang lebih maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju, toleransi, sistem lapisan masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, orientasi ke muka, dan juga nilai meningkatkan taraf hidup.

Faktor yang menghambat terjadinya perubahan soaial adalah : kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang tradisionalistis, adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat, rasa takut akan terjadinya kegoyahan kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal yang baru, hambatan ideologis, kebiasaan dan nilai pasrah.

B. PENDAPAT PARA AHLI TENTANG PERUBAHAN SOSIAL

Para sosiolog dan antropolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai perubahan sosial. Berikut ini adalah para ahli beserta pendapat mereka mengenai perubahan sosial :

1. William F. Ogburn (1964), mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan material dan immaterial, yang ditekankan pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.

2. Kingsley Davis (1960), mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan yang selanjutnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.

3. Mac Iver (1937: 272), mengartikan bahwa perubahan sosialsebagai perubahan dalam hubungan sosial (perubahan yangdikehendaki dan perubahan yang tidak dikehendaki) atausebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium)hubungan sosial.

4. Gillin dan Gillin (1957: 279), mengartikan perubahan sosialadalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baikkarena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaanmaterial, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karenaadanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalammasyarakat

5. Selo Soemardjan (1962: 379), merumuskan perubahan sosial sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

6. Samuel Koenig (1957: 279), mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi dapat disebabkan oleh faktor intern dan ekstern.

7. Sugihen (1982), mengkaitkan perubahan sosial dengan beberapa kata lain yang merujuk pada proses sosial yang sama, seperti : industrialisasi, modernisasi, dan pembangunan.

8. Merton (1957;1964), mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan fungsi manifestasi dari suatu rekayasa sosial lewat upaya pembangunan yang dilambangkan atau diwujudkan dalam kegiatan industralisasi menuju suatu masyarakat modern.

9. Rogers, et. al. (1988), memahami bahwa perubahan sosial adalah suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan di dalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan. Ada 3 tahapan utama dalam proses perubahan sosial yang terjadi. Pertama, berawal dari diciptakannya atau lahirnya sesuatu yang berkembang menjadi suatu gagasan. Bila gagasan tersebut sudah menggelinding seperti roda yang berputar pada sumbunya, dan sudah tersebar di kalangan masyarakat maka perubahan tersebut sudah memasuki tahap kedua. Tahapan yang ketiga yaitu disebut dengan hasil, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu sistem sosial yang bersangkutan sebagai akibat dari diterimanya, atau ditolaknya suatu inovasi.

10. Larson dan Rogers (1964), mengemukakan pengertian tentang perubahan sosial yang dikaitan dengan adopsi teknologi yaitu perubahan sosial merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam suatu bentangan waktu tertentu. Pemakaian teknologitertentu oleh suatu warga masyarakat akan membawa suatu perubahan sosial yang dapat diobservasi lewat perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.



C. TIPE – TIPE PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial dapat terjadi dalam segala bidang yang wujudnya dapat dibagi menjadi beberapa bentuk. Beberapa bentuk perubahan sosial menurut Soekanto, yaitu sebagai berikut :

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat.

Perubahan terjadi secara lambat akan mengalami rentetan, perubahan yang saling berhubungan dalam jangka waktu yang cukup lama. Perkembangan perubahan ini termasuk dalam evolusi. Perubahan secara evolusi dapat diamati berdasarkan batas waktu yang telah lampau sebagai patokan atau tahap awal sampai masa sekarang yang sedang berjalan. Adapun penentuan kapan perubahan tersebut terjadi, bergantung pada orang yang bersangkutan.

Perubahan sosial yang terjadi secara cepat mengubah dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, perubahan itu dinamakan revolusi. Contohnya, Revolusi Industri di Eropa. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan besar-besaran dalam proses produksi barang-barang industri. Contoh lain Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang mengubah tatanan kenegaraan dan sistem pemerintahan NKRI.

2. Perubahan yang Pengaruhnya Kecil dan Perubahan yang Pengaruhnya Besar

Perubahan yang pengaruhnya kecil adalah perubahan yang memengaruhi unsur-unsur kehidupan masyarakat. Akan tetapi, perubahan ini dianggap tidak memiliki arti yang penting dalam struktur sosial. Contohnya, perubahan mode pakaian yang tidak melanggar nilai sosial. Perubahan yang pengaruhnya besar adalah perubahan yang dapat memengaruhi lembaga-lembaga yang ada pada masyarakat. Misalnya, perubahan sistem pemerintahan yang memengaruhi tatanan kenegaraan suatu bangsa.

3. Perubahan yang Dikehendaki dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki

Perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau disebut juga perubahan yang direncanakan (planned-change) merupakan perubahan yang memang telah direncanakan sebelumnya terutama oleh pihak yang memiliki wewenang untuk mengeluarkan kebijaksanaan. Misalnya, penerapan program Keluarga Berencana(KB) untuk membentuk keluarga kecil yang sejahtera dan menurunkan angka pertumbuhan penduduk.

Perubahan yang tidak dikehendaki (unintended-change)atau disebut juga perubahan yang tidak direncanakan (unplanned-change) umumnya beriringan dengan perubahan yang dikehendaki. Misalnya adanya pembuatan jalan baru yang melalui suatu desa maka sumber alam desa akan mudah dipasarkan ke kota. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan penduduk desa akan meningkat. Meskipun begitu lancarnya hubungan desa dengan kota menyebabkan mudahnya penduduk desa melakukan urbanisasi dan masuknya budaya kota terutama yang bersifat negatif, seperti mode yang dipaksakan, minuman keras, VCD porno, dan keinginan penduduk desa untuk memiliki barang-barang mewah.

D. PERUBAHAN SOSIAL YANG TERJADI DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

Sekarang ini banyak sekali perilaku yang menunjukkan perubahan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Di lingkungan tempat tinggal saya pun terjadi berbagai macam perubahan sosial, seperti :

1. Perubahan Jumlah Penduduk

Dahulu, sepasang suami istri memiliki anak yang lebih dari dua, misalnya lima, atau enam bahkan lebih. Dengan adanya program Kelurga Berencana (KB), saat ini sepasang suami istri hanya mempunyai 2 orang anak. Selain dipengaruhi oleh kelahiran perubahan jumlah penduduk di lingkungan saya juga disebabkan oleh adanya kematian dan juga perpindahan penduduk. Banyak masyarakat yang berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan tetapi juga sebaliknya banyak penduduk yang dari kota berpindah ke desa.

2. Perubahan Kualitas Penduduk

Masyarakat di taun-taun yang lampau hanya menempuh pendidikan sampai Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah saja, namun sekarang masyarakat telah banyak yang menempuh pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Dengan demikian pengetahuan yang dimiliki semakin bertambah, hal ini sebagai akaibat positif dengan terjadinya perubahan.

Akan tetapi, selain memberikan dampak positif bagi kualitas penduduk, perubahan sosial juga menimbulkan dampak negatif yang berupa penurunan moral yang dimiliki oleh masyarakat. Penurunan moral ini sering terjadi pada anak muda, hal ini dapat dilihat pada perilaku yang kurang sopan dalam masyarakat. Misalnya ketika jalan/lewat di depan warga masyarakat tanpa memberi salam, berbicara yang kurang sopan kepada orang lain. Selain itu, banyak juga masyarakat yang tidak mentaati peraturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Misalnya tentang peraturan lalu lintas.

3. Perubahan Sistem Pemerintahan

Perubahan sisitem pemerintahan yang terjadi dalam negara, juga mempunyai pengaruh bagi pemerintahan suatu dusun. Misalnya dalam suatu pengambilan keputusan dalam suatu musyawarah. Di lingkungan tempat tinggal saya pengambilan keputusan dilakukan melalui demokrasi yaitu melalui musyawarah mufakat.

4. Perubahan Mata Pencaharian

Dahulu, Mata pencaharian penduduk di lingkungan saya sebagaian besar adalah sebagai petani, namun dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan yang mereka miliki, saat ini banyak yang menjadi pegawai negeri, karyawan suatu perusahaan, dan juga ada yang pergi merantau bekerja ditampat lain.

5. Perubahan Gaya Hidup

Seiring dengan perkembangan jaman, gaya hidup masyarakat pun berubah. Saat ini gaya hidup konsumtif sudah menjangkit sampai di lingkungan pedesaan. Warga masyarakat memiliki keinginan untuk berbelanja yang tinggi. Contoh perilaku konsumtif masyarakat dapat dilihat misalnya pada gaya berpakaian. Setiap hari selalu ada model pakain baru yang ditawarkan baik di toko maupun di pasar. Warga masyarakat yang merasa mampu tentunya tidak ingin ketinggalan. Selain itu, dengan adanya perubahan sosial, masyarakat mempunyai pandangan bahwa produk dari luar negeri lebih baik dari pada produk dari dalam negeri.

6. Perubahan karena Adanya Teknologi

Dahulu, para petani di lingkungan tempat tinggal saya masih menggunakan bantuan tenaga hewan dalam mengerjakan/membajak sawahnya dan juga dibantu oleh tetangga dalam menanam padi atau tanaman lainnya. Namun saat ini, dengan berkembangnya teknologi, para petani telah menggunakan traktor dalam membajak sawah dan juga sudah menggunakan mesin perontok padi untuk mengolah hasil panenannya.

Selain teknologi dalam bidang pertanian, teknologi yang berkaitan dengan komunikasi pun berkembang pesat. Dahulu, apabila ingin berkomunikasi jarak jauh memerlukan waktu yang lama. Akan tetapi, alat komunikasi saat ini sudah canggih. Misalnya melalui telepon seluler yang saat ini satu orang tidak hanya memiliki satu alat komunikasi tersebut. Bahkan, sekarang anak usia remaja bahkan yang masih anak-anak sekalipun telah mengenal apa itu facebook, email, twitter, dan lain sebagainya

7. Perubahan Budaya

Perubahan budaya yang terjadi dalam lingkungan masyarakat dapat dilihat pada perilaku anak muda saat ini. Banyak yang meniru trend-trend atau budaya masyarakat barat, misalnya cara berpakaian. Sekarang ini, jarang sekali anak muda yang mau mengenakan pakaian adat Jawa (Jogja), begitupun dalam acara pernikahan. Mereka bilang terlalu ribet.

Selain itu, contoh-contoh hasil kebudayaan seperti, angklung, gamelan, kesenian ketoprak, lagu-lagu tradisional tidak lagi diminati oleh masyarakat. Bahkan ada warga yang tidak mengetahui kebudayaan daerah tempat tinggalnya sendiri. Sekarang ini, keberadaan kesenian-kesenian tersebut telah tergantikan oleh adanya lagu-lagu pop, rock, dan lain sebagainya.

Monday, September 25, 2017

BLOG SONIA || Pentingnya Bimbingan Konseling

0


BIMBINGAN KONSELING

 
sunber foto : http://zamzamisabiq.blogspot.co.id/2013/01/


A. PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING

Secara etimologis, bimbingan dan konseling terdiri atas dua kata yaitu “bimbingan” (terjemahan dari kata “guidance”) dan “konseling” (diambil dari kata “counseling”). Dalam praktik, bimbingan dan konseling merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Keduanya merupakan bagian yang integral (Tohirin, 2011: 15).

1.Pengertian Bimbingan

a) Pengertian Bimbingan Secara Etimologi

Menurut Winkel dalam Tohirin (2011: 15-16) istilah “bimbingan” merupakan terjemahan dari kata “guidance”. Kata “guidance”yang kata dasarnya “guide”memiliki beberapa arti :

1) menunjukkan jalan (showing the way),

2) memimpin (leading),

3) memberikan petunjuk (giving instruction),

4) mengatur (regulating),

5) mengarahkan (governing), dan

6) memberi nasihat (giving advice).

b) Pengertian Bimbingan Secara Terminologi

1) Miller (1961) dalam Surya (1988), menyatakan bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah (dalam hal ini termasuk madrasah), keluarga, dan masyarakat (Tohirin, 2011: 16-17).

2) Selanjutnya Surya (1988) mengutip pendapat Crow & Crow (1960) menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki pribadi baik dan pendidikan yang memadai, kepada seseorang (individu) dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri (Tohirin, 2011: 17).

3) Menurut Stoops mengemukakan bimbingan adalah suatu proses terus – menerus dalam hal membantu individu dalam perkembangannya untuk mencapai kemampuansecara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar – besarnya bagi dirinya maupun masyarakatnya. (kutipan Djumhur dan M. Surya 1975).

4) Djumhur dan M. Surya memberikan batasan tentang bimbingan, yaitu suatu proses pemberian bantuan terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang di hadapinya, agar tercapai kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, kemampuan untuk menerima dirinya sendiri kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri dan kemampuan untuk merealisir diri sendiri (realization), sesuai dengan potensi dan kemampuan dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan.



Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa BIMBINGAN berarti : bantuan yang diberikan oleh pembimbing kepada individu agar individu yang dibimbing mencapai kemandirian dengan mempergunakan berbagai bahan, melalui interaksi, dan pemberian nasihat serta gagasan dalam suasana asuhan dan berdasarkan norma-norma yang berlaku

2. Pengertian Konseling

a) Pengertian Konseling Secara Etimologi

Istilah konseling diadopsi dari bahasa Inggris “counseling” di dalam kamus artinya dikaitkan dengan kata “counsel” memiliki beberapa arti, yaitu nasihat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel), dan pembicaraan (to take counsel). Berdasarkan arti di atas, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran (Tohirin, 2011: 21-22).



b) Pengertian Konseling Secara Terminologi

1) Mortensen (1964) menyatakan bahwa konseling merupakan proses hubungan antarpribadi d mana orang yang satu membantu yang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya (Tohirin, 2011: 22).

2) James Adam mengemukakan bahwa konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu di mana seorang Counselor membantu Counsele supaya ia lebih baik memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah hidup yang dihadapinya pada waktu itu dan waktu yang akan datang. (kutipan Djumhur dan M. Surya (1975) .

3) Rogers (1982) mengemukakan bahwa konseling adalah serangkaian kegiatan hubungan langsung antar individu, dengan tujuan memberika bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

4) Mortensen dan Schmuller dalam bukunya berjudul Guidance in today’s school (1964) mengemukakan konseling adalah suatu proses hubungan seseorang dengan seseorang di mana yang seseorang di bantu oleh yang lainnya untuk meningkatan pengertian dan kemampuan dalam menghadapi masalahnya.

5) Wren dalam bukunya yang berjudul student person al work in college, berpendapat bahwa konseling adalah pertalian pribadi yang dinamis antara dua orang yang berusaha memecahkan masalah dengan mempertimbangkan bersama sama, sehingga akhirnya orang yang lebih muda atau orang yang mempunyai kesulitan yang lebih banyak di antara keduanya di bantu oleh orang lain untuk memecahkan masalahnya berdasarkan penentuan diri sendiri.

6) Williamson dan Foley dalam bukunya Counseling and Diciplinemengemukakan bahwa konseling adalah suatu situasi pertemuan langsung di mana yang seorang terlibat dalam situasi itu karena latihan dan keterampilan yang dimilikinya atau karena mendapat kepercayaan dari yang lain, berusaha menolong yang kedua dalam menghadapi, menjelaskan, memecahkan, dan menanggulangi masalah penyesuaian diri.

7) Sedangkan menurut American Personnel and Guidance Association (APGA) mendefinisikan konseling sebagai suatu hubungan antara seorang yang terlatih secara profesional dan individu yang memerlukan bantuan yang berkaitan dengan kecemasan biasa atau konflik atau pengambilan keputusan (Tohirin, 2011: 23).



Kesimpulan yang dapat diambil mengenai pengertian KONSELING adalah kontak atau hubungan timbal balik antara dua orang (konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, yang didukung oleh keahlian dan dalam suasana yang laras dan integrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku untuk tujuan yang berguna bagi klien (siswa).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian Bimbingan dan Konseling (BK) adalah proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.



B. PENTINGNYA BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Pada Sekolah dasar benar-benar terdapat sifat formal pendidikan yang berbeda dengan taman kanak-kanak dan pendidikan lingkungan keluarga. Dalam sekolah dasar mulai terdapat pembagian jelas catur -wulan, kenaikan kelas, dan evaluasi lainnya. Tujuan sekolah dasar sudah terumuskan dengan jelas sebagaimana terlihat dalam tujuan institusionalnya.

Suasana belajar merupakan ciri yang amat membedakannya dengan taman kanak-kanak yang lebih pada bermain dibanding kegiatan intelektualnya. Dalam kelas, anak Sekolah Dasar dituntut prestasinya menguasai kurikulum sekolah untuk mencapai angka nilai baik yang menunjang untuk naik kelas. Ringkasnya ada kegiatan mempelajari ilmu dari kurikulum, ada ujian penguasaan, pencapaian prestasi dan promosi atau non promosi.

Pada lain pihak, anak sekolah dasar umumnya berada dalam rentang usia 6 samapai 12 atau 13 tahun dengan sifat-sifat umum dan variasi keunikannya. Disamping kesamaan umum dalam sifat-sifat usia ini, terdapat perbedaan yang menonjol dalam tempo dan irama perkembangan masingmasing anak. Terdapat perbedaan kecepatan antara anak-anak pria dibandingkan dengan anak-anak wanita. Demikian pula, dilihat dari segi pengalaman pendidikan, terdapat dua kelompok anak: anak-anak yang pernah melalui taman kanak-kanak dan anak yang langsung memasuki sekolah dasar.

Dalam melaksanakan bimbingan sekolah dasar dip ertimbangkan segisegi tuntutan eksternal dari lembaga dan segi keadaan anak dalam usia ini, sehingga bimbingan sekolah dasar berperan dalam menunjang pencapaian tuntutan-tuntutan kelembagaan tadi.



C. MASALAH APA SAJA YANG DAPAT DISELESAIKAN DI BIMBINGAN KONSELING

Dalam perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan, baik oleh individu secara perorangan maupun kelompok. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri, juga berpengaruh kepada orang lain atau lingkungan sekitarnya.

Pada hakekatnya, proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi kediriannya yang matang, dengan kemampuan sosial yang baik, kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketakwaan yang dalam. Namun pada kenyataannya, sering dijumpai keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, tingkat kesosialan dan kesusilaan yang rendah, serta tingkat keimanan dan ketakwaan yang dangkal.

Ketidakmampuan setiap individu untuk mewujudkan perkembangan yang optimal pada ke empat dimensi (individualitas, sosialitas, moralitas, dan relegiusitas) tersebut dikarenakan oleh berbagai permasalahan yang dialami selama proses perkembangannya. Masalah merupakan sesuatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang menimpa seseorang bila dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun ciri-ciri masalah adalah sebagai berikut:

1. Masalah yang muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das sollen) dan kenyataan (das sein).

2. Semakin besar kesenjangan, maka masalah semakin berat.

3. Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda.

4. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun oleh lingkungan.

5. Masalah timbul akibat dari proses belajar yang keliru.

6. Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar yang perlu dijawab.

7. Masalah dapat bersifat individual maupun kelompok.

a) Kriteria Masalah

Pada dasarnya, masalah ditandai oleh adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Namun, tidak semua masalah perlu ditangani melalui pendekatan konseling. Suatu masalah perlu ditangani melalui konseling, bila memenuhi kriteria tertentu. Pada dasarnya, masalah tersebut berasal dari suatu masalah yang cukup serius, cukup mengguncangkan pribadi konseli, masalah tersebut senantiasa mencekam sehingga pikiran dan perasaan konseli tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan berpengaruh terhadap perubahan fisiologik tubuh. Disisi lain, masalah tersebut sudah berada diluar jangkauan konseli untuk mereda, menghalau ataupun untuk menyelesaikannya sendiri. Sementara itu, bila masalah tersebut tidak diatasi maka akan merugikan diri sendiri maupun pihak lain, terjadinya hambatan perkembangan, penyimpangan sikap dan perilaku, salah perilaku dan inadekuat lain.

Selanjutnya, secara sadar konseli butuh bantuan dari orang lain untuk menghadapi, mengatasi, dan memecahkan masalahnya yang berada di luar kemampuannya. Jadi, masalah tersebut perlu digarap dengan cara-cara khusus, cara-cara yang memadai. Dengan kata lain, masalah tersebut diatasi dengan bantuan orang lain yang memiliki kompetensi atau keahlian sesuai dengan karakteristik dan kadar permasalahanya perlu penanganan secara profesional.

Meski masalah tersebut cukup serius dan sifatnya spesifik, menimbulkan ketegangan, kecemasan, ketakutan, frustasi ataupun konflik namun masalah tersebut masih dalam jangkauan profesi bimbingan dan konseling, masih dalam kategori “normal”, belum termasuk “abnormal”. Bila masalah konseli mencapai kadar yang sangat berat, neuosus, diluar jangkauan konselor, maka perlu di “referal” kepada psikologis klinis. Terlebih-lebih bila diagnosa masalah mengidentifikasi adanya simtoma abnormalitas atau psikosis, maka merupakan kewenangan psikiater untuk menanganinya.

Berikut ini adalah kriteria masalah dalam konseling secara prinsip, antara lain:

1. Masalah sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang tergolong serius, sifatnya khas dan cukup mengguncangkan kehidupan secara sosial maupum pribadi dari konseli. Masalah yang dihadapi oleh konseli itu mempengaruhi kehidupan pribadi maupun sosial dari konselinya.

2. Masalah yang cukup serius itu, selalu mengganggu pikiran dan perasaan, serta masalah tersebut diluar jangkauan subjek untuk mangatasi atau menyelesaikan sendiri. Masalah tersebut adalah suatu masalah dimana konseli sudah merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dirinya sendiri. Maka, disini konseli membutuhkan bantuan dari konselor untuk membantu salam upaya pemecahan masalahnya tersebut.

3. Bila masalah tersebut tak terpecahkan ataupun tak terselesaikan, maka akan mengakibatkan kerugian bagi subjek maupun pihak lain yang boleh jadi berdampak memunculkan masalah baru. Jika suatu masalah yang dihadapi oleh konseli tidak segera terpecahkan atau terselesaikan, maka masalah tersebut dapat memunculkan suatu masalah yang baru dan akan mengganggu kehidupan dari konseli. Oleh sebab itu, suatu masalah yang dihadapi oleh konseli harus secepatnya dapat terselesaikan dengan baik.

4. Pada gilirannya, konseli butuh bantuan pertolongan untuk memecahkan masalahnya secara memadai, sehingga dapat mengembangkan pribadi yang “balance”, produktif dan sehat. Konseli akan selalu membutuhkan pertolongan bantuan dari seorang konselor dalam upaya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Setelah memperoleh bantuan dari konselor, maka diharapkan konseli mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal, serta dapat hidup dengan seimbang, produktif, dan sehat.

5. Dengan kata lain, masalah tersebut perlu ditangani secara profesional oleh figur yang kompeten dan berwenang. Dalam menangani suatu permasalahan yang dihadapi oleh konseli memang sudah seharusnya ditangani oleh orang yang profesional dan sudah ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Jika dalam menangani suatu masalah itu tidak ditangani oleh orang yang sudah profesional, maka akan menjadi ketakutan, apabila pemecahannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konseli atau tidak sesuai dengan tugas perkembangan dari konseli yang bersangkutan.

6. Akhirnya, masalah yang dimaksud berada dalam ruang lingkup kewenangan konselor yaitu masalah-masalah melanda pada orang-orang normal. Seorang konselor hanya akan membantu memecahkan masalah dari konseli yang masih dalam keadaan normal, atau tidak sedang mengalami gangguan jiwa (abnormal). Jika konseli sudah berada dalam suatu keadaan yang abnormal, maka hal itu sudah tidak menjadi kewenangan dari seorang konselor. Dengan kata lain, masalah itu bisa dialih tangankan kasus ke orang yang lebih ahli, misalnya seorang psikiater.

b) Jenis-Jenis Masalah

Berikut ini ada beberapa masalah yang dialami oleh para remaja di sekolah menengah, antara lain:

1. Masalah emosi

Secara tradisional, masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang kurang tampak irasional.

Hal ini dapat dilihat dari gejala yang nampak pada mereka, misalnya mudah marah. Keadaan seperti ini sering kali menimbulkan berbagai permasalahan khususnya dalam kaitannya dengan penyesuaian diri di lingkungannya. Sekolah sebagai lembaga formal yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk membantu subjek didik menuju kearah kedewasaan yang optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah dan mengatasi masalah emsosional ini.

Misalnya dengan memberikan pelayanan khusus bagi siswa melalui program layanan informasi, layanan konseling, layanan bimbingan dan konseling kelompok. Dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok, anak dapat berlatih bagaimana cara menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara mengemukakan masalah, bagaimana cara mengendalikan diri baik dalam menanggapi masalah sesama anggota maupun saat mengemukakan masalahnya sendiri.

2. Masalah penyesuaian diri

Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis baik dengan sesama remaja maupun dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Pada fase ini remaja lebih banyak di luar rumah bersama dengan teman-temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dipahami jika pengaruh teman sebaya dalam segala pola perilaku, sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar daripada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat bergantung pada pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka salah dalam bergaul.

Dalam keadaan demikian, remaja akan cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan berbagai akibat yang akan menimpa dirinya. Untuk itulah, maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas perkembangan remaja tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat baik lewat kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikuler di sekolah, hal-hal tersebut diharapkan dapat mencegah dan mengatasi kesalahan pergaulan tersebut. Contoh dari masalah penyesuaian diri ini adalah susah dalam hubungan sosial dan mencari teman.

3. Masalah perilaku seksual

Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini, remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis. Sebagai akibatnya, remaja memiliki minat yang tinggi terhadap seks. Seharusnya mereka mencari dan atau memperoleh informasi tentang seluk beluk seks dari orang tua, tetapi pada kenyataannya mereka lebih banyak mencari informasi dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya dari teman sebaya yang sama-sama kurang memahami arti pentingnya seks, dari internet, media elektronik, dan media cetak yang kadang-kadang lebih menjurus ke pornografi. Sebagai akibat dari informasi yang tidak tepat tersebut dapat menimbulkan perilaku seks remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak dilakukan, misalnya berciuman ataupun masturbasi. Bagi generasi muda sekarang ini, hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang dianggap normal dan benar. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap benar apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling merasa terikat. Untuk menanggulangi dan mengatasi masalah seperti itu, sekolah hendaknya melakukan tindakan-tindakan yang nyata, misalnya pendidikan seks (seks education).

4. Masalah perilaku sosial

Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang berbeda. Dengan perilaku-perilaku sosial seperti ini, maka akan dapat melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada remaja tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut, sekolah sebenarnya dapat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan tidak memperhatikan latar belakang suku, agama, ras, an sosial ekonomi. Sekolah harus mampu memperlakukan siswa secara sama, dan tidak membeda-bedakan siswa yang satu dengan siswa lainnya.

5. Masalah moral

Masalah moral yang terjadi pada remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, ataupun dalam kelompok remaja. Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dengan mana yang salah dapat membawa masalah bagi kehidupan remaja pada khususnya dan pada semua orang pada umumnya. Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang demikian, maka sekolah sebaiknya menyelenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan dan meningkatkan budi pekerti. Contoh dari masalah moral ini adalah mencontek saat ujian.

6. Masalah keluarga

Di dalam sekolah menengah, sering ditemukan berbagai permasalahan remaja yang penyebab utamanya adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dengan orang tua. Seperti yang telah dikemukakan oleh Hurlock (dalam Mugiarso, 2011: 98), sebab-sebab umum pertentangan keluarga selama masa remaja adalah standar perilaku, motode disiplin, hubungan dengan saudara kandung, sikap yang sangat kritis pada remaja, dan masalah palang pintu (perbedaan pendapat). Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern itu berbeda. Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mampu mengikuti standar yang modern, sedangkan orang tua bersikeras pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang menjadi sumber perselisihan di antara mereka. Metode-metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua yang terlalu kaku dan cenderung otoriter akan dapat menimbulkan permasalahan dan pertentangan di antara remaja dan orang tua. Salah satu ciri remaja adalah dimilikinya sikap kritis terhadap segala sesuatu, namun bagi keluarga tertentu sering tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis terhadap pola perilaku orang tua dan terhadap pola perilaku keluarga pada umumnya. Sedangkan yang dimaksud dengan masalah keluarga palang pintu adalah peraturan keluarga tentang penetapan jam atau waktu pulang dan mengenai teman-teman dengan siapa remaja itu dapat berhubungan, terutama teman-teman yang lawan jenis. Untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut, maka sekolah harus mampu meningkatkan kerjasama dengan orang tua dari para siswanya.

Prayitno (dalam Mugiarso, 2011: 99) mengelompokkan masalah siswa di sekolah menengah menjadi empat kelompok besar, yaitu:

1) Masalah yang berhubungan dengan dimensi keindividualan, masalah ini berkaitan dengan pribadi (diri sendiri) dari siswa yang bersangkutan.

2) Masalah yang berhubungan dengan dimensi kesosialan, masalah berkaitan dengan bagaimana seorang siswa mampu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

3) Masalah yang berhubungan dengan dimensi kesusilaan, masalah ini berkaitan dengan moral para peserta didik (siswa) pada sekolah menengah.

4) Masalah yang berhubungan dengan dimensi keberagamaan, masalah ini berkaitan dengan ras, suku, dan agama dari masing-masing peserta didik (siswa) pada sekolah menengah.



A. KESIMPULAN

Dari satu segi dapat kita lihat bahwa Bimbingan dan Konseling memiliki arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan terhadap seseorang, atau sekelompok orang. Dari segi lain konseling merupakan alat dalam pemberian bimbingan, konseling juga merupakan alat yang paling ampuh dalam keseluruhan program bimbingan atau dengan kata lain konseling merupakan titik sentral dari keseluruhan kegiatan bimbingan.



Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya. Akan tetapi pada kenyataannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan yang dapat menghambat dan menggangu tercapainya kebahagaiaan tersebut. Demikian juga bagi subjek didik yang berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah yang sedang berada dalam fase masa perkembangan remaja juga mengalami berbagai permasalahan hidup, yang apabila dibiarkan akan mengganggu dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang sedang dilaluinya. Terdapat berbagai jenis masalah yang dialami oleh siswa sekolah menengah, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan dimensi-dimensi kehidupan remaja, yaitu masalah yang bersifat individualitas, sosialitas moraritas, dan keagamaan serta ketakwaan. Dengan demikian, kehadiran layanan bimbingan dan konseling (BK) dalam sekolah, khususnya pada sekolah menengah ini sangat bermanfaat demi tercapainya kehidupan peserta didik yang lebih baik dan agar peserta didik mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Namun, kewenangan seorang konselor untuk membantu konselinya dalam menyelesaikan masalah berada dalam kriteria masalah yang masih normal, bukan kriteria masalah yang sudah abnormal.

Wednesday, September 13, 2017

Mengenal Saya Lebih Dekat

0

Mengenal Saya Lebih Dekat



Foto Sonia Anggya Nita Part II.


Assalamualaikum Wr.wb


Nama saya Sonia anggianita. S, biasanya teman-teman saya memanggil saya sonia. saya lahir di kota kecil nan indah yaitu Bangkinang, Provinsi Riau. pada tanggal 23 September "..." tahun nya dirahasiakan ya. heheheh..

Asal saya dari Pasaman Barat, tepat nya di kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatra Barat. kampung kecil nan elok dipandang tersebut memiliki kekayaan alam yang melimpah, dikelilingi oleh tumbuhan sawit dan juga lahan persawahan bagi para pencari nafkah.

Tak hanya itu budaya dan juga tradisinya masih sangat dijaga dengan baik. dan disana juga banyak sekali tempat wisata-wisata bagi para petualang alam. nah, saya akan menceritakan tentang sebuah tradisi yang ada di Pasaman Barat, disana ada seni musik dikolaborasikan dengan tarian yang bernama gandang sembilan, biasanya Gandang sembilan ditampilkan pada saat acara pernikahan. Dan sampai sekarang diwarisi dari generasi ke generasi.

Uppss, pasti bingung ya... lahirnya dimana kampung nya dimana .. hehehe
tunggu cerita selanjutnya ya

Wassalamualaikum Wr.Wb









Wednesday, August 30, 2017

Gak nyangka ! 5 tips ini bakalan buat kamu menjadi guru kreatif

0

Gak nyangka !! 5 tips ini bakalan buat kamu menjadi guru kreatif 


assalamualaikum wr.wb
Sesungguhnya siswa-siswa yang inspiratif hanya bisa lahir dari guru-guru kreatif
menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang mudah, agar anak murid tidak merasa jenuh akan pelajaran guru harus mengmbangkan ide-ide kreatif mereka.

nah, berikut 5 tips menjadi guru kreatif :


1. Mencintai profesi guru
terlebih dahulu cintai profesi anda, itu akan mudah bagi anda untuk lebih mengembangkan ide - ide kreatif yang anda miliki, jangan cintai juga anak-anak murid nya. :)


2. Jadilah guru yang pembelajar
sempatkan lah di setiap waktu anda untuk menggali pengetahuan, karna guru yang kreatif adalah guru yang tidak selalu puas akan pengetahuan yang ia miliki



3. Berfikir terbuka (open minded)
berfikir luaslah unruk mendapatkan de-ide sebanyak mungkin


4. Menyukai tantangan
guru yang kreatif ialah guru yang menyukai tantangan, baik tantanagn dalam proses belajar mengajar, menghadapi berbagai karakter anak, ataupun tantanagan gajiii.. hehe (uups sorry)


5. Jadilah guru yang komunikatif
kemanpuan komunikasi merupakan tuntutan yang harus dimiliki oleh setiap guru. Maksud komunikatif disini yaitu guru yang tidak suka menggunakan istilah-istilah yang sulit untuk dipahami oleh siswa, apabila ada istilah yang lebih sederhana ia akan menggunakannya untuk lebih dipahami oleh siswa

semoga bermanfaat
terimakasih..


Friday, June 16, 2017

BLOG SONIA : CERPEN || Tas Boneka Beruang

0


 

Tas Boneka Beruang
 by: Sonia
“Akan tersaji keelokan istana dengan taman agungnya di langit kuasa bagi mereka yang meniti hidup tanpa ke putusasaan”



Pagi yang cerah ketika matahari sudah mulai menampakkan cahaya keemasannya. Pagi-pagi sekali Bu Muna sudah menyiapkan bekal sarapan untuk anak-anaknya ke sekolah. Sementara itu, matanya masih kelihatan kelelahan karena semalam melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan malamnya yakni membunggkus kerupuk buatannya. Kerupuk yang sudah digorengnya, dimasukkan kedalam kantong plastik yang berukuran kecil. Sedangkan Odi, anak bungsunya selamam susah tidur, tidak biasanya Odi rewel. Odi masih berusia tiga tahun. Sedangkan kedua anak Bu Muna telah memasuki usia sekolah. Hana adalah anak sulung Bu Muna dengan Pak Ahmad. Hana adalah gadis manis yang ingin tau segala hal. Sedangkan adiknya,Lisa yang dua tahun dibawahnya adalah gadis kecil yang ceria dan selalu murah tersenyum kepada siapa saja yang ia jumpai.

Semenjak Pak Ahmad sakit akibat asma yang dideritanya setahun yang lalu, Pak Ahmad tidak dapat bekerja lagi. Hari-harinya dilalui dirumah saja. Sehingga Bu Munalah yang menggantikan beliau bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan berjualan kerupuk buatannya sendiri ke warung-warung terdekat. Selain itu, untuk menambah kebutuhannya Bu Muna melakukan pekerjaan lainnya, seperti menyetrika pakaian dari rumah ke rumah bahkan menjual sayuran ke pasar. Apapun akan ia lakukan untuk keluarganya.

“Bagaimana keadaan Bapak, Bu?” tanya Bu Lasti ketika di pasar. Bu Lasti adalah penjuan sayur langganan Bu Muna

“Alhamdulilallah sehat, Bu. Tapi ya bagaimana Bapak masih belum bisa kerja yang berat-berat dulu” jawab Bu Muna.

“Oh, syukurlah Bu” seru Bu Lasti.

“Ya, bagitulah Bu. Saya pamit dulu Bu, mau ketoko Pak Mahmud” ucap Bu Muna sambil tersenyum dan meninggalkan Bu Lati yang asyik mengurus sayuran segarnya.

Setiap hari Bu Muna mengalami hari-hari dengan duka cita. Suaminya tidak dapat bekerja lagi, sementara anak-anaknya masih kecil.

“Apa yang akan terjadi pada anaknya kelak, bagaimana dengan masa depan mereka nantinya?” pikir Bu Hana dalam hati.

“Bu....Bu...” panggil Hana pada ibunya di kursi dengan wajah yang bersedih. Seakan-anakan ia tau apa yang dirasakan oleh ibunya. Hana pun mendekati ibunya.

“Bu, ada apa?” kata Hana sambil memegang pundak ibunya

“Oh... kamu sudah pulang , nak? Tanya Bu Muna yang kaget melihat anaknya sudah berada didepannya.

“Iya Bu. Ibu kenapa ?” apa yang Ibu pikirkan?” tanya Hana pada ibunya.

“Tidak ada nak. Mana adik mu Lisa ?” tanya bu Muna yang dari tadi tidak melihat Lisa.

“Lisa belum pulang, Bu. Katanya mau kerumah teman sebentar” jawab Hana.

“Oh ya sudah. Kamu ganti baju sana. Ibu mau melihat adikmu dulu” kata Bu Muna

Ya, bu. Ayah mana Bu?” tanya Hana.

“Ada, dikamar. Ayah mu sedang tidur dengan adikmu nak. Jawab Bu Muna.

Sorepun tiba, Lisa belum juga pulang . Bu Muna merasa cemas, tidak biasanya Lisa berbuat seperti itu. Akhirnya Bu Muna memanggil Hana.

“ Hana......... !!” panggil Bu Muna kepada anak sulungnya tersebut.

“Ada apa, Bu?” sahut Hana.

“Kamu lihat Lisa, ada dimana dia sekarang. Sampai sore begini adikmu belum juga pulang, entah apa yang ia kerjakan diluar disana, Ibu jadi khawatir” ucap Bu Muna dengan wajah cemas.

“Baik, Bu.” Kata Hana sambil berjalan ke arah pintu

Hampir setiap rumah dari temannya Lisa, ia tanyai. Tapi keberadaan Lisa belum ia ketahui. Hana pun mencari ketempat bermain yang biasa adiknya kunjungi, tapi belum juga ia dapatkan. Akhirnya tibalah Hana di toko Pak Saleh. Tempat terakhir ia berpisah dengan adiknya itu. Hanapun menemui Pak Saleh yang kebetulan ada didalam tokonya itu.

“Bapak Bapak lihat Lisa?” tanya Hana

“Ya, tadi dia disini. Katanya dia mau lihat-lihat senbentar. Setelah itu Bapak tidak melihatnmya lagi, karena Bapak sibuk melayani pembeli.

“Oh, baiklah Pak. Terimakasih”. Ujar Hana sambil terus berlalu untuk mencari adiknya itu.

“Apa yang dipikirkan Ibu, jika adik belum ketemu juga, kasihan Ibu”. Pikir Hana dalam hati

Setelah cukup lamaa, Lisa pun ia dapatkan. Dibawah batang pohon yang besar, disanalah adiknya duduk sendiri. Sambilo mengusap peluh diwajahnya, Hanapu menghampiri adiknya itu. Dia melihat Lisa yang sedang menangis. Hanapun khawatis apa ayang telah terjadi pada adiknya itu.

“Lisa... apa yang terjadi dengan mu?” tanya Hana kepada adiknya itu.

“Ada apa Lisa?” tanya Hana kembali karena adiknya tetap diam dan tidak mau menjawab ucapan kakaknya.

Hana pun menghapus wajah adiknya yang basah dengan air mata, Hana melihat adiknya itu. Hana pun mengajak adinya untuk pulang. Pasti Ibunya mengkhawatirkan Lisa yang belum pulang dari sekolah.

“Ayo, kita pulang. Kasihan Ibun di rumah yang dari tadi cemas dengan kamu, Lisa” kaya Hana pada adiknya.

Lisa pun berdiri dari tempat duduknya, dikihatnya wajah kakaknya itu.

“kak... !” sahut Lisa

“Ya, Lisa“. Sahut Hana

“Aku ingin tas seperti yang dimiliki mimi” kata Lisa kepada kakaknya.

“Tapi kamu masih punya tas, itupun masih bagus.” Jawab Hana.

“Tapi aku mau seperti punya mimi, kak. Tas nya lucu, berbentuk boneka. Tadi aku lihat ada yang jual” kata ;isa dengan wajah ceria.

“Dimana kamu melihatnya?” tanya Hana

“Ditoko Pak Saleh” jawab Lisa.

“Oh, begitu. Pantasan tadi kamu tidak mau pulang bareng kakak. Tapi kenapa kamu menangis?” tanya Hana kepada adiknya itu.

“Itu karna tas satu-satunya yang ada di toko Pak Saleh sudah dibeli orang lain.” Jawab Lisa dengan wajah cemberut.

Hana tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu. Hanya karena itu Lisa tidak mau pulang.

“Ya,sudahlah. Kita pulang dulu. Ibu sudah menanti kita dirumah “ sahut Hana samnbil memegang tangan adiknya itu.

“Di rumah nanti Lisa jangan bilang sama Ibu, ya.. “ kata Hana.

“Memang kenapa, kak?”. Tanya Lisa.

“Kasihan Ibu. Nanti Ibu jasi kefikiran. Bukankan barng-barang yang ada ditoko Pak Saleh harganya lumayan mahal.” Kata Hana.

“Ya, kak. Mimi bilang. Aku tidak akan bisa membelinya kaena harganya yang lumayan mahal itu. “ Kata lisa kepada kakak nya.

Hana kasihan melihat adiknya itu, kehidupan mereka saja masih kekurangan. Apalagi untuk membeli barang yang diinginkan Lisa.

Sampailah mereka dirumah . Lisa pun meruti apa yang dikatakan kakanya itu. Setiba disana, Ibu sudah menanti mereka berdua. Dengan wajah cemas, Ibu Muna berusaha tetap tenang. Sementara Pak Ahmadmenggendong Odi di pangkuannya.

“Lisa... Lisa.... kalau sudah pulang sekolah harus pulang dulu keruamh , nak. Ibu jadi cemas memikirkan kamu “ kata Ibu Muna dengan wajah sedih.

“Iya, Bu. Maafkan Lisa. Lisa tidak akan mengulanginya lagi “ jawab Lisa dengan rasa menyesal.

“Ya, sudah. Mandi sana... “ kata Bu Muna sambil mengelus-ngelus kepala anaknya itu. Betapapun marahnya kepada anaknya, tetap saja Bu Muna sanagt sayang kepada mereka semua.

Malam telah menjelang, Hana tidak bisa tidur. Terbayang dengan ucapan adiknya, Lisa yang ingin sekali membeli tas boneka itu. ketika Pak Ahmad, ayahnya sudah merasa sehat apapun yang ingikan Lisa selalu dituruti. Lisa memang adik yang ia sayangi Hana. Setiap kali ayah mereka membelikan sesuatu, Hana selau mengalah kepada adiknya. Apa yang ia sukai selau diberikan kepada Lisa. Sekarang, Hana kasihan mlihat adikna, sementara orang tua mereka tidak mampou membelikannya.

Esok harinya, seperti biasa Bu Muna menyiapkan kerupuknya kewarung-warung. Odi masih tidur, sedangkan Pak Ahmad duduk sambil minum teh panas yang sudah disiapkan istrinya. Hana dan Lisapun sudah siap-siap berangkat kesekolah.

“Pak, kami berangkat ya.” Kata mereka serentak sambil mencium tangan ayahnya.

“Ya, nak. Hati-hati dijalan , ya. Jaga adikmu ya . Hana? Jaab Pak Ahmad.

“Ya, Pak.” Gumam Hana.

Dipinggir jalan, Hana diikuti adiknya dari belakang. “Lisa.... !” sahut Hana menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa kak?” jawab Lisa yahg juga ikut berhenti.

“Nanti pulang sekolah, pulang duluan saja ya..” jawab Hana pada adiknya.

“Memangnya kakak mau kemana?” tanya Lisa.

“Mau kerumah Ratih, ada tugas dari sekolah” jawab Hana.

“Baiklah kak” Kata Lisa kepada kaknya.

Sambil menggandeng tangan adiknya. Akhirnya mereka pun tiba di sekolah. Dan lonceng tanda masuk telah berbunyi. Mereka masuk kedalam kelanya masing-masing. Dan pelajaranpun dimulai. Hari menunjukkan pukul 12.00 siang, udara terasa semakin panas. Lonceng kembali berbunyi menandakan usainya sekolah. Anak-anakpun berhamburan keluar kelas. Lisa yang dari tadi keluar duluan dari kelasnya duduk sambil menunggu dibawah pohom besar yang ada didepan sekolahnya. Tidak lama kemudian, Hanapun keluar dari ruangan kelasnya. Hana menggampiri adiknya itu, ia tersenyum dan teringat akan pesan Ibunya untuk selalu menjaga adiknya

Akhirnya tibalah dirumah, kali ini Lisa tidak pulang bersama kakaknya. Setelah mengganti baju, Lisa menghampiri ayahnya yang sedang bermain bersama Odi.

“Lisa, kemana kakak mu?” tanaya Pak Ahmad kepada anaknya.

“kerumah temannya, yah.. katanya mau belajar kelompok”. Jawab Lisa yng asyik bermain bola bersam Odi.

Sementara disana, Hana tlah tiba di toko Pak Saleh. Ditoko itu terdapat berbagai aneka peralatan sekolah. Hanapun melihat satu persatu barang yang ada disana, tidak satupun yang ia temukan. Dari kejauhan Pak Saleh menghampirinya.

“Mau beli yang mana Hana?” tanya pak Saleh.

“Anu... Pak, tas...” jawab Hana sambil memikirkan sesuatu.

“Ayu masuk sana, nanti kamu bisa pilh yang kamu suka”. Kata Pak Saleh sambil menunjuk kearah barang.

Sambil melihat-lihat kembali barang yang diinginkan,tapi tetap tidak ada.

“Ada yang Hana sukai tidak? “ tanya Pak Saleh. Hanapun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tas yang kemaren masih ada Pak?” tanya Hana.

“Tas yang mana Hana?” tanya Pak Saleh kembali.

“Tas boneka beruang” kata Hana.

“Oh, itu. Kemaren tibggal satu lagi dan itu sudah dibeli orang”. Jawab Pak Saleh.

Hana pun terdian sejenak. “Hana mu tas seperti itu, Pak.”

“kalau mau, besok Bapak bawakan buat Hana bagaimana?” tanya Pak Saleh.

“Iya Pak.. iya... Hana mau!” jawab Hana dengan wajah yang tersenyum bahagia.

Besok Hana akan membelikan tas boneka beruang untuk adiknya. Ia beli dengan tabungannya sendiri, dari uang jajan ang ia dapatkan dari Ibunya. Ditambah hasil bantu-bantu di kedai Bu Ratna. Rasanya sudah cukup untuk dapat membeli tas boneka beruang yang disukai Lisa.

Hari pun berlalu dengan cepat, seperti biasa Hana dan Lisa pulang dari sekolah. Ketika sampai ditoko Pak Saleh, Hana menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa kak?” tanya Lisa keheranan melihat kakaknya tiba-tiba berhenti.

“Ikut kaka, ada yang mau kakak tunjukkan kepadamu.” Jawab Hana sambil tersenyum.

Lisa heran melihat tingkah laku kakanya, dari pagi kakaknya menunjukkan sikap yang aneh. Sambil memegang tangan adiknya, Hana masuk kedalam toko Pak Saleh. Ternyata Pak Saleh sudah menunggu dari balik pintu tokonya.

“Ayo, masuk nak. Eh, Lisa juga kesini” kata Pak Saleh.

“Iya Pak, kemaren itu buat Lisa” kata Hana kepada Pak Saleh.

“Oh, begitu. Tunggu sebentar ya. Bapak ambilkan dulu” Kata Pak Saleh.

Hana tersenyum melihat adiknya yang masih kebingungan. Sesekali Lisa memandang kepadanya. Pak Saleh pun datang dengan membawa bungkusan kecil yang berwarna merah muda.

“Ini Hana, barang yang kamu inginkan”. Kata Pak Saleh sambil memberikan bungkusan itu kepada Hana.

Hana mengambil bungkusan itu, lalu diberikan kepada adiknya. Lisa pun keheranan, dilihatnya isi bungkusan itu. Tiba-tiba wajah Lisa menjadi bahagia. Apa yang ia inginkan, sekarang ada didepan matanya.

“Ini untuk kamu Lisa..” Hana berkata kepada adiknya.

“Haa... kaka serius ini untuk Lisa ?” tanya Lisa yang masih belum percaya.

“Iya adik, kamu senang Lisa?” tanay Hana kembali kepada adik nya itu.

“Iya kak, Lisa senang. Terimakasih kak.” Jawab Lisa, dan memeluk tubuh Hana sambil menangis.

Pak Saleh tersenyum dan ikut terharu malihat mereka berdua, tangisan Lisa pun mendadak berhenti .

“Tapi kak, bagaimana bisa kakak membelinya?” tanya Lisa kepada Hana.

“Ini... ! jawab Hana sambil menunjukkan kantong plastik yang berisi uang didalamnya.

“Ini uang dari celengan kakak simpan selama ini.” Kata Hana kembali.

“Tapi bukankah kakak pernah mengatakan uang celengan itu mau kakak berikan kepada Ibu untuk biaya berobat ayah” kata Lisa kepada kakaknya itu.

“Iya, tapi sepertinya Ibu belum membutuhkannya.” Ujar Hana.

Lisa pun menangis kembali dan memeluk kakaknya, Hana sangat sayang kepada adiknya itu. Sepanjang jalan Lisa tersenyum sendiri, sesekali melihat kedalam kantong plastik itu, Lisa pun memandang kearah kakaknya dengan senyum bahagia dan ingin mengatakan bahwa ia sangat sayang kepada kakaknya itu. Setiap malam, Lisa memeluk tas barunya itu, sampai-sampai tas itu ia bawa tidur bersamanya. Hana hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu.

Pagi-pagi sekali Lisa sudah bangun, buku yang tadi malam ia siapkan. Ia masukkan kedalam tas barunya. Hana pun bersiap-siap menyiapkan buku pelajarannya. Ibu memanggil mereka berdua untuk sarapan. Sementara Pak Ahmad, sudah berada di meja makan untuk sarapan dan Odi masih tidur dikamarnya. Lisa pun keluar kamar untuk sarapan, tiba-tiba Lisa dikagetkan dengan suara keras Ibunya.

“Dari mana kamu mendapatkan tas itu, Nak ... ? Ibu belum pernah melihatnya!”. Tanya Bu Muna kepada anaknya.

“Kakak yang belikan Bu” Ujar Lisa.

Wajah Bu Muna mulai mengarah ke Hana, Hana yang telah mendengar perkataan Ibunya tadi langsung menunduk dan takut untuk memandang mata Ibunya. Melihat itu, Ibu Muna pun menghampiri Hana. Hana yang ketakutan hanya bisa diam.

“Benar itu Hana ..... ! atau kamu mengambinya dari orang lain... ! “Ujar Bu Muna dengan nada yang tinggi kepada Hana.

Belum sempat Hana menjawab, Ibu Muna pun bertanya lagi.

“Ayo, jawab Hana ...... ! dari mana kamu mendapatkan ! Ibu bertanya kepadamu Hana.. ! tanya Ibunya dengan mata yang melotot memandangi anaknya itu.

“Ibu, kakak membelinya “ kata Lisa. Tapi belum sempat Lisa selesai berbicara. Ibu Muna langsung menyela.

“Beli.....? Uang dari mana ! jawab Hana,Ibu bicara kepadamu... !

Hana diam membisu, Hana tidak berani menatap Ibunya itu, belum pernah ia melihat Ibunya semarah itu padanya. Pak Ahmad yang dari tadi memperhatikan, langsung memotong pembicaraan istrinya.

“Sudahlah Bu, nanti mereka terlambat ke sekolah. Nanti saja kita bicarakan itu.” Ucap Pak Ahmad sambil menyuruh kedua anaknya untuk pergi kesekolah.

Hana melihat Ibunya yang tiba-tiba diam, tetapi wajahnya masih menunjukkan kemarahan kepadanya. Di sekolah Hana selalu kefikiran dengan ucapan Ibunya. Hana sedih, Ibu berjakata seperti itu kepadanya.

Jam pelajaran pun telah usai, Hana dan Lisa pulang bersama. Lisa yang melihat kakaknya yang sedih, merasa kalau ini adalah kesalahnya. Salahnya untuk memiliki tas boneka beruang. Lisa menghentikan langkah kakinya, Hana melihat adiknya itu pun langsung ikut berhenti.



“Kak, maafkan Lisa. Ibu marah kepada kakak karena Lisa, seharusnya Lisa tidak....” ucapan Lisa. Belum sempat Lisa selesai berbicara, Hana langsung menyelanya.

“Tidak Lisa, ini salah kakak. Seharusnya kakak bilang dulu kepada Ibu, agar Ibu tidak salah paham begini.”

“Tapi kak....” ujar Lisa.

“Sudahlah Lisa, ayo kita pulang.” Ucap Hana kepada adiknya.

Setiba di pintu rumah, langkah kaki Hana begitu berat. Ia takut Ibunya marah lagi kepdanya. Hana melihat ayah nya yang sedang bermain dengan Odi diruang tengah. Hana pun menyapa ayahnya, sementara Lisa masuk kedalam kamarnya.

“Ayah, Ibu dimana?” tanya Lisa kepada ayahnya.

“Kamu sudah pulang, nak. Ujar ayah Lisa.

Ibu belum pulang dari tadi, mungkin masih diwarung. “Memangnya kenapa, nak?” tanya Pak Ahmad kapada putrinya.

“Apa Ibu masih marah yah?”

Dengan tatapan penuh kasih sayang, ayah berkata “Ibu tidak akan pernah marah kepada mu Hana. Yasudah, ganti baju mu. Ajak Lisa makan, Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kalian sebelum pergi tadi”

“Iya,ayah.” Sahut Hana sambil menuju kamarnya.

Tidak beberapa lama Bu Muna pun pulanh, Odi yang melihat Ibunya pulang, langsung berlari menghampiri Ibunya. Wajah Bu Muna kelihatan lelah dan itu terlihat jelas diraut wajahnya. Hana yang mendengar suara langkah Ibunya, langsng keluar dari kamar tidurnya.Hana melihat Ibunya dan berusaha untuk mendekatinya. Tapi rasa takut membuatnya tidak bisa melangkah kedepan . tetapi, pada akhirnya Hana memberanikan diri. Ia akan terima sebesar apapun kemarahan Ibunya.

“Ibu..... “ kata Hana dengan suara pelan, takut Ibunya akan marah kapadanya.

“Maafkan Hana, Bu” Hana tidak bermaksud membuat Ibu marah.

“Kamu tidak salah, nak. Maafkan Ibu ya karna sudah marah-marah kepadamu.” Ujar Bu Muna.

Hana terkejut mendengar perkataan Ibunya itu.

“Ibu tau apa yang kamu lakukan selama ini. Ibu tau, Ibu belum bisa memberikan apa yang kalian inginkan. Tapi nak, selagi Ibu masih ada Ibu akan berusaha membuat kalian bahagia. Hana kamu anak Ibu yang paling bijak, yang selalu mengerti apa yang Ibu rasakan. Ini Ibu kembalikan celengan mu nak.” Kata Bu Muna sambil memberikan sebuah celengan yang sudah terisi uang didalamnya.

“Maksud Ibu, celengan ini buat Hana. Tapi mengapa sudah terisi Bu ?” tanya Hana keheranan.

“Iya celengan baru ini punya kamu, karena celengan yang lama kamu pecahkan kemaren. Dan Ibu tadi bertemu dengan Pak Saleh, ia menceritakan semuanya kepada Ibu. Jadi Ibu beli celengan baru ini dan Ibu ganti uang yang kamu berikan kepada Pak Saleh untuk membeli tas buat adikmu Lisa” Ujar Bu Muna.

“Tapi... Bu.... “

“Sudah, simpan saja. Ibu tau, kamu sangat sayang kepada adikmu. Kamu tidak perlu khawatir, uang Ibu masih ada untuk membeli keperluan kita nantinya”

Ibu Muna memeluk anaknya dan terasa menetes air mata dikedua pipinya. Merasa terharu dengan apa yang diperbuat oleh anaknya. Pak Ahmad yang dari tadi memperhatikan mereka berdua saling menatap dan tersenyum bahagia. Keharuan yang terjadi dikeluarganya membaea mereka lebih ikhlas kepada keadaan dan menyadari bahwa “kebahagian bukan terletak kepada materi melainkan ikhlas menerima yang ditakdirkan Tuhan kepada kita.”


~ Selesai ~

Wednesday, February 22, 2017

BLOG SONIA: HAKIKAT IPS || Pendidiksn IPS SD

0


HAKIKAT IPS ( PENGERTIAN IPS, RASIONAL MEMPELAJARI IPS DAN TUJUAN PENDIDIKAN IPS)



A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial


Istilah ilmu pengetahuan sosial sebagaimana dirancang dalam draf kurikulum 2004 memang membingungkan untuk dicarikan definisinya, karena dalam berbagai literatur, baik yang ditulis oleh ahli dari luar maupun dalam negeri, kita hanya mempunyai istilah ilmu pengetahuan sosial yang merupakan terjemahan dari social studies. Sedangkan nama IPS dalam dunia pendidikan dasar di negara kita muncul bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMU tahun 1975.

Dilihat dari sisi keberlakuannya, IPS disebut sebagai bidang studi “baru”, karena cara pandangnya bersifat terpadu. Hal tersebut mengandung arti bahwa IPS bagi pendidikan dasar dan menengah merupakan hasil perpaduan dari mata pelajaran geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, dan sosiologi. Karena objek material kajian yang sama yaitu manusia.

Dalam bidang pengetahuan sosial, kita mengenal banyak istilah yang kadangkadang dapat mengacaukan pemahaman. Istilah tersebut meliputi Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Untuk memperjelas penggunaan istilah tersebut secara tepat, kita simak uraian berikut.

IPS merupakan studi yang mempelajari tentang masyarakat atau manusia, dan merupakan ilmu pengetahuan sosial yang diambil dari ilmu sosial. Ada tiga istilah yang termasuk bidang pengetahuan sosial yang terkadang membuat kita bingung dengan istilah – istilah ini yaitu ilmu sosial ( Social Sciences ), studi sosial ( Social Studies ), dan ilmu pengetahuan sosial ( IPS ). IPS itu bukanlah merupakan bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis tetapi merupakan bidang pengkajian tentang masalah atau gejala sosial. Selain itu IPS juga sering disebut istilah – istilah ekonomi, geografi, sejarah, sosiologi, antrofologi sosial, antropologi pendidikan yang dipelajari oleh peserta didik ( siswa ) di tingkat dasar ( SD ) dan menengah.

Social Education dan social learning merupakan istilah IPS yang digunakan pada jaman dahulu tetapi dengan bergantinya berbagai perundang – undangan maka dua istilah ini diganti dengan istilah IPS. Dimana social education dan social learning ini lebih menitikberatkan pada pengalaman peserta didik disekolah yang dianggap lebih membantu peserta didik untuk mampu beradaptasi atau bergaul dengan dimasyarakat. Dalam pengkajiannya IPS menggunakan bidang – bidang keilmuan yang termasuk bidang – bidang ilmu sosial. Penerapan disekolah tentang IPS sering dipraktekan sebagai ilmu – ilmu sosial, padahal antara IPS dan IIS mempunyai perbedaan yang mendasar tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan karena saling berhubungan.

IPS tidak menitikberatkan kepada bidang – bidang teoritis tetapi lebih pada bidang praktis dalam mempelajari masalah – masalah sosial ataupun gejala sosial yang terdapat dilingkungan masyarakat. Begitupun studi sosial tidak terlalu akademis namun merupakan pengetahuan praktis yang diajarkan ditingkat persekola- han mulai dari SD samapai perguruan tinggi. Tanpa kita sadari kita sudah mempelajari studi sosial dari pengalaman – pengalaman kita sehari – hari baik itu melalui TV ataupun dilingkungan sekitar. Pendidikan IPS berbeda dengan IIS dimana IPS itu menggunakan pendekatan Interdisipliner ( kajian bidang tertentu atau hanya satu ilmu saja ) dan Multidisipliner ( penggabungan dari bidang – bidang tertentu ) dengan menggunakan bidang – bidang keilmuan. Pendekatan IIS bersifat disipliner dari bidang ilmunya masing – masing. Sedangkan pendekatan studi sosial bersifat multidimensional yaitu melihat satu masalah sosial dari berbagai aspek kehidupan.

Pada hakikatnya IPS merupakan perpaduan pengetahuan sosial. Misalnya di tingkat SD perpaduannya antara sejarah dan geografi, SMP perpaduannya antara sejarah, geografi dan ekonomi koperasi, sedangkan di SMA perpaduannya antara sejara, geografi, ekonomi koperasi, dan antropologi. Dan di perguruan tinggi IPS ini dikensl dengan studi sosial dimana IPS dan Studi sosial merupakan perpaduan berbagai keilmuan ilmu sosial. Jadi IPS merupakan penyederhanaan dan penyaringan terhadap IIS yang penyajian di persekolahan disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan kemampuan guru dalam menyampaikan materi tersebut.

Hakikat dari IPS terutama jika disorot dari anak didik adalah: Sebagai pengetahuan yang akan membina para generasi muda belajar ke arah positif yakni mengadakan perubahan-perubahan sesuai kondisi yang diinginkan oleh dunia modern atau sesuai daya kreasi pembangunan serta prinsip-prinsip dasar dan system nilai yang dianut masyarakat serta membina kehidupan masa depan masyarakat secara lebih cemerlang dan lebih baik untuk kelak diwariskan kepada turunannya secara lebih baik. IPS sebagai paduan dari sejumlah subjek (ilmu) yang isinya menekankan pembentukan warga negara yang baik daripada menekankan isi dan disiplin subjek tersebut. Dalam Kurikulum IPS 1975, dikatakan sebagai berikut: IPS adalah bidang studi yang merupakan paduan dan sejumlah mata pelajaran sosial.

Bidang pengajaran IPS terutama akan berperan dalam pembinaan kecerdasan keterampilan, pengetahuan, rasa tanggung jawab, dan demokrasi. Pokok-pokok persoalan yang dijadikan bahan pembahasan difokuskan pada masalah kemasyarakatan Indonesia yang aktual. IPS mengemban dua fungsi utama yaitu, membina pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan yang bermanfaat bagi pengembangan dan kelanjutan pendidikan siswa dan membina sikap yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 45.

Setiap orang sejak lahir, tidak terpisahkan dari manusia lain, khususnya dari orang tua, dan lebih khusus lagi dari ibu yang melahirkannya. Sejak saat itu Si bayi telah melakukan hubungan dengan orang lain, terutama dengan ibunya dan anggota keluarga yang lainnya.

B. Rasional Mempelajari IPS


Pengajaran IPS (social studies), sangat penting bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah karena siswa yang datang ke sekolah berasal dari lingkungan yang berbeda-beda. Pengenalan mereka tentang masyarakat tempat mereka menjadi anggota diwarnai oleh lingkungan mereka tersebut. Sekolah bukanlah satu-satunya wahana atau sarana untuk mengenal masyarakat. Para siswa dapat belajar

Mengenal dan mempelajari masyarakat baik melalui media massa, media cetak maupun media elektronika, misalnya melalui acara televisi, siaran radio, membaca koran. Pengenalan siswa melalui wahana luar sekolah mungkin masih bersifat umum terpisah-pisah dan samar-samar. Oleh karena itu agar pengenalan tersebut dapat lebih bermakna, maka bahan atau informasi yang masih umum dan samar-samar tersebut perlu disistematisasikan. Dengan demikian sekolah mempunyai peran dan kedudukan yang penting karena apa yang telah diperoleh di luar sekolah, dikembangkan dan diintegrasikan menjadi sesuatu yang lebih bermakna di sekolah, sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan siswa. Sesuai dengan tingkat perkembangannya, siswa SD belum mampu memahami keluasan 1 - 12Unit 1dan kedalaman masalah-masalah sosial secara utuh, tetapi mereka dapat diperkenalkan kepada masalah-masalah tersebut. Melalui pengajaran IPS siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi hidup dengan tantangan-tantangannya. Selanjutnya diharapkan mereka kelak mampu bertindak secararasional dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Perlu disadari bahwa dunia sekarang telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat di segala bidang. Kemajuan teknologi dan informasi telah mengenalkan kita pada realitas lain dari sekedar realitas fisik seperti yang sebelumnya kita rasakan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hubungan antar negara tetangga menjadi lebih luas, karena dunia seakan-akan menjadi tetangga dekat, hal ini disebabkan kemajuan transportasi dan komunikasi. Dengan demikian seolah-olah dunia “dipindahkan” ke ruang didalam rumah sendiri. Dalam hal ini IPS berperan sebagai pendorong untuk saling pengertian dan persaudaraan antar umat manusia, selain itu juga memusatkan perhatiannya pada hubungan antar manusia dan pemahaman sosial. Dengan demikian IPS dapat membangkitkan kesadaran bahwa kita akan berhadapan dengan kehidupan yang penuh tantangan, atau dengan kata lain IPS mendorong kepekaan siswa terhadap hidup dan kehidupan sosial. Jadi rasionalisasi mempelajari IPS untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa dapat:

1. Mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah

dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna.

2. Lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab.

3. Mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia. IPS atau disebut Pengetahuan Sosial pada kurikulum 2004, merupakan satu mata pelajaran yang diberikan sejak SDdan MI sampai SMP dan MTs. Untuk jenjang SD dan MI Pengetahuan Sosial memuat materi Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan.

Melalui pengajaran Pengetahuan Sosial, siswa diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif. Untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif merupakan tantangan berat, karena masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itulah Pengetahuan Sosial dirancang untuk membangun dan Pengembangan Pendidikan IPS SD 1 - 13merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus. Pada haikatnya, pengetahuan Sosial sebabagi suatu mata pelajaran yang menjadi wahana dan alat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, antara lain:

1. Siapa diri saya?

2. Pada masyarakat apa saya berada?

3. Persyaratan-persyaratan apa yang diperlukan diri saya untuk menjadi anggota

suatu kelompok masyarakat dan bangsa?

4. Apa artinya menjadi anggota masyarakat bangsa dan dunia?

5. Bagaimanakah kehidupan manusia dan masyarakat berubah dari waktu ke

waktu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab oleh setiap siswa, dan jawabannya telah dirancang dalam Pengetahuan sosialsecara sistematis dan komprehensip. Dengan demikian, Pengetahuan Sosial diperlukan bagi keberhasilan siswa dalam kehidupan di masyarakat dan proses menuju kedewasaan.

C. Tujuan Pembelajaran IPS SD


Menurut Rudy Gunawan (2011: 37) mengemukakan bahwa Pembelajaran IPS bertujuan membentuk warga negara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah-tengah kekuatan fisik dan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan ilmu sosial bertujuan menciptakan tenaga ahli dalam bidang ilmu sosial.

Banyak pendapat yang mengemukakan tentang tujuan pendidikan IPS, diantaranya oleh The Multi Consortium Of Performance Based Teacher Education di AS pada tahun 1973 Djahiri dan Ma’mun (Rudy gunawan, 2011: 20) menyatakan bahwa sebagai berikut :

1. Mengetahui dan mampu menerapkan konsep-konsep ilmu sosial yang penting, generalisasi (konsep dasar) dan teori-teori kepada situasi data yang baru.

2. Memahami dan mampu menggunakan beberapa struktur dari suatu disiplin atau antar disiplin untuk digunakan sebagai bahan analisis data baru.

3. Mengetahui teknik-teknik penyelidikan dan metode-metode penjelasan yang dipergunakan dalam studi sosial secara bervariasi serta mampu menerapkannya sebagai teknik penelitian dan evaluasi suatu informasi.

4. Mampu mempergunakan cara berpikir yang lebih tinggi sesuai dengan tujuan dan tugas yang didapatnya.

5. Memiliki keterampilan dalam memecahkan permasalahan (Problem Solving).

6. Memiliki self concept (konsep atau prinsip sendiri) yang positif.

7. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

8. Kemampuan mendukung nilai-nilai demokrasi.

9. Adanya keinginan untuk belajar dan berpikir secara rasional.

10. Kemampuan berbuat berdasarkan sistem nilai yang rasional dan mantap



Tujuan pendidikan IPS menurut Isjoni (2007: 50-51) dapat dikelompokkan menjadi empat kategori sebagai berikut :

1. Knowledge, yang merupakan tujuan utama pendidikan IPS, yaitu membantu para siswa belajar tentang diri mereka sendiri dan lingkungannya.

2. Skills, yang berhubungan denga tujuan IPS dalam hal ini mencakup keterampilan berpikir (thinking skills).

3. Attitudes, dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok sikap yang diperlukan untuk tingkah laku berpikir (intelektual behavior) dan tingkah laku sosial (social behavior).

4. Value, dalam hubungan ini adalah nilai yang terkandung dalam masyarakat sekitar didapatkan dari lingkungan masyarakat sekitar maupun lembaga pemerintah (falsafah bangsa).



Sementara menurut Wahab (Rudy gunawan, 2011: 21) menyatakan bahwa:

Tujuan Pengajaran IPS disekolah tidak lagi semata-mata untuk memberi pengetahuan dan menghapal sejumlah fakta dan informasi akan tetapi lebih dari itu. Para siswa selain diharapkan memiliki pengetahuan mereka juga dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya.



Sedangkan menurut Chapin dan Messick (Isjoni, 2007: 39) secara khusus tujuan pengajaran IPS di sekolah dasar dapat dikelompokkan ke dalam empat komponen, yaitu :

1. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.

2. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk mencari dan mengolah/memproses informasi.

3. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat.

4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/berperan serta dalam kehidupan sosia





Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 (2011: 17), mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.



Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah membantu tumbuhnya warga negara yang baik dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya. Akan tetapi secara lebih khusus pada tujuan yang tertera pada KTSP, bahwa salah satunya adalah mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Mengenal konsep-konsep memerlukan pemahaman yang mendalam, oleh karena itu pemahaman suatu konsep dengan baik sangatlah penting bagi siswa, agar dapat mamahami suatu konsep, siswa harus membentuk konsep sesuai dengan stimulus yang diterimanya dari lingkungan atau sesuai dengan pengalaman yang diperoleh dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman-pengalaman yang harus dilalui oleh siswa merupakan serangkaian kegitan pembelajaran yang dapat menunjang terbentuknya konsep-konsep tersebut. Karena itu guru harus bisa menyusun pembelajaran yang didalamnya berisi kegiatan-kegiatan belajar siswa yang sesuai dengan konsep-konsep yang akan dibentuknya.

Tujuan dari pendidikan IPS harus dikaitkan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan tantangan-tantangan kehidupan yang akan dihadapi anak. Berkaitaan dengan hal tersebut, Secara perinci, Mutakin (dalam Susanto, 2013) merumuskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah, sebagai berikut.

1) Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

2) Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunkan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sisial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial

3) Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.

4) Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-maslah sosial, serta membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan cepat.

5) Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

Sejalan dengan tujuan tersebut, tujuan pendidikan IPS Nursid Sumaatmadja (dalam Hidayati, dkk, 2008) adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”.

Gross (dalam Solihatin dan Raharjo, 2008:14) menyebutkan bahwa tujuan pendidikan IPS adalah mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang baik di masyarakat. Selain itu Solihatin dan Raharjo (2008:15) menyatakan, “Tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.”

Munir (dalam Susanto, 2013) secara keseluruhan tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar adalah sebagai berikut.

1) Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupannya kelak di masyarakat.

2) Membekali anak didik dengan pengetahuan mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

3) Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan bidang keilmuan serta bidang keahlian.

4) Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampialan keilmuan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.

5) Membekali anak didik dengnan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Berdasarkan pada beberapa pandangan mengenai tujuan pendidikan IPS diatas dapat dirangkum bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan IPS adalah membina anak didik menjadi warga negara yang baik dan memiliki pengetahuan, keterampilan serta kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya sendiri serta bagi masyarakat dan negara. 






DAFTAR PUSTAKA

Yaba. 2006. Ilmu Pengetahuan Sosial 1. Progaram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar. Makassar.

Munandar Soelaiman.2006. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pt Revika Aditama

Nursid Sumaatmadja,dkk.(1986).Materi Pokok Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. Kaninika UT, Jakarta

Achmad Sanusi, Dt. (1971). Studi Sosial di Indonesia. Bandung: IKIP