Skinpress Rss

Thursday, November 23, 2017

BLOG SONIA || Apa Itu Perubahan Sosial ? Adakah Pada Saat Sekarang?

0

PERUBAHAN SOSIAL

sumber photo : http://www.pengertianku.net/2016/08/pengertian-perubahan-sosial-secara-umum-dan-faktornya.html


A. DEFINISI PERUBAHAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat, dari yang bersifat individual sampai yang lebih kompleks. Perubahan sosial dapat dilihat dari segi terganggunya kesinambungan di antara kesatuan sosial walaupun keadaannya relatif kecil. Perubahan ini meliputi struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek yang dihasilkan dari interaksi antarmanusia, organisasi atau komunitas, termasuk perubahan dalam hal budaya.

Perubahan sosial terbagi atas dua wujud sebagai berikut :

1) Perubahan dalam arti kemajuan (progress) atau menguntungkan.

2) Perubahan dalam arti kemunduran (regress) yaitu yang membawa pengaruh kurang menguntungkan bagi masyarakat.

Jika perubahan sosial dapat bergerak ke arah suatu kemajuan, masyarakat akan berkembang. Sebaliknya, perubahan sosial juga dapat menyebabkan kehidupan masyarakat mengalami kemunduran.

Adanya pengenalan teknologi, cara mencari nafkah, migrasi, pengenalan ide baru, dan munculnya nilai -nilai sosial baru untuk melengkapi ataupun menggantikan nilai – nilai sosial yang lama merupakan beberapa contoh perubahan sosial dalam aspek kehidupan. Dengan kata lain, perubahan sosial merupakan suatu perubahan menuju keadaan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya.

Ada dua faktor yang dapat menyebabkan terjadi perubahan sosial, yaitu faktor yang berasal dari dalam masyarakat dan juga faktor yang berasal dari luar masyarakat. Faktor yang bersumber dari masyarakat itu sendiri meliputi : bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, dan terjadinya pemberontakan atau resolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Sedangkan, faktor yang berasal dari luar masyarakat meliputi : sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, peperangan dengan negara lain, dan pengaruh kebudayaan lain.

Selain adanya faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, adapula faktor yang mendorong dan juga menghambat perubahan sosial. Faktor yang mendorong terjadinya perubahan yaitu : kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan yang lebih maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju, toleransi, sistem lapisan masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, orientasi ke muka, dan juga nilai meningkatkan taraf hidup.

Faktor yang menghambat terjadinya perubahan soaial adalah : kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang tradisionalistis, adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat, rasa takut akan terjadinya kegoyahan kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal yang baru, hambatan ideologis, kebiasaan dan nilai pasrah.

B. PENDAPAT PARA AHLI TENTANG PERUBAHAN SOSIAL

Para sosiolog dan antropolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai perubahan sosial. Berikut ini adalah para ahli beserta pendapat mereka mengenai perubahan sosial :

1. William F. Ogburn (1964), mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan material dan immaterial, yang ditekankan pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.

2. Kingsley Davis (1960), mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan yang selanjutnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.

3. Mac Iver (1937: 272), mengartikan bahwa perubahan sosialsebagai perubahan dalam hubungan sosial (perubahan yangdikehendaki dan perubahan yang tidak dikehendaki) atausebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium)hubungan sosial.

4. Gillin dan Gillin (1957: 279), mengartikan perubahan sosialadalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baikkarena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaanmaterial, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karenaadanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalammasyarakat

5. Selo Soemardjan (1962: 379), merumuskan perubahan sosial sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

6. Samuel Koenig (1957: 279), mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi dapat disebabkan oleh faktor intern dan ekstern.

7. Sugihen (1982), mengkaitkan perubahan sosial dengan beberapa kata lain yang merujuk pada proses sosial yang sama, seperti : industrialisasi, modernisasi, dan pembangunan.

8. Merton (1957;1964), mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan fungsi manifestasi dari suatu rekayasa sosial lewat upaya pembangunan yang dilambangkan atau diwujudkan dalam kegiatan industralisasi menuju suatu masyarakat modern.

9. Rogers, et. al. (1988), memahami bahwa perubahan sosial adalah suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan di dalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan. Ada 3 tahapan utama dalam proses perubahan sosial yang terjadi. Pertama, berawal dari diciptakannya atau lahirnya sesuatu yang berkembang menjadi suatu gagasan. Bila gagasan tersebut sudah menggelinding seperti roda yang berputar pada sumbunya, dan sudah tersebar di kalangan masyarakat maka perubahan tersebut sudah memasuki tahap kedua. Tahapan yang ketiga yaitu disebut dengan hasil, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu sistem sosial yang bersangkutan sebagai akibat dari diterimanya, atau ditolaknya suatu inovasi.

10. Larson dan Rogers (1964), mengemukakan pengertian tentang perubahan sosial yang dikaitan dengan adopsi teknologi yaitu perubahan sosial merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam suatu bentangan waktu tertentu. Pemakaian teknologitertentu oleh suatu warga masyarakat akan membawa suatu perubahan sosial yang dapat diobservasi lewat perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.



C. TIPE – TIPE PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial dapat terjadi dalam segala bidang yang wujudnya dapat dibagi menjadi beberapa bentuk. Beberapa bentuk perubahan sosial menurut Soekanto, yaitu sebagai berikut :

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat.

Perubahan terjadi secara lambat akan mengalami rentetan, perubahan yang saling berhubungan dalam jangka waktu yang cukup lama. Perkembangan perubahan ini termasuk dalam evolusi. Perubahan secara evolusi dapat diamati berdasarkan batas waktu yang telah lampau sebagai patokan atau tahap awal sampai masa sekarang yang sedang berjalan. Adapun penentuan kapan perubahan tersebut terjadi, bergantung pada orang yang bersangkutan.

Perubahan sosial yang terjadi secara cepat mengubah dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, perubahan itu dinamakan revolusi. Contohnya, Revolusi Industri di Eropa. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan besar-besaran dalam proses produksi barang-barang industri. Contoh lain Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang mengubah tatanan kenegaraan dan sistem pemerintahan NKRI.

2. Perubahan yang Pengaruhnya Kecil dan Perubahan yang Pengaruhnya Besar

Perubahan yang pengaruhnya kecil adalah perubahan yang memengaruhi unsur-unsur kehidupan masyarakat. Akan tetapi, perubahan ini dianggap tidak memiliki arti yang penting dalam struktur sosial. Contohnya, perubahan mode pakaian yang tidak melanggar nilai sosial. Perubahan yang pengaruhnya besar adalah perubahan yang dapat memengaruhi lembaga-lembaga yang ada pada masyarakat. Misalnya, perubahan sistem pemerintahan yang memengaruhi tatanan kenegaraan suatu bangsa.

3. Perubahan yang Dikehendaki dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki

Perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau disebut juga perubahan yang direncanakan (planned-change) merupakan perubahan yang memang telah direncanakan sebelumnya terutama oleh pihak yang memiliki wewenang untuk mengeluarkan kebijaksanaan. Misalnya, penerapan program Keluarga Berencana(KB) untuk membentuk keluarga kecil yang sejahtera dan menurunkan angka pertumbuhan penduduk.

Perubahan yang tidak dikehendaki (unintended-change)atau disebut juga perubahan yang tidak direncanakan (unplanned-change) umumnya beriringan dengan perubahan yang dikehendaki. Misalnya adanya pembuatan jalan baru yang melalui suatu desa maka sumber alam desa akan mudah dipasarkan ke kota. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan penduduk desa akan meningkat. Meskipun begitu lancarnya hubungan desa dengan kota menyebabkan mudahnya penduduk desa melakukan urbanisasi dan masuknya budaya kota terutama yang bersifat negatif, seperti mode yang dipaksakan, minuman keras, VCD porno, dan keinginan penduduk desa untuk memiliki barang-barang mewah.

D. PERUBAHAN SOSIAL YANG TERJADI DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

Sekarang ini banyak sekali perilaku yang menunjukkan perubahan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Di lingkungan tempat tinggal saya pun terjadi berbagai macam perubahan sosial, seperti :

1. Perubahan Jumlah Penduduk

Dahulu, sepasang suami istri memiliki anak yang lebih dari dua, misalnya lima, atau enam bahkan lebih. Dengan adanya program Kelurga Berencana (KB), saat ini sepasang suami istri hanya mempunyai 2 orang anak. Selain dipengaruhi oleh kelahiran perubahan jumlah penduduk di lingkungan saya juga disebabkan oleh adanya kematian dan juga perpindahan penduduk. Banyak masyarakat yang berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan tetapi juga sebaliknya banyak penduduk yang dari kota berpindah ke desa.

2. Perubahan Kualitas Penduduk

Masyarakat di taun-taun yang lampau hanya menempuh pendidikan sampai Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah saja, namun sekarang masyarakat telah banyak yang menempuh pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Dengan demikian pengetahuan yang dimiliki semakin bertambah, hal ini sebagai akaibat positif dengan terjadinya perubahan.

Akan tetapi, selain memberikan dampak positif bagi kualitas penduduk, perubahan sosial juga menimbulkan dampak negatif yang berupa penurunan moral yang dimiliki oleh masyarakat. Penurunan moral ini sering terjadi pada anak muda, hal ini dapat dilihat pada perilaku yang kurang sopan dalam masyarakat. Misalnya ketika jalan/lewat di depan warga masyarakat tanpa memberi salam, berbicara yang kurang sopan kepada orang lain. Selain itu, banyak juga masyarakat yang tidak mentaati peraturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Misalnya tentang peraturan lalu lintas.

3. Perubahan Sistem Pemerintahan

Perubahan sisitem pemerintahan yang terjadi dalam negara, juga mempunyai pengaruh bagi pemerintahan suatu dusun. Misalnya dalam suatu pengambilan keputusan dalam suatu musyawarah. Di lingkungan tempat tinggal saya pengambilan keputusan dilakukan melalui demokrasi yaitu melalui musyawarah mufakat.

4. Perubahan Mata Pencaharian

Dahulu, Mata pencaharian penduduk di lingkungan saya sebagaian besar adalah sebagai petani, namun dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan yang mereka miliki, saat ini banyak yang menjadi pegawai negeri, karyawan suatu perusahaan, dan juga ada yang pergi merantau bekerja ditampat lain.

5. Perubahan Gaya Hidup

Seiring dengan perkembangan jaman, gaya hidup masyarakat pun berubah. Saat ini gaya hidup konsumtif sudah menjangkit sampai di lingkungan pedesaan. Warga masyarakat memiliki keinginan untuk berbelanja yang tinggi. Contoh perilaku konsumtif masyarakat dapat dilihat misalnya pada gaya berpakaian. Setiap hari selalu ada model pakain baru yang ditawarkan baik di toko maupun di pasar. Warga masyarakat yang merasa mampu tentunya tidak ingin ketinggalan. Selain itu, dengan adanya perubahan sosial, masyarakat mempunyai pandangan bahwa produk dari luar negeri lebih baik dari pada produk dari dalam negeri.

6. Perubahan karena Adanya Teknologi

Dahulu, para petani di lingkungan tempat tinggal saya masih menggunakan bantuan tenaga hewan dalam mengerjakan/membajak sawahnya dan juga dibantu oleh tetangga dalam menanam padi atau tanaman lainnya. Namun saat ini, dengan berkembangnya teknologi, para petani telah menggunakan traktor dalam membajak sawah dan juga sudah menggunakan mesin perontok padi untuk mengolah hasil panenannya.

Selain teknologi dalam bidang pertanian, teknologi yang berkaitan dengan komunikasi pun berkembang pesat. Dahulu, apabila ingin berkomunikasi jarak jauh memerlukan waktu yang lama. Akan tetapi, alat komunikasi saat ini sudah canggih. Misalnya melalui telepon seluler yang saat ini satu orang tidak hanya memiliki satu alat komunikasi tersebut. Bahkan, sekarang anak usia remaja bahkan yang masih anak-anak sekalipun telah mengenal apa itu facebook, email, twitter, dan lain sebagainya

7. Perubahan Budaya

Perubahan budaya yang terjadi dalam lingkungan masyarakat dapat dilihat pada perilaku anak muda saat ini. Banyak yang meniru trend-trend atau budaya masyarakat barat, misalnya cara berpakaian. Sekarang ini, jarang sekali anak muda yang mau mengenakan pakaian adat Jawa (Jogja), begitupun dalam acara pernikahan. Mereka bilang terlalu ribet.

Selain itu, contoh-contoh hasil kebudayaan seperti, angklung, gamelan, kesenian ketoprak, lagu-lagu tradisional tidak lagi diminati oleh masyarakat. Bahkan ada warga yang tidak mengetahui kebudayaan daerah tempat tinggalnya sendiri. Sekarang ini, keberadaan kesenian-kesenian tersebut telah tergantikan oleh adanya lagu-lagu pop, rock, dan lain sebagainya.

Wednesday, November 22, 2017

BLOG SONIA || Ternyata Begini Peran Seorang Guru Sebenarnya

0

Guru Berperan Vital dalam Pendidikan Karakter Siswa

sumber photo : https://www.brilio.net/wow/pertanyaan-anak-sd-ini-uji-level-kecerdasanmu-coba-jawab-kalau-bisa-170828p.html

Pemerintah menilai bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar di kawasan Asia Tenggara perlu merevitalisasi pendidikan karakter bagi generasi mudanya. Melalui proses pendidikan karakter bangsa, generasi muda Indonesia dididik untuk memiliki kemampuan yang optimal dalam mengembangkan dan memberdayakan potensi dirinya.

Pendidikan karakter bangsa dilaksanakan agar generasi muda dapat berkontribusi signifikan pada bangsa dan negara.

Pendidikan karakter menjadi bagian yang integral untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan berperadaban unggul dalam percaturan global, berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.


Namun, kondisi faktual saat ini masih sangat jauh dari harapan tersebut, sebab dalam kenyataannya pendidikan karakter bangsa belum dilaksanakan secara optimal.

Pendidikan karakter tidak didukung dengan sistem pembelajaran yang dinilai belum efektif membangun karakter peserta didik.

Bukti terjadinya degradasi moral seperti penyalahgunaan narkoba, radikalisme pelajar, pornografi dan pornoaksi, plagiarisme, dan menurunnya nilai kebanggaan berbangsa dan bernegara.

Permasalahan tersebut akan semakin kompleks di era globalisasi yang membuka ruang secara terbuka, tanpa ada pembatasan. Bila tidak ada filter dan pondasi yang kuat pada diri generasi muda, maka bakal lebih memperburuk kondisi bangsa Indonesia.


Kebutuhan masyarakat akan pendidikan karakter bangsa yang secara imperatif sebenarnya telah diakomodasi dalam Tujuan Pendidikan Nasional, yang tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Anas M. Adam menegaskan, pembangunan kualitas manusia Indonesia harus disertai dengan pelaksanaan pendidikan karakter. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa.

Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah pada Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menilai perlu diadakan Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru Pendidikan Menengah 2017.


Adapun tema yang diangkat adalah “Mengembangkan nilai integritas, kerja keras dan gotong royong melalui inovasi pendidikan karakter bangsa di sekolah sebagai bentuk nyata revolusi mental.” Ia mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah akan sangat tergantung pada peranan guru di sekolah.

“Guru-guru selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, mereka juga harus mengisinya dengan karakter apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran,” katanya.

Menurut Anas, inovasi guru dalam mengembangkan pendidikan karakter di sekolah menjadi sesuatu yang sangat penting dan menentukan dalam upaya menumbuhkembangkan karakter dalam diri peserta didik.

sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/11/22/18160711/guru-berperan-vital-dalam-pendidikan-karakter-siswa

BOG SONIA || Merasa Ngantuk Saat Sedang Bosan? Ini Penjelasan Ilmialnya

0

Merasa Ngantuk Saat Sedang Bosan? Ini Penjelasan Ilmialnya

sumber photo : http://kendaripos.co.id/2015/07/31/murid-belajar-siang-dinilai-tidak-efektif/

Apa yang Anda lakukan ketika Anda sedang merasa bosan? Kebanyakan orang berpendapat sama, yaitu ketika mereka bosan, mereka sering kali merasa mengantuk. Padahal sebelumnya tidak ada rasa kantuk itu. Ternyata mengapa Anda mengantuk saat merasa bosan bisa dijelaskan secara ilmiah. Ini dia alasan mengapa Anda akan merasa ingin tidur ketika sedang bosan.
Merasa bosan hingga mengantuk? Ternyata ini alasannya

Dalam sehari, mungkin Anda bisa merasa bosan berkali-kali, ketika menunggu seseorang atau bahkan saat mendengarkan presentasi dan saat rapat di kantor. Coba ingat-ingat lagi, ketika itu terjadi, apa yang Anda rasakan? Apakah tiba-tiba Anda merasa mengantuk? Ya, hal ini sangat wajar terjadi. Ternyata, kondisi ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Jadi, menurut penelitian yang berasal dari negeri sakura ini, mengantuk saat merasa bosan terjadi akibat sinyal di otak Anda. Fakta ini terungkap ketika para peneliti melakukan percobaan pada tikus. Dalam penelitian tersebut, mereka meneliti aktivitas saraf serta perilaku tikus tersebut. Kemudian, di akhir penelitian diketahui bahwa rasa bosan tersebut yang kemudian merangsang otak untuk membuat Anda lebih mengantuk.
Otak secara otomatis meningkatkan rasa kantuk ketika Anda merasa bosan

Ya, bisa dibilang otak Anda adalah penyebab dari rasa kantuk yang datang tiba-tiba tersebut. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Nature Communications tersebut, ada bagian otak yang disebut dengan nukleus akumbens.

Nukleus akumbens adalah bagian otak yang memiliki berbagai peran, seperti sebagai tempat yang menerima informasi yang menyenangkan dalam otak serta mengatur jumlah hormon adenosin di dalam tubuh. Hormon adenosin adalah hormon yang merangsang Anda untuk mengantuk dan akhirnya tertidur, maka dari itu hormon ini sering kali disebut dengan hormon tidur.

Nah, ketika rasa bosan melanda akibat tidak ada aktivitas menarik yang Anda lakukan saat itu, maka akan berdampak pada nukleus akumbens. Bagian otak itu tidak menerima informasi atau rangsangan yang menyenangkan – sehingga Anda bosan – yang akhirnya membuat kadar adenosin naik.

Ketika kadar adenosin naik dan banyak di dalam tubuh, maka tak lama kemudian, mata Anda akan terasa perih dan mengantuk. Hal ini yang membuat Anda mengantuk saat merasa bosan.
Terus menguap karena mengantuk, padahal sedang rapat. Apa yang harus dilakukan?

Jika Anda bosan di tengah-tengah rapat, maka tanpa Anda sadari rasa kantuk itu datang dan membuat Anda terus menguap. Padahal, Anda sedang berada di kegiatan yang penting. Nah, untuk mengatasinya, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut:
Tarik napas dalam-dalam. Ini membuat oksigen dapat masuk dengan baik ke dalam tubuh. Mungkin, saat itu otak Anda kekurangan udara akibat bosan.
Sempatkan untuk minum minuman yang dingin. Jika memang Anda diperbolehkan untuk minum, coba minum air dingin untuk membuat otak menjadi lebih dingin sehingga Anda tak menguap terus.

baca lengkap : https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/merasa-bosan-bikin-mengantuk/

Wednesday, October 18, 2017

Video Pembelajaran SD Kelas V || Gaya

0

Pelajaran SD Kelas V Tentang Gaya

Assalamualaikum, yuk simak video pembelajaran berikut ini.
semoga bermanfaat..

 

BLOG SONIA || Alat Pernafasan Manusia Kelas V SD

0

video pembelajaran Kelas V SD

Assalamualaikum.. kali ini saya memposting video pembelajaran kelas V SD yaitu tentang Alat Pernafasan Manusia. Semoga bermanfaat, terimakasih.

Lagu Menyentuh Hati

0

LAGU MENYENTUH HATI TENTANG IBU


Assalamualaikum.. teman-teman kali ini sayang akan menyuguhkan sebuah lagu yang berjudul BUNDA.. selamat mendengarkan..

 

Monday, September 25, 2017

BLOG SONIA || Unuk Apa Pendidikan?

1



PENDIDIKAN, MEMBANGUN
METODE BERFIKIR

Image result for anak sd

sumber foto : https://www.brilio.net/wow/
Anak saya yang baru masuk kelas 1 SMA mengeluh soal pelajaran dan guru di sekolahnya. “Guru tidak menjelaskan, cuma menyuruh kami belajar sendiri, lalu dia memberi kami soal-soal untuk diselesaikan,” keluhnya. Apa yang terjadi dengan sekolah? Konon, ini pola belajar berdasarkan kurikulum 2013.

Entahlah, apa benar demikian atau tidak. Saya tidak melakukan kajian sistematis soal kurikulum. Namun selama mendampingi anak-anak saya belajar, saya perhatikan ada beberapa masalah pada buku-buku pelajaran mereka. Masalahnya adalah, sering adanya lompatan dalam materi pelajaran.

Prinsip belajar adalah bertahap. Setelah paham sesuatu, pelajar dibawa ke tahap selanjutnya. Tanpa memahami sesuatu yang merupakan pendahuluan, sulit untuk memahami materi di tahap berikutnya. Untuk memahami perkalian, misalnya, pelajar harus paham dulu soal penjumlahan. Tanpa pemahaman itu, mustahil dia paham soal perkalian.

Keluhan anak saya, dia belajar soal vektor dalam pelajaran fisika. Tapi gurunya tidak memberi penjelasan soal definisi sinus dan cosinus yang dipakai untuk menjelaskan vektor. Kata gurunya, itu materi yang harus didapat dalam pelajaran matematika. Sementara pelajaran matematika belum sampai ke materi itu.

Akibatnya anak-anak bingung. Bukan hanya anak-anak saya. Teman-temannya bingung semua. Saya jelaskan materinya pada anak saya. Lalu teman-temannya tertarik untuk ikut belajar pada saya.

Keluhan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Saya sendiri pernah mengalami masalah serupa, yaitu tidak paham materi pelajaran karena penjelasan guru kurang memadai. Apakah ini masalah kurikulum? Tidak selalu. Bahkan sama sekali bukan.

Guru adalah raja di kelasnya. Ia bukan hamba kurikulum. Maka ia tak boleh gagal menjelaskan hanya karena dibatasi oleh kurikulum. Kurikulum itu bukan kitab suci yang harus diikuti kata per kata. Ia hanya panduan besar. Guru boleh keluar dari situ, untuk membangun pemahaman bagi pelajarnya.

Masalahnya, banyak guru yang tidak paham. Banyak yang tidak paham materi yang harus ia ajarkan. Atau, tak paham bagaimana menjelaskannya. Ada banyak guru yang bertahun-tahun bertahan dalam ketidakpahaman. Ia tak berusaha membangun pemahaman bagi dirinya sendiri. Itulah salah satu sebab gagalnya pendidikan kita.

Pendidikan pada dasarnya bukan sekadar soal mengajarkan pengetahuan. Dalam hal fisika, misalnya, bukan soal bagaimana agar para pelajar paham hukum-hukum fisika. Para pelaku pendidikan sering gagal memahami itu. Fokus mereka pada materi pelajaran. Bagaimana menyampaikan materi pelajaran. Bagaimana membuat anak-anak mampu menyelesaikan soal tes.

Jadi, kalau tidak paham, hafalkan saja. Termasuk hafalkan saja cara menyelesaikan soal. Kalau soalnya begini, cara menyelesaikannya begini. Ganti rumus ini dengan angka ini, nanti hasilnya ini.

Situasi itu jauh dari maksud pendidikan. Kita tak mengajari anak-anak kita tentang fisika dengan harapan agar mereka semua jadi ahli fisika. Demikian pula dengan matematika, dan pelajaran lain. Bagian terpenting dari semua pelajaran itu adalah membangun metode berpikir, dengan menjalani prosesnya.

Dalam setiap pelajaran ilmu alam sebenarnya diperkenalkan topik tentang metode ilmiah. Tentang bagaimana pengetahuan tentang sesuatu diperoleh, bagaimana sesuatu diselidiki lalu disimpulkan. Sayangnya, bagian ini pun sering kali hanya menjadi bagian hafalan dalam pelajaran. Ia tidak menjadi fondasi dalam proses belajar selanjutnya.

Tahapan dalam materi pelajaran pada dasarnya disusun untuk membangun metode berpikir. Sepanjang masa belajar para pelajar digembleng untuk menjalani proses berpikir, dilatih untuk berpikir, membangun metode berpikir. Karena itu materi pelajaran tidak sekadar soal isi teori, tapi juga membahas bagaimana teori itu dibangun. Pada teori atom, misalnya, tidak langsung meloncat pada isi teorinya, tapi juga membahas bagaimana sejarah perumusan teori itu.

Sebagian besar anak-anak kita kelak tidak akan bekerja dengan memakai teori atom atau Hukum Newton. Kalau materi pelajaran yang menjadi prioritas, yakinlah bahwa itu akan sia-sia, karena akhirnya tidak akan dipakai dalam hidup. Tapi kalau proses berpikir yang dilatihkan, maka proses itu akan menjadi pola yang melekat sampai kapan pun. Itu akan berguna dalam banyak kesempatan sepanjang hidup.

Para orang tua dan guru harus selalu menyegarkan kembali kesadaran mereka soal ini. Agar mereka tidak tenggelam dalam kesesatan, mengejar target materi, lupa membangun proses berpikir. Ketika harus menjelaskan sesuatu yang pendahuluannya belum dipahami anak-anak, mutlak bagi guru untuk membangun pemahaman soal pendahuluan itu. Kalau tidak, ia tidak sedang membangun metode berpikir.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2017/09/14/09481451/pendidikan-membangun-metode-berpikir

BLOG SONIA || Pentingnya Bimbingan Konseling

0


BIMBINGAN KONSELING

 
sunber foto : http://zamzamisabiq.blogspot.co.id/2013/01/


A. PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING

Secara etimologis, bimbingan dan konseling terdiri atas dua kata yaitu “bimbingan” (terjemahan dari kata “guidance”) dan “konseling” (diambil dari kata “counseling”). Dalam praktik, bimbingan dan konseling merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Keduanya merupakan bagian yang integral (Tohirin, 2011: 15).

1.Pengertian Bimbingan

a) Pengertian Bimbingan Secara Etimologi

Menurut Winkel dalam Tohirin (2011: 15-16) istilah “bimbingan” merupakan terjemahan dari kata “guidance”. Kata “guidance”yang kata dasarnya “guide”memiliki beberapa arti :

1) menunjukkan jalan (showing the way),

2) memimpin (leading),

3) memberikan petunjuk (giving instruction),

4) mengatur (regulating),

5) mengarahkan (governing), dan

6) memberi nasihat (giving advice).

b) Pengertian Bimbingan Secara Terminologi

1) Miller (1961) dalam Surya (1988), menyatakan bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah (dalam hal ini termasuk madrasah), keluarga, dan masyarakat (Tohirin, 2011: 16-17).

2) Selanjutnya Surya (1988) mengutip pendapat Crow & Crow (1960) menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki pribadi baik dan pendidikan yang memadai, kepada seseorang (individu) dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri (Tohirin, 2011: 17).

3) Menurut Stoops mengemukakan bimbingan adalah suatu proses terus – menerus dalam hal membantu individu dalam perkembangannya untuk mencapai kemampuansecara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar – besarnya bagi dirinya maupun masyarakatnya. (kutipan Djumhur dan M. Surya 1975).

4) Djumhur dan M. Surya memberikan batasan tentang bimbingan, yaitu suatu proses pemberian bantuan terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang di hadapinya, agar tercapai kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, kemampuan untuk menerima dirinya sendiri kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri dan kemampuan untuk merealisir diri sendiri (realization), sesuai dengan potensi dan kemampuan dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan.



Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa BIMBINGAN berarti : bantuan yang diberikan oleh pembimbing kepada individu agar individu yang dibimbing mencapai kemandirian dengan mempergunakan berbagai bahan, melalui interaksi, dan pemberian nasihat serta gagasan dalam suasana asuhan dan berdasarkan norma-norma yang berlaku

2. Pengertian Konseling

a) Pengertian Konseling Secara Etimologi

Istilah konseling diadopsi dari bahasa Inggris “counseling” di dalam kamus artinya dikaitkan dengan kata “counsel” memiliki beberapa arti, yaitu nasihat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel), dan pembicaraan (to take counsel). Berdasarkan arti di atas, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran (Tohirin, 2011: 21-22).



b) Pengertian Konseling Secara Terminologi

1) Mortensen (1964) menyatakan bahwa konseling merupakan proses hubungan antarpribadi d mana orang yang satu membantu yang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya (Tohirin, 2011: 22).

2) James Adam mengemukakan bahwa konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu di mana seorang Counselor membantu Counsele supaya ia lebih baik memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah hidup yang dihadapinya pada waktu itu dan waktu yang akan datang. (kutipan Djumhur dan M. Surya (1975) .

3) Rogers (1982) mengemukakan bahwa konseling adalah serangkaian kegiatan hubungan langsung antar individu, dengan tujuan memberika bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

4) Mortensen dan Schmuller dalam bukunya berjudul Guidance in today’s school (1964) mengemukakan konseling adalah suatu proses hubungan seseorang dengan seseorang di mana yang seseorang di bantu oleh yang lainnya untuk meningkatan pengertian dan kemampuan dalam menghadapi masalahnya.

5) Wren dalam bukunya yang berjudul student person al work in college, berpendapat bahwa konseling adalah pertalian pribadi yang dinamis antara dua orang yang berusaha memecahkan masalah dengan mempertimbangkan bersama sama, sehingga akhirnya orang yang lebih muda atau orang yang mempunyai kesulitan yang lebih banyak di antara keduanya di bantu oleh orang lain untuk memecahkan masalahnya berdasarkan penentuan diri sendiri.

6) Williamson dan Foley dalam bukunya Counseling and Diciplinemengemukakan bahwa konseling adalah suatu situasi pertemuan langsung di mana yang seorang terlibat dalam situasi itu karena latihan dan keterampilan yang dimilikinya atau karena mendapat kepercayaan dari yang lain, berusaha menolong yang kedua dalam menghadapi, menjelaskan, memecahkan, dan menanggulangi masalah penyesuaian diri.

7) Sedangkan menurut American Personnel and Guidance Association (APGA) mendefinisikan konseling sebagai suatu hubungan antara seorang yang terlatih secara profesional dan individu yang memerlukan bantuan yang berkaitan dengan kecemasan biasa atau konflik atau pengambilan keputusan (Tohirin, 2011: 23).



Kesimpulan yang dapat diambil mengenai pengertian KONSELING adalah kontak atau hubungan timbal balik antara dua orang (konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, yang didukung oleh keahlian dan dalam suasana yang laras dan integrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku untuk tujuan yang berguna bagi klien (siswa).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian Bimbingan dan Konseling (BK) adalah proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.



B. PENTINGNYA BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Pada Sekolah dasar benar-benar terdapat sifat formal pendidikan yang berbeda dengan taman kanak-kanak dan pendidikan lingkungan keluarga. Dalam sekolah dasar mulai terdapat pembagian jelas catur -wulan, kenaikan kelas, dan evaluasi lainnya. Tujuan sekolah dasar sudah terumuskan dengan jelas sebagaimana terlihat dalam tujuan institusionalnya.

Suasana belajar merupakan ciri yang amat membedakannya dengan taman kanak-kanak yang lebih pada bermain dibanding kegiatan intelektualnya. Dalam kelas, anak Sekolah Dasar dituntut prestasinya menguasai kurikulum sekolah untuk mencapai angka nilai baik yang menunjang untuk naik kelas. Ringkasnya ada kegiatan mempelajari ilmu dari kurikulum, ada ujian penguasaan, pencapaian prestasi dan promosi atau non promosi.

Pada lain pihak, anak sekolah dasar umumnya berada dalam rentang usia 6 samapai 12 atau 13 tahun dengan sifat-sifat umum dan variasi keunikannya. Disamping kesamaan umum dalam sifat-sifat usia ini, terdapat perbedaan yang menonjol dalam tempo dan irama perkembangan masingmasing anak. Terdapat perbedaan kecepatan antara anak-anak pria dibandingkan dengan anak-anak wanita. Demikian pula, dilihat dari segi pengalaman pendidikan, terdapat dua kelompok anak: anak-anak yang pernah melalui taman kanak-kanak dan anak yang langsung memasuki sekolah dasar.

Dalam melaksanakan bimbingan sekolah dasar dip ertimbangkan segisegi tuntutan eksternal dari lembaga dan segi keadaan anak dalam usia ini, sehingga bimbingan sekolah dasar berperan dalam menunjang pencapaian tuntutan-tuntutan kelembagaan tadi.



C. MASALAH APA SAJA YANG DAPAT DISELESAIKAN DI BIMBINGAN KONSELING

Dalam perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan, baik oleh individu secara perorangan maupun kelompok. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri, juga berpengaruh kepada orang lain atau lingkungan sekitarnya.

Pada hakekatnya, proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi kediriannya yang matang, dengan kemampuan sosial yang baik, kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketakwaan yang dalam. Namun pada kenyataannya, sering dijumpai keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, tingkat kesosialan dan kesusilaan yang rendah, serta tingkat keimanan dan ketakwaan yang dangkal.

Ketidakmampuan setiap individu untuk mewujudkan perkembangan yang optimal pada ke empat dimensi (individualitas, sosialitas, moralitas, dan relegiusitas) tersebut dikarenakan oleh berbagai permasalahan yang dialami selama proses perkembangannya. Masalah merupakan sesuatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang menimpa seseorang bila dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun ciri-ciri masalah adalah sebagai berikut:

1. Masalah yang muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das sollen) dan kenyataan (das sein).

2. Semakin besar kesenjangan, maka masalah semakin berat.

3. Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda.

4. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun oleh lingkungan.

5. Masalah timbul akibat dari proses belajar yang keliru.

6. Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar yang perlu dijawab.

7. Masalah dapat bersifat individual maupun kelompok.

a) Kriteria Masalah

Pada dasarnya, masalah ditandai oleh adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Namun, tidak semua masalah perlu ditangani melalui pendekatan konseling. Suatu masalah perlu ditangani melalui konseling, bila memenuhi kriteria tertentu. Pada dasarnya, masalah tersebut berasal dari suatu masalah yang cukup serius, cukup mengguncangkan pribadi konseli, masalah tersebut senantiasa mencekam sehingga pikiran dan perasaan konseli tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan berpengaruh terhadap perubahan fisiologik tubuh. Disisi lain, masalah tersebut sudah berada diluar jangkauan konseli untuk mereda, menghalau ataupun untuk menyelesaikannya sendiri. Sementara itu, bila masalah tersebut tidak diatasi maka akan merugikan diri sendiri maupun pihak lain, terjadinya hambatan perkembangan, penyimpangan sikap dan perilaku, salah perilaku dan inadekuat lain.

Selanjutnya, secara sadar konseli butuh bantuan dari orang lain untuk menghadapi, mengatasi, dan memecahkan masalahnya yang berada di luar kemampuannya. Jadi, masalah tersebut perlu digarap dengan cara-cara khusus, cara-cara yang memadai. Dengan kata lain, masalah tersebut diatasi dengan bantuan orang lain yang memiliki kompetensi atau keahlian sesuai dengan karakteristik dan kadar permasalahanya perlu penanganan secara profesional.

Meski masalah tersebut cukup serius dan sifatnya spesifik, menimbulkan ketegangan, kecemasan, ketakutan, frustasi ataupun konflik namun masalah tersebut masih dalam jangkauan profesi bimbingan dan konseling, masih dalam kategori “normal”, belum termasuk “abnormal”. Bila masalah konseli mencapai kadar yang sangat berat, neuosus, diluar jangkauan konselor, maka perlu di “referal” kepada psikologis klinis. Terlebih-lebih bila diagnosa masalah mengidentifikasi adanya simtoma abnormalitas atau psikosis, maka merupakan kewenangan psikiater untuk menanganinya.

Berikut ini adalah kriteria masalah dalam konseling secara prinsip, antara lain:

1. Masalah sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang tergolong serius, sifatnya khas dan cukup mengguncangkan kehidupan secara sosial maupum pribadi dari konseli. Masalah yang dihadapi oleh konseli itu mempengaruhi kehidupan pribadi maupun sosial dari konselinya.

2. Masalah yang cukup serius itu, selalu mengganggu pikiran dan perasaan, serta masalah tersebut diluar jangkauan subjek untuk mangatasi atau menyelesaikan sendiri. Masalah tersebut adalah suatu masalah dimana konseli sudah merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dirinya sendiri. Maka, disini konseli membutuhkan bantuan dari konselor untuk membantu salam upaya pemecahan masalahnya tersebut.

3. Bila masalah tersebut tak terpecahkan ataupun tak terselesaikan, maka akan mengakibatkan kerugian bagi subjek maupun pihak lain yang boleh jadi berdampak memunculkan masalah baru. Jika suatu masalah yang dihadapi oleh konseli tidak segera terpecahkan atau terselesaikan, maka masalah tersebut dapat memunculkan suatu masalah yang baru dan akan mengganggu kehidupan dari konseli. Oleh sebab itu, suatu masalah yang dihadapi oleh konseli harus secepatnya dapat terselesaikan dengan baik.

4. Pada gilirannya, konseli butuh bantuan pertolongan untuk memecahkan masalahnya secara memadai, sehingga dapat mengembangkan pribadi yang “balance”, produktif dan sehat. Konseli akan selalu membutuhkan pertolongan bantuan dari seorang konselor dalam upaya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Setelah memperoleh bantuan dari konselor, maka diharapkan konseli mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal, serta dapat hidup dengan seimbang, produktif, dan sehat.

5. Dengan kata lain, masalah tersebut perlu ditangani secara profesional oleh figur yang kompeten dan berwenang. Dalam menangani suatu permasalahan yang dihadapi oleh konseli memang sudah seharusnya ditangani oleh orang yang profesional dan sudah ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Jika dalam menangani suatu masalah itu tidak ditangani oleh orang yang sudah profesional, maka akan menjadi ketakutan, apabila pemecahannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konseli atau tidak sesuai dengan tugas perkembangan dari konseli yang bersangkutan.

6. Akhirnya, masalah yang dimaksud berada dalam ruang lingkup kewenangan konselor yaitu masalah-masalah melanda pada orang-orang normal. Seorang konselor hanya akan membantu memecahkan masalah dari konseli yang masih dalam keadaan normal, atau tidak sedang mengalami gangguan jiwa (abnormal). Jika konseli sudah berada dalam suatu keadaan yang abnormal, maka hal itu sudah tidak menjadi kewenangan dari seorang konselor. Dengan kata lain, masalah itu bisa dialih tangankan kasus ke orang yang lebih ahli, misalnya seorang psikiater.

b) Jenis-Jenis Masalah

Berikut ini ada beberapa masalah yang dialami oleh para remaja di sekolah menengah, antara lain:

1. Masalah emosi

Secara tradisional, masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang kurang tampak irasional.

Hal ini dapat dilihat dari gejala yang nampak pada mereka, misalnya mudah marah. Keadaan seperti ini sering kali menimbulkan berbagai permasalahan khususnya dalam kaitannya dengan penyesuaian diri di lingkungannya. Sekolah sebagai lembaga formal yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk membantu subjek didik menuju kearah kedewasaan yang optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah dan mengatasi masalah emsosional ini.

Misalnya dengan memberikan pelayanan khusus bagi siswa melalui program layanan informasi, layanan konseling, layanan bimbingan dan konseling kelompok. Dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok, anak dapat berlatih bagaimana cara menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara mengemukakan masalah, bagaimana cara mengendalikan diri baik dalam menanggapi masalah sesama anggota maupun saat mengemukakan masalahnya sendiri.

2. Masalah penyesuaian diri

Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis baik dengan sesama remaja maupun dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Pada fase ini remaja lebih banyak di luar rumah bersama dengan teman-temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dipahami jika pengaruh teman sebaya dalam segala pola perilaku, sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar daripada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat bergantung pada pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka salah dalam bergaul.

Dalam keadaan demikian, remaja akan cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan berbagai akibat yang akan menimpa dirinya. Untuk itulah, maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas perkembangan remaja tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat baik lewat kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikuler di sekolah, hal-hal tersebut diharapkan dapat mencegah dan mengatasi kesalahan pergaulan tersebut. Contoh dari masalah penyesuaian diri ini adalah susah dalam hubungan sosial dan mencari teman.

3. Masalah perilaku seksual

Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini, remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis. Sebagai akibatnya, remaja memiliki minat yang tinggi terhadap seks. Seharusnya mereka mencari dan atau memperoleh informasi tentang seluk beluk seks dari orang tua, tetapi pada kenyataannya mereka lebih banyak mencari informasi dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya dari teman sebaya yang sama-sama kurang memahami arti pentingnya seks, dari internet, media elektronik, dan media cetak yang kadang-kadang lebih menjurus ke pornografi. Sebagai akibat dari informasi yang tidak tepat tersebut dapat menimbulkan perilaku seks remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak dilakukan, misalnya berciuman ataupun masturbasi. Bagi generasi muda sekarang ini, hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang dianggap normal dan benar. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap benar apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling merasa terikat. Untuk menanggulangi dan mengatasi masalah seperti itu, sekolah hendaknya melakukan tindakan-tindakan yang nyata, misalnya pendidikan seks (seks education).

4. Masalah perilaku sosial

Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang berbeda. Dengan perilaku-perilaku sosial seperti ini, maka akan dapat melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada remaja tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut, sekolah sebenarnya dapat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan tidak memperhatikan latar belakang suku, agama, ras, an sosial ekonomi. Sekolah harus mampu memperlakukan siswa secara sama, dan tidak membeda-bedakan siswa yang satu dengan siswa lainnya.

5. Masalah moral

Masalah moral yang terjadi pada remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, ataupun dalam kelompok remaja. Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dengan mana yang salah dapat membawa masalah bagi kehidupan remaja pada khususnya dan pada semua orang pada umumnya. Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang demikian, maka sekolah sebaiknya menyelenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan dan meningkatkan budi pekerti. Contoh dari masalah moral ini adalah mencontek saat ujian.

6. Masalah keluarga

Di dalam sekolah menengah, sering ditemukan berbagai permasalahan remaja yang penyebab utamanya adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dengan orang tua. Seperti yang telah dikemukakan oleh Hurlock (dalam Mugiarso, 2011: 98), sebab-sebab umum pertentangan keluarga selama masa remaja adalah standar perilaku, motode disiplin, hubungan dengan saudara kandung, sikap yang sangat kritis pada remaja, dan masalah palang pintu (perbedaan pendapat). Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern itu berbeda. Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mampu mengikuti standar yang modern, sedangkan orang tua bersikeras pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang menjadi sumber perselisihan di antara mereka. Metode-metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua yang terlalu kaku dan cenderung otoriter akan dapat menimbulkan permasalahan dan pertentangan di antara remaja dan orang tua. Salah satu ciri remaja adalah dimilikinya sikap kritis terhadap segala sesuatu, namun bagi keluarga tertentu sering tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis terhadap pola perilaku orang tua dan terhadap pola perilaku keluarga pada umumnya. Sedangkan yang dimaksud dengan masalah keluarga palang pintu adalah peraturan keluarga tentang penetapan jam atau waktu pulang dan mengenai teman-teman dengan siapa remaja itu dapat berhubungan, terutama teman-teman yang lawan jenis. Untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut, maka sekolah harus mampu meningkatkan kerjasama dengan orang tua dari para siswanya.

Prayitno (dalam Mugiarso, 2011: 99) mengelompokkan masalah siswa di sekolah menengah menjadi empat kelompok besar, yaitu:

1) Masalah yang berhubungan dengan dimensi keindividualan, masalah ini berkaitan dengan pribadi (diri sendiri) dari siswa yang bersangkutan.

2) Masalah yang berhubungan dengan dimensi kesosialan, masalah berkaitan dengan bagaimana seorang siswa mampu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

3) Masalah yang berhubungan dengan dimensi kesusilaan, masalah ini berkaitan dengan moral para peserta didik (siswa) pada sekolah menengah.

4) Masalah yang berhubungan dengan dimensi keberagamaan, masalah ini berkaitan dengan ras, suku, dan agama dari masing-masing peserta didik (siswa) pada sekolah menengah.



A. KESIMPULAN

Dari satu segi dapat kita lihat bahwa Bimbingan dan Konseling memiliki arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan terhadap seseorang, atau sekelompok orang. Dari segi lain konseling merupakan alat dalam pemberian bimbingan, konseling juga merupakan alat yang paling ampuh dalam keseluruhan program bimbingan atau dengan kata lain konseling merupakan titik sentral dari keseluruhan kegiatan bimbingan.



Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya. Akan tetapi pada kenyataannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan yang dapat menghambat dan menggangu tercapainya kebahagaiaan tersebut. Demikian juga bagi subjek didik yang berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah yang sedang berada dalam fase masa perkembangan remaja juga mengalami berbagai permasalahan hidup, yang apabila dibiarkan akan mengganggu dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang sedang dilaluinya. Terdapat berbagai jenis masalah yang dialami oleh siswa sekolah menengah, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan dimensi-dimensi kehidupan remaja, yaitu masalah yang bersifat individualitas, sosialitas moraritas, dan keagamaan serta ketakwaan. Dengan demikian, kehadiran layanan bimbingan dan konseling (BK) dalam sekolah, khususnya pada sekolah menengah ini sangat bermanfaat demi tercapainya kehidupan peserta didik yang lebih baik dan agar peserta didik mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Namun, kewenangan seorang konselor untuk membantu konselinya dalam menyelesaikan masalah berada dalam kriteria masalah yang masih normal, bukan kriteria masalah yang sudah abnormal.

Tuesday, September 19, 2017

BLOG SONIA || CARA MUDAH MATEMATIKA

0

Rumus Cepat Matematika Menghitung FPB KPK Tingkat Lanjut



Mau tau bagaimana cara mengitung FPB KPK lebih mudah, yuk simak video berikut ini...


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=EPQjQ1rT91o

BLOG SONIA || CARA MUDAH MATEMATIKA KPK DAN FBP

0

Mencari FPB dan KPK Pecahan


Berikut ini cara  mudah mencari FPB dan KPK dengan mudah,, yuk simak video berikut..


BLOG SONIA || PEMBAHASAN SOAL UN MATEMATIKA

0

Menentukan Debit Air 


Assalamualaikum.. halo sobat matematika. yuk simak video berikut ini, bagaimana cara menentuka debit air . Persoalan ini terdapat pada pembahasan soal UN loh. 


BLOG SONIA || CARA MUDAH MATEMATIKA KELAS 5 SD

0

Menentuka Jarak Pada Peta (Skala)



Halo adek-adek..
Simak video berikut, cara mudah belajar matematika. Kali ini kita akan membahas bagaimana cara menentuka jarak pada peta. yuk, langsung saja..



sumber : https://www.youtube.com/watch?v=KhnGkzFqk4U&t=15s

Wednesday, September 13, 2017

Mengenal Saya Lebih Dekat

0

Mengenal Saya Lebih Dekat



Foto Sonia Anggya Nita Part II.


Assalamualaikum Wr.wb


Nama saya Sonia anggianita. S, biasanya teman-teman saya memanggil saya sonia. saya lahir di kota kecil nan indah yaitu Bangkinang, Provinsi Riau. pada tanggal 23 September "..." tahun nya dirahasiakan ya. heheheh..

Asal saya dari Pasaman Barat, tepat nya di kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatra Barat. kampung kecil nan elok dipandang tersebut memiliki kekayaan alam yang melimpah, dikelilingi oleh tumbuhan sawit dan juga lahan persawahan bagi para pencari nafkah.

Tak hanya itu budaya dan juga tradisinya masih sangat dijaga dengan baik. dan disana juga banyak sekali tempat wisata-wisata bagi para petualang alam. nah, saya akan menceritakan tentang sebuah tradisi yang ada di Pasaman Barat, disana ada seni musik dikolaborasikan dengan tarian yang bernama gandang sembilan, biasanya Gandang sembilan ditampilkan pada saat acara pernikahan. Dan sampai sekarang diwarisi dari generasi ke generasi.

Uppss, pasti bingung ya... lahirnya dimana kampung nya dimana .. hehehe
tunggu cerita selanjutnya ya

Wassalamualaikum Wr.Wb









Wednesday, August 30, 2017

Gak nyangka ! 5 tips ini bakalan buat kamu menjadi guru kreatif

0

Gak nyangka !! 5 tips ini bakalan buat kamu menjadi guru kreatif 


assalamualaikum wr.wb
Sesungguhnya siswa-siswa yang inspiratif hanya bisa lahir dari guru-guru kreatif
menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang mudah, agar anak murid tidak merasa jenuh akan pelajaran guru harus mengmbangkan ide-ide kreatif mereka.

nah, berikut 5 tips menjadi guru kreatif :


1. Mencintai profesi guru
terlebih dahulu cintai profesi anda, itu akan mudah bagi anda untuk lebih mengembangkan ide - ide kreatif yang anda miliki, jangan cintai juga anak-anak murid nya. :)


2. Jadilah guru yang pembelajar
sempatkan lah di setiap waktu anda untuk menggali pengetahuan, karna guru yang kreatif adalah guru yang tidak selalu puas akan pengetahuan yang ia miliki



3. Berfikir terbuka (open minded)
berfikir luaslah unruk mendapatkan de-ide sebanyak mungkin


4. Menyukai tantangan
guru yang kreatif ialah guru yang menyukai tantangan, baik tantanagn dalam proses belajar mengajar, menghadapi berbagai karakter anak, ataupun tantanagan gajiii.. hehe (uups sorry)


5. Jadilah guru yang komunikatif
kemanpuan komunikasi merupakan tuntutan yang harus dimiliki oleh setiap guru. Maksud komunikatif disini yaitu guru yang tidak suka menggunakan istilah-istilah yang sulit untuk dipahami oleh siswa, apabila ada istilah yang lebih sederhana ia akan menggunakannya untuk lebih dipahami oleh siswa

semoga bermanfaat
terimakasih..


Friday, June 16, 2017

BLOG SONIA : CERPEN || Tas Boneka Beruang

0


 

Tas Boneka Beruang
 by: Sonia
“Akan tersaji keelokan istana dengan taman agungnya di langit kuasa bagi mereka yang meniti hidup tanpa ke putusasaan”



Pagi yang cerah ketika matahari sudah mulai menampakkan cahaya keemasannya. Pagi-pagi sekali Bu Muna sudah menyiapkan bekal sarapan untuk anak-anaknya ke sekolah. Sementara itu, matanya masih kelihatan kelelahan karena semalam melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan malamnya yakni membunggkus kerupuk buatannya. Kerupuk yang sudah digorengnya, dimasukkan kedalam kantong plastik yang berukuran kecil. Sedangkan Odi, anak bungsunya selamam susah tidur, tidak biasanya Odi rewel. Odi masih berusia tiga tahun. Sedangkan kedua anak Bu Muna telah memasuki usia sekolah. Hana adalah anak sulung Bu Muna dengan Pak Ahmad. Hana adalah gadis manis yang ingin tau segala hal. Sedangkan adiknya,Lisa yang dua tahun dibawahnya adalah gadis kecil yang ceria dan selalu murah tersenyum kepada siapa saja yang ia jumpai.

Semenjak Pak Ahmad sakit akibat asma yang dideritanya setahun yang lalu, Pak Ahmad tidak dapat bekerja lagi. Hari-harinya dilalui dirumah saja. Sehingga Bu Munalah yang menggantikan beliau bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan berjualan kerupuk buatannya sendiri ke warung-warung terdekat. Selain itu, untuk menambah kebutuhannya Bu Muna melakukan pekerjaan lainnya, seperti menyetrika pakaian dari rumah ke rumah bahkan menjual sayuran ke pasar. Apapun akan ia lakukan untuk keluarganya.

“Bagaimana keadaan Bapak, Bu?” tanya Bu Lasti ketika di pasar. Bu Lasti adalah penjuan sayur langganan Bu Muna

“Alhamdulilallah sehat, Bu. Tapi ya bagaimana Bapak masih belum bisa kerja yang berat-berat dulu” jawab Bu Muna.

“Oh, syukurlah Bu” seru Bu Lasti.

“Ya, bagitulah Bu. Saya pamit dulu Bu, mau ketoko Pak Mahmud” ucap Bu Muna sambil tersenyum dan meninggalkan Bu Lati yang asyik mengurus sayuran segarnya.

Setiap hari Bu Muna mengalami hari-hari dengan duka cita. Suaminya tidak dapat bekerja lagi, sementara anak-anaknya masih kecil.

“Apa yang akan terjadi pada anaknya kelak, bagaimana dengan masa depan mereka nantinya?” pikir Bu Hana dalam hati.

“Bu....Bu...” panggil Hana pada ibunya di kursi dengan wajah yang bersedih. Seakan-anakan ia tau apa yang dirasakan oleh ibunya. Hana pun mendekati ibunya.

“Bu, ada apa?” kata Hana sambil memegang pundak ibunya

“Oh... kamu sudah pulang , nak? Tanya Bu Muna yang kaget melihat anaknya sudah berada didepannya.

“Iya Bu. Ibu kenapa ?” apa yang Ibu pikirkan?” tanya Hana pada ibunya.

“Tidak ada nak. Mana adik mu Lisa ?” tanya bu Muna yang dari tadi tidak melihat Lisa.

“Lisa belum pulang, Bu. Katanya mau kerumah teman sebentar” jawab Hana.

“Oh ya sudah. Kamu ganti baju sana. Ibu mau melihat adikmu dulu” kata Bu Muna

Ya, bu. Ayah mana Bu?” tanya Hana.

“Ada, dikamar. Ayah mu sedang tidur dengan adikmu nak. Jawab Bu Muna.

Sorepun tiba, Lisa belum juga pulang . Bu Muna merasa cemas, tidak biasanya Lisa berbuat seperti itu. Akhirnya Bu Muna memanggil Hana.

“ Hana......... !!” panggil Bu Muna kepada anak sulungnya tersebut.

“Ada apa, Bu?” sahut Hana.

“Kamu lihat Lisa, ada dimana dia sekarang. Sampai sore begini adikmu belum juga pulang, entah apa yang ia kerjakan diluar disana, Ibu jadi khawatir” ucap Bu Muna dengan wajah cemas.

“Baik, Bu.” Kata Hana sambil berjalan ke arah pintu

Hampir setiap rumah dari temannya Lisa, ia tanyai. Tapi keberadaan Lisa belum ia ketahui. Hana pun mencari ketempat bermain yang biasa adiknya kunjungi, tapi belum juga ia dapatkan. Akhirnya tibalah Hana di toko Pak Saleh. Tempat terakhir ia berpisah dengan adiknya itu. Hanapun menemui Pak Saleh yang kebetulan ada didalam tokonya itu.

“Bapak Bapak lihat Lisa?” tanya Hana

“Ya, tadi dia disini. Katanya dia mau lihat-lihat senbentar. Setelah itu Bapak tidak melihatnmya lagi, karena Bapak sibuk melayani pembeli.

“Oh, baiklah Pak. Terimakasih”. Ujar Hana sambil terus berlalu untuk mencari adiknya itu.

“Apa yang dipikirkan Ibu, jika adik belum ketemu juga, kasihan Ibu”. Pikir Hana dalam hati

Setelah cukup lamaa, Lisa pun ia dapatkan. Dibawah batang pohon yang besar, disanalah adiknya duduk sendiri. Sambilo mengusap peluh diwajahnya, Hanapu menghampiri adiknya itu. Dia melihat Lisa yang sedang menangis. Hanapun khawatis apa ayang telah terjadi pada adiknya itu.

“Lisa... apa yang terjadi dengan mu?” tanya Hana kepada adiknya itu.

“Ada apa Lisa?” tanya Hana kembali karena adiknya tetap diam dan tidak mau menjawab ucapan kakaknya.

Hana pun menghapus wajah adiknya yang basah dengan air mata, Hana melihat adiknya itu. Hana pun mengajak adinya untuk pulang. Pasti Ibunya mengkhawatirkan Lisa yang belum pulang dari sekolah.

“Ayo, kita pulang. Kasihan Ibun di rumah yang dari tadi cemas dengan kamu, Lisa” kaya Hana pada adiknya.

Lisa pun berdiri dari tempat duduknya, dikihatnya wajah kakaknya itu.

“kak... !” sahut Lisa

“Ya, Lisa“. Sahut Hana

“Aku ingin tas seperti yang dimiliki mimi” kata Lisa kepada kakaknya.

“Tapi kamu masih punya tas, itupun masih bagus.” Jawab Hana.

“Tapi aku mau seperti punya mimi, kak. Tas nya lucu, berbentuk boneka. Tadi aku lihat ada yang jual” kata ;isa dengan wajah ceria.

“Dimana kamu melihatnya?” tanya Hana

“Ditoko Pak Saleh” jawab Lisa.

“Oh, begitu. Pantasan tadi kamu tidak mau pulang bareng kakak. Tapi kenapa kamu menangis?” tanya Hana kepada adiknya itu.

“Itu karna tas satu-satunya yang ada di toko Pak Saleh sudah dibeli orang lain.” Jawab Lisa dengan wajah cemberut.

Hana tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu. Hanya karena itu Lisa tidak mau pulang.

“Ya,sudahlah. Kita pulang dulu. Ibu sudah menanti kita dirumah “ sahut Hana samnbil memegang tangan adiknya itu.

“Di rumah nanti Lisa jangan bilang sama Ibu, ya.. “ kata Hana.

“Memang kenapa, kak?”. Tanya Lisa.

“Kasihan Ibu. Nanti Ibu jasi kefikiran. Bukankan barng-barang yang ada ditoko Pak Saleh harganya lumayan mahal.” Kata Hana.

“Ya, kak. Mimi bilang. Aku tidak akan bisa membelinya kaena harganya yang lumayan mahal itu. “ Kata lisa kepada kakak nya.

Hana kasihan melihat adiknya itu, kehidupan mereka saja masih kekurangan. Apalagi untuk membeli barang yang diinginkan Lisa.

Sampailah mereka dirumah . Lisa pun meruti apa yang dikatakan kakanya itu. Setiba disana, Ibu sudah menanti mereka berdua. Dengan wajah cemas, Ibu Muna berusaha tetap tenang. Sementara Pak Ahmadmenggendong Odi di pangkuannya.

“Lisa... Lisa.... kalau sudah pulang sekolah harus pulang dulu keruamh , nak. Ibu jadi cemas memikirkan kamu “ kata Ibu Muna dengan wajah sedih.

“Iya, Bu. Maafkan Lisa. Lisa tidak akan mengulanginya lagi “ jawab Lisa dengan rasa menyesal.

“Ya, sudah. Mandi sana... “ kata Bu Muna sambil mengelus-ngelus kepala anaknya itu. Betapapun marahnya kepada anaknya, tetap saja Bu Muna sanagt sayang kepada mereka semua.

Malam telah menjelang, Hana tidak bisa tidur. Terbayang dengan ucapan adiknya, Lisa yang ingin sekali membeli tas boneka itu. ketika Pak Ahmad, ayahnya sudah merasa sehat apapun yang ingikan Lisa selalu dituruti. Lisa memang adik yang ia sayangi Hana. Setiap kali ayah mereka membelikan sesuatu, Hana selau mengalah kepada adiknya. Apa yang ia sukai selau diberikan kepada Lisa. Sekarang, Hana kasihan mlihat adikna, sementara orang tua mereka tidak mampou membelikannya.

Esok harinya, seperti biasa Bu Muna menyiapkan kerupuknya kewarung-warung. Odi masih tidur, sedangkan Pak Ahmad duduk sambil minum teh panas yang sudah disiapkan istrinya. Hana dan Lisapun sudah siap-siap berangkat kesekolah.

“Pak, kami berangkat ya.” Kata mereka serentak sambil mencium tangan ayahnya.

“Ya, nak. Hati-hati dijalan , ya. Jaga adikmu ya . Hana? Jaab Pak Ahmad.

“Ya, Pak.” Gumam Hana.

Dipinggir jalan, Hana diikuti adiknya dari belakang. “Lisa.... !” sahut Hana menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa kak?” jawab Lisa yahg juga ikut berhenti.

“Nanti pulang sekolah, pulang duluan saja ya..” jawab Hana pada adiknya.

“Memangnya kakak mau kemana?” tanya Lisa.

“Mau kerumah Ratih, ada tugas dari sekolah” jawab Hana.

“Baiklah kak” Kata Lisa kepada kaknya.

Sambil menggandeng tangan adiknya. Akhirnya mereka pun tiba di sekolah. Dan lonceng tanda masuk telah berbunyi. Mereka masuk kedalam kelanya masing-masing. Dan pelajaranpun dimulai. Hari menunjukkan pukul 12.00 siang, udara terasa semakin panas. Lonceng kembali berbunyi menandakan usainya sekolah. Anak-anakpun berhamburan keluar kelas. Lisa yang dari tadi keluar duluan dari kelasnya duduk sambil menunggu dibawah pohom besar yang ada didepan sekolahnya. Tidak lama kemudian, Hanapun keluar dari ruangan kelasnya. Hana menggampiri adiknya itu, ia tersenyum dan teringat akan pesan Ibunya untuk selalu menjaga adiknya

Akhirnya tibalah dirumah, kali ini Lisa tidak pulang bersama kakaknya. Setelah mengganti baju, Lisa menghampiri ayahnya yang sedang bermain bersama Odi.

“Lisa, kemana kakak mu?” tanaya Pak Ahmad kepada anaknya.

“kerumah temannya, yah.. katanya mau belajar kelompok”. Jawab Lisa yng asyik bermain bola bersam Odi.

Sementara disana, Hana tlah tiba di toko Pak Saleh. Ditoko itu terdapat berbagai aneka peralatan sekolah. Hanapun melihat satu persatu barang yang ada disana, tidak satupun yang ia temukan. Dari kejauhan Pak Saleh menghampirinya.

“Mau beli yang mana Hana?” tanya pak Saleh.

“Anu... Pak, tas...” jawab Hana sambil memikirkan sesuatu.

“Ayu masuk sana, nanti kamu bisa pilh yang kamu suka”. Kata Pak Saleh sambil menunjuk kearah barang.

Sambil melihat-lihat kembali barang yang diinginkan,tapi tetap tidak ada.

“Ada yang Hana sukai tidak? “ tanya Pak Saleh. Hanapun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tas yang kemaren masih ada Pak?” tanya Hana.

“Tas yang mana Hana?” tanya Pak Saleh kembali.

“Tas boneka beruang” kata Hana.

“Oh, itu. Kemaren tibggal satu lagi dan itu sudah dibeli orang”. Jawab Pak Saleh.

Hana pun terdian sejenak. “Hana mu tas seperti itu, Pak.”

“kalau mau, besok Bapak bawakan buat Hana bagaimana?” tanya Pak Saleh.

“Iya Pak.. iya... Hana mau!” jawab Hana dengan wajah yang tersenyum bahagia.

Besok Hana akan membelikan tas boneka beruang untuk adiknya. Ia beli dengan tabungannya sendiri, dari uang jajan ang ia dapatkan dari Ibunya. Ditambah hasil bantu-bantu di kedai Bu Ratna. Rasanya sudah cukup untuk dapat membeli tas boneka beruang yang disukai Lisa.

Hari pun berlalu dengan cepat, seperti biasa Hana dan Lisa pulang dari sekolah. Ketika sampai ditoko Pak Saleh, Hana menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa kak?” tanya Lisa keheranan melihat kakaknya tiba-tiba berhenti.

“Ikut kaka, ada yang mau kakak tunjukkan kepadamu.” Jawab Hana sambil tersenyum.

Lisa heran melihat tingkah laku kakanya, dari pagi kakaknya menunjukkan sikap yang aneh. Sambil memegang tangan adiknya, Hana masuk kedalam toko Pak Saleh. Ternyata Pak Saleh sudah menunggu dari balik pintu tokonya.

“Ayo, masuk nak. Eh, Lisa juga kesini” kata Pak Saleh.

“Iya Pak, kemaren itu buat Lisa” kata Hana kepada Pak Saleh.

“Oh, begitu. Tunggu sebentar ya. Bapak ambilkan dulu” Kata Pak Saleh.

Hana tersenyum melihat adiknya yang masih kebingungan. Sesekali Lisa memandang kepadanya. Pak Saleh pun datang dengan membawa bungkusan kecil yang berwarna merah muda.

“Ini Hana, barang yang kamu inginkan”. Kata Pak Saleh sambil memberikan bungkusan itu kepada Hana.

Hana mengambil bungkusan itu, lalu diberikan kepada adiknya. Lisa pun keheranan, dilihatnya isi bungkusan itu. Tiba-tiba wajah Lisa menjadi bahagia. Apa yang ia inginkan, sekarang ada didepan matanya.

“Ini untuk kamu Lisa..” Hana berkata kepada adiknya.

“Haa... kaka serius ini untuk Lisa ?” tanya Lisa yang masih belum percaya.

“Iya adik, kamu senang Lisa?” tanay Hana kembali kepada adik nya itu.

“Iya kak, Lisa senang. Terimakasih kak.” Jawab Lisa, dan memeluk tubuh Hana sambil menangis.

Pak Saleh tersenyum dan ikut terharu malihat mereka berdua, tangisan Lisa pun mendadak berhenti .

“Tapi kak, bagaimana bisa kakak membelinya?” tanya Lisa kepada Hana.

“Ini... ! jawab Hana sambil menunjukkan kantong plastik yang berisi uang didalamnya.

“Ini uang dari celengan kakak simpan selama ini.” Kata Hana kembali.

“Tapi bukankah kakak pernah mengatakan uang celengan itu mau kakak berikan kepada Ibu untuk biaya berobat ayah” kata Lisa kepada kakaknya itu.

“Iya, tapi sepertinya Ibu belum membutuhkannya.” Ujar Hana.

Lisa pun menangis kembali dan memeluk kakaknya, Hana sangat sayang kepada adiknya itu. Sepanjang jalan Lisa tersenyum sendiri, sesekali melihat kedalam kantong plastik itu, Lisa pun memandang kearah kakaknya dengan senyum bahagia dan ingin mengatakan bahwa ia sangat sayang kepada kakaknya itu. Setiap malam, Lisa memeluk tas barunya itu, sampai-sampai tas itu ia bawa tidur bersamanya. Hana hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu.

Pagi-pagi sekali Lisa sudah bangun, buku yang tadi malam ia siapkan. Ia masukkan kedalam tas barunya. Hana pun bersiap-siap menyiapkan buku pelajarannya. Ibu memanggil mereka berdua untuk sarapan. Sementara Pak Ahmad, sudah berada di meja makan untuk sarapan dan Odi masih tidur dikamarnya. Lisa pun keluar kamar untuk sarapan, tiba-tiba Lisa dikagetkan dengan suara keras Ibunya.

“Dari mana kamu mendapatkan tas itu, Nak ... ? Ibu belum pernah melihatnya!”. Tanya Bu Muna kepada anaknya.

“Kakak yang belikan Bu” Ujar Lisa.

Wajah Bu Muna mulai mengarah ke Hana, Hana yang telah mendengar perkataan Ibunya tadi langsung menunduk dan takut untuk memandang mata Ibunya. Melihat itu, Ibu Muna pun menghampiri Hana. Hana yang ketakutan hanya bisa diam.

“Benar itu Hana ..... ! atau kamu mengambinya dari orang lain... ! “Ujar Bu Muna dengan nada yang tinggi kepada Hana.

Belum sempat Hana menjawab, Ibu Muna pun bertanya lagi.

“Ayo, jawab Hana ...... ! dari mana kamu mendapatkan ! Ibu bertanya kepadamu Hana.. ! tanya Ibunya dengan mata yang melotot memandangi anaknya itu.

“Ibu, kakak membelinya “ kata Lisa. Tapi belum sempat Lisa selesai berbicara. Ibu Muna langsung menyela.

“Beli.....? Uang dari mana ! jawab Hana,Ibu bicara kepadamu... !

Hana diam membisu, Hana tidak berani menatap Ibunya itu, belum pernah ia melihat Ibunya semarah itu padanya. Pak Ahmad yang dari tadi memperhatikan, langsung memotong pembicaraan istrinya.

“Sudahlah Bu, nanti mereka terlambat ke sekolah. Nanti saja kita bicarakan itu.” Ucap Pak Ahmad sambil menyuruh kedua anaknya untuk pergi kesekolah.

Hana melihat Ibunya yang tiba-tiba diam, tetapi wajahnya masih menunjukkan kemarahan kepadanya. Di sekolah Hana selalu kefikiran dengan ucapan Ibunya. Hana sedih, Ibu berjakata seperti itu kepadanya.

Jam pelajaran pun telah usai, Hana dan Lisa pulang bersama. Lisa yang melihat kakaknya yang sedih, merasa kalau ini adalah kesalahnya. Salahnya untuk memiliki tas boneka beruang. Lisa menghentikan langkah kakinya, Hana melihat adiknya itu pun langsung ikut berhenti.



“Kak, maafkan Lisa. Ibu marah kepada kakak karena Lisa, seharusnya Lisa tidak....” ucapan Lisa. Belum sempat Lisa selesai berbicara, Hana langsung menyelanya.

“Tidak Lisa, ini salah kakak. Seharusnya kakak bilang dulu kepada Ibu, agar Ibu tidak salah paham begini.”

“Tapi kak....” ujar Lisa.

“Sudahlah Lisa, ayo kita pulang.” Ucap Hana kepada adiknya.

Setiba di pintu rumah, langkah kaki Hana begitu berat. Ia takut Ibunya marah lagi kepdanya. Hana melihat ayah nya yang sedang bermain dengan Odi diruang tengah. Hana pun menyapa ayahnya, sementara Lisa masuk kedalam kamarnya.

“Ayah, Ibu dimana?” tanya Lisa kepada ayahnya.

“Kamu sudah pulang, nak. Ujar ayah Lisa.

Ibu belum pulang dari tadi, mungkin masih diwarung. “Memangnya kenapa, nak?” tanya Pak Ahmad kapada putrinya.

“Apa Ibu masih marah yah?”

Dengan tatapan penuh kasih sayang, ayah berkata “Ibu tidak akan pernah marah kepada mu Hana. Yasudah, ganti baju mu. Ajak Lisa makan, Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kalian sebelum pergi tadi”

“Iya,ayah.” Sahut Hana sambil menuju kamarnya.

Tidak beberapa lama Bu Muna pun pulanh, Odi yang melihat Ibunya pulang, langsung berlari menghampiri Ibunya. Wajah Bu Muna kelihatan lelah dan itu terlihat jelas diraut wajahnya. Hana yang mendengar suara langkah Ibunya, langsng keluar dari kamar tidurnya.Hana melihat Ibunya dan berusaha untuk mendekatinya. Tapi rasa takut membuatnya tidak bisa melangkah kedepan . tetapi, pada akhirnya Hana memberanikan diri. Ia akan terima sebesar apapun kemarahan Ibunya.

“Ibu..... “ kata Hana dengan suara pelan, takut Ibunya akan marah kapadanya.

“Maafkan Hana, Bu” Hana tidak bermaksud membuat Ibu marah.

“Kamu tidak salah, nak. Maafkan Ibu ya karna sudah marah-marah kepadamu.” Ujar Bu Muna.

Hana terkejut mendengar perkataan Ibunya itu.

“Ibu tau apa yang kamu lakukan selama ini. Ibu tau, Ibu belum bisa memberikan apa yang kalian inginkan. Tapi nak, selagi Ibu masih ada Ibu akan berusaha membuat kalian bahagia. Hana kamu anak Ibu yang paling bijak, yang selalu mengerti apa yang Ibu rasakan. Ini Ibu kembalikan celengan mu nak.” Kata Bu Muna sambil memberikan sebuah celengan yang sudah terisi uang didalamnya.

“Maksud Ibu, celengan ini buat Hana. Tapi mengapa sudah terisi Bu ?” tanya Hana keheranan.

“Iya celengan baru ini punya kamu, karena celengan yang lama kamu pecahkan kemaren. Dan Ibu tadi bertemu dengan Pak Saleh, ia menceritakan semuanya kepada Ibu. Jadi Ibu beli celengan baru ini dan Ibu ganti uang yang kamu berikan kepada Pak Saleh untuk membeli tas buat adikmu Lisa” Ujar Bu Muna.

“Tapi... Bu.... “

“Sudah, simpan saja. Ibu tau, kamu sangat sayang kepada adikmu. Kamu tidak perlu khawatir, uang Ibu masih ada untuk membeli keperluan kita nantinya”

Ibu Muna memeluk anaknya dan terasa menetes air mata dikedua pipinya. Merasa terharu dengan apa yang diperbuat oleh anaknya. Pak Ahmad yang dari tadi memperhatikan mereka berdua saling menatap dan tersenyum bahagia. Keharuan yang terjadi dikeluarganya membaea mereka lebih ikhlas kepada keadaan dan menyadari bahwa “kebahagian bukan terletak kepada materi melainkan ikhlas menerima yang ditakdirkan Tuhan kepada kita.”


~ Selesai ~

BLOG SONIA : BILANGAN CACAH || Pendidikan Matematika SD Kelas Rendah

1



A. Bilangan Cacah dan Operasinya

1) Sejarah Bilangan Cacah

Sesungguhnya sejak awal peradaban manusia telah mengenal ilmu matematika, hanya saja waktu itu matematika tidak memakai angka-angka seperti pada zaman sekarang. Pada zaman dahulu manusia menggunakan berbagai simbol untuk mrenunjukan bilangan, misalnya menggunakan potongan kayu, simpul-simpul pada kayu atau anggota badan, seperti tangan.

Sekarang, penggunaan simbol untuk menunjukan bilangan mulai ditinggalkan. Mereka mulai mengembangkan sistem bilangan. Pada Awalnya, berhitung dengan bilangan hanya terdiri dari bilangan 1,2,3,4,5,6,7,8,dan 9.

Baru pada sekitar abad kedelapan seorang matematikawan muslim dari negeri persia yang bernama Al-Khawarizmi menyempurnakan sistem ini dengan memperkenalkan bilangan NOL,ternyata penemu bilangan nol (0) adalah matematikawan muslim dari negeri Persia yaitu AL-khawarizmi, sehingga menjadi bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 yang kemudian disebut sebagai bilangan cacah dan disimbolka dengan huruf C.

Perbedaan angka dan bilangan, sebuah angka digunakan untuk melambangkan bilangan, empitas abstrak dalam ilmu matematika. Tetapi bagi orang awam angka dan bilangan seringkali dianggap entitas yang sama. Merekapun menganggap angka dan bilangan sebagai bagian dari matematika. Memang bahasa Indonesia belum cukup baku sebagai alat komunikasi dalam ilmu sains, sehingga belum ada konsensus resmi bahwa “angka” dan biangan melambangkan dua hal yang sangat berbeda. Demukian pula, kata angka dan bilangan masih sering diperhatikan dengan kata nomor. (Abdul Halim Fathani, 2009: 119)



2) Pengertian Bilangan Cacah

Menurut Abdul Halim Fathani (2009: 125) Himpunan bilangan cacah (whole numbers) adalah himpunan bilangan yang anggotanya merupakan bilangan bulat positif dan bilangan nol atau himpunan bilangan asli yang dimulai dari nol. Himpunan bilangan cacah disimbolkan dengan hurup W dan memiliki anggota: W = (0,1,2,3,4,5,6, ......), maka dapat disimpulkan bilangan caca itu adalah sebuah himpunan bilangan dimana didalamnya terdiri dari bilangan bulat yang dimulai dari nol dan bukan merupakan bilangan negative.

Contoh :

kita lihat kumpulan mahasiswa di kelas.Banyaknya mahasiswa yang ada di kelas tersebut dinyatakan dengan suatu bilangan. Setiap kumpulan dapat dihubungkan dengan suatu bilangan dan setiap bilangan memiliki lambang bilangan.Misalnya “ 5 “ mewakili bilangan lima.Kata “lima “ adalah nama untuk bilangannya. Coba bayangkanlah kumpulan sapi-sapi berwarna hijau atau kumpulan kambing berwarna orane .Kumpulan tersebut tidak memiliki anggota. Maka kita sebut kumpulan demikian itu himpunan kosong. Bilangan untuk bilangan kosong adalah nol, lambangnya adalah 0. Contoh : kumpulan kucing di kelas pgsd adalah himpunan kosong. Banyaknya anggota himpunan tersebut adalah 0. Dengan demikian bilangan cacah adalah bilangan-bilangan 0,1,2,3,4,5,…..dst.



3) Ketidaksamaan Pada Bilangan Cacah

Kita bandingkan dua bilangan yang tidak sama.

3 < 8 (3 kurang dari 8)

9 > 5 ( 9 lebih dari 5 )

Pernyataan-pernyataan diatas disebut ketidaksamaan.. Himpunan bilangan cacah memuat beberapa bilangan antara lain :

1) Himpunan bilangan asli = { 1, 2, 3, 4, ...}

2) Himpunan bilangan genap = {0, 2, 4, 6, ...}

3) Himpunan bilangan ganjil = {1, 3, 5, 7, ...}

4) Himpunan bilangan kuadrat = {0, 1, 4, 9, ...}

5) Himpunan bilangan prima = {2, 3, 5, 7, ...}

6) Himpunan bilangan tersusun (komposit) = {4, 6, 8, 12, ...}



4) Sifat-sifat Bilangan Cacah

a. Dua bilangan itu sama atau tidak sama.Jika tidak sama tentulah salah satu lebih kecil daripada yang lain.Dengan demikian kita temukan satu sifat urutan bilangan,yakni : Jika a dan b bilangan cacah maka tepat satu dari yang dibawah ini harus benar.

a = b atau a < b atau b < a

b. Urutan dua bilangan tidak berubah jika kedua bilangan itu ditambah dengan bilangan yang sama. Jika a < b tentu a + c < b + c

5) Operasi Bilangan Cacah

Macam-macam operasi bilangan cacah:

1) Operasi penjumlahan pada bilangan cacah

Pengerjaan jumlah atau penjumlahan merupakan pengerjaan thing yang pertama kali dikenal anak-anak.Bukan saja dikenal di sekolah tetapi juga mungkin dikenal di masyarakat sebelum anak-anak mengenal sekolah.

Anak-anak untuk pertama kali memperoleh pengajaran penjumlahan pada umumnya di kelas I SD. Jadi taraf berpikirnya masih kongkret.Oleh karena itu pengajaran akan lebih dipahami apabila diberikan menggunakan benda-benda kongkret atau alat peraga dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Ada 4 pendekatan atau jalan untuk menerangkan penjumlahan,yaitu dengan :

a. Penjumlahan melalui kumpulan

Penjumlahan dengan menggunakan dasar kumpulan didasarkan pada gabungan dua kumpulan lepas.Mengingat dunia anak-anak masih real maka kumpulan yang diambil harus kumpulan dengan anggota real atau gambar dengan anggota real.

b. Penjumlahan melalui pengukuran

Pada penjumlahan dengan pengukuran,yang dijumlahkan itu bukan bilangan cardinal dari kumpulan-kumpulan,tetapi ukuran panjangnya.Penjumlahan dengan pengukuran dapat diperagakan dengan garis bilangan,timbangan bilangan atau batang Cuisenaire ( berwarna).

c. Penjumlahan melalui mesin fungsi

Pada umumnya mesin fungsi tidak dipergunakan untuk menerangkan penjumlahan atau pengerjaan hitung lainnya,tetapi lebih banyak dipergunakan untuk latihan dan pengenalan pada fungsi. Penjumlahan dengan cara bersusun panjang dan bersusun pendek

Contoh : 438 + 562 =

Jumlah ini dapat kita tentukan dengan

1) cara bersusun panjang

438 = 400 + 30 + 8

562 = 500 + 60 + 2

= 900 + 90 + 10

= 900 + ( 90 + 10 ) + 0

= 900 + 100

= 1000

2) cara bersusun pendek/penjumlahan berdasarkan nilai tempat dengan menyimpan

11

438

562

1000

Di dalam penjumlahan bilangan cacah berlaku sifat-sifat :

Sifat tertutup

Hasil penjumlahan bilangan cacah a dan b berupa bilangan cacah

0 + 1 = 1 ( bilangan cacah)

1 + 2 = 3 ( bilangan cacah )

a) Sifat komutatif ( pertukaran )

Pada operasi penjumlahan sembarang bilangan cacah a dan b berlaku

a + b = b + a

contoh : 1 + 0 = 0 + 1 = 1

3 + 1 = 1 + 3 = 4

b) Sifat asosiatif ( pengelompokan )

Pada operasi sembarang bilangan cacah a , b dan c berlaku

( a + b ) + c = a + ( b + c)

contoh : ( 1 + 2 ) + 3 = 1 + ( 2 + 3 ) = 6

( 3 + 1 ) + 6 = 3 + ( 1 + 6 ) = 10

c) Unsur identitas

Hasil penjumlahan bilangan nol dengan bilangan cacah a adalah bilangan a itu sendiri, sehingga berlaku

0 + a = a + 0 = a

contoh : 0 + 3 = 3 + 0 = 3

5 + 0 = 5

2) Operasi pengurangan pada bilangan cacah

Setelah operasi penjumlahan, operasi berikutnya adalah pengurangan. Operasi ini dibandingkan dengan penjumlahan banyak ditemui permasalahan. Fakta-fakta dasar pengurangan , bilangan yang dikurangi harus kurang atau sama dengan 18, sedangkan pengurangannya ialah bilangan cacah dari 0 sampai 9, 18-9 adalah fakta dasar, 18-2, 17-15, 7-9 adalah contoh-contoh bukan fakta dasar pengurangan.

Operasi pengurangan pada bilangan cacah merupakan kebalikan dari operasi penjumlahan yang telah dijelakan diatas.

Contoh :

a – b = c sama dengan b+c =a

(a harus lebih besar dari b)

A – b =b – a (bila kedua bilangan nilainya sama, a = b)

Di dalam pengurangan bilangan cacah tidak berlaku sifat identitas karena a – 0 = 0 – a

Contoh : 3 – 1 = 2

3) Operasi perkalian bilangan cacah

Konsep perkalian bilangan cacah dapat di definisikan sebagai hasil penjumlahan berulang-ulang dari bilangan cacah yang dikalikan.

Contohnya :

3 x 4 = 4 + 4 +4 + 4 x 3 = 3 + 3 + 3 + 3

di dalam perkalian bilangan cacah juga berlaku sifat :

a x b = b x a

( a x b ) x c = a x (b x c) => sifat pengelompokan

a x 1 = 1 x a => sifat identitas

a x ( b x b ) + ( a x c ) => sifat distribusi

4) Operasi pembagian bilangan cacah

Di dalam operasi pembagian bilangan cacah, berlaku konsep penguragan berulang, misalnya : 10 : 2 = 10 – 2 – 2 – 2 – 2 – 2

Hasil dari pembagian tersebut adalah jumlah pengulangan angka yang dikurangkan, pada contoh di atas hasilnya adalah 5. Seperti halnya didalam operasi pengurangan bilangan cacah, di dalam operasi pembagian ini juga tidak berlaku sifat-sifat pertukaran, identitas, pengelompokan, dan distributive.





B. Cara pembelajaran bilangan cacah dan operasinya

1. Model Pembelajaran Bilangan Cacah

Pembelajaran koopratif merupakan model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompoknya untuk tujuan belajar.

2. Metode Pembelajaran Bilangan Cacah

Metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran bilangan cacah diantaranya adalah:

a. Metode ceramah, metode ini berupa penyampaian informasi kepada peserta didik

b. Metode demonstrasi, guru dapat memperlihatkan proses, peristiwa, atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik

c. Metode tanya jawab, bahan ajar yang berbentuk pertanyaan dan jawaban.

d. Metode penugasan, guru memberi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

e. Metode latihan

Metode permainan, bahan ajar atau evaluasi yang dibentuk dalam sebuah permaianan.

3. Cara Penanaman Konsep Dasar Bilangan Cacah dengan Bermain

Banyak cara untuk menanamkan konsep matematika yang dapat merangsang anak / peserta didik berpikir dengan bermain antara lain :

a. Menyuruh anak / peserta didik menghitung takaran minyak atau air.

Melipat-lipat kertas atau serbet lalu tanyakan anak / peserta didik berapa bagian lipatan kertas tersebut atau berapa bagian lipatan kertas itu dari keseluruhan.

b. Menghitung jumlah keluarga, di samping itu menghitung menurut jenis kelamin, usia tua dan muda dan lain-lain.

c. Melibatkan anak menghitung belanjaan dan mengikutsertakan anak mencari belanjaan di toko.

d. Suruh anak / peserta didik menghitung atau memasang-masangkan barang-barang seperti sepatu, sandal, kaos kaki dan lain-lain.

e. Anak / peserta didik diajari dan dilatih menyelidiki sesuatu tidak hanya menerima fakta. Misalnya orang tua dapat menanam biji kacang di dua tempat, satu di luar rumah dan satu di dalam rumah.



Pendidik / orang tua jangan menonjolkan diri sebagai penguasa tetapi lebih diutamakan sebagai pembimbing dalam belajar. Untuk lebih menanamkan konsep matematika diperlukan banyak aturan permainan sehingga tanpa disadari oleh anak / peserta didik bahwa mereka telah disuguhi pelajaran matematika. Dan untuk lebih merangsang minat anak-anak belajar matematika adalah dengan menyajikan materi matematika dengan menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah dimengerti, sehingga mereka lebih mudah belajar dan menerima penjelasan dari pendidiknya maupun dari orang tuanya.

Contoh permainan:

Mintalah seseorang untuk memikirkan dua bilangan yang lambang bilangannya masing - masing tidak lebih dari 2 angka, misalnya nomor sepatu dan usia, tanggal dan bulan kelahiran, dan lain-lain. Dan lakukanlah perhitungan sebagai berikut : Bilangan pertama dikalikan dengan 2, hasilnya ditambah 3, hasilnya kalikan 5, tambah lagi 4, lalu kalikan dengan 10, dan terakhir tambahkan bilangan kedua. Suruhlah ia memberitahukan hasil perhitungannya. Dengan mengurangkan 190 kepada hasil perhitungannya si anak kita dapat menyebutkan kedua bilangan yang dirahasiakan itu. Andaikan selisih antara hasil perhitungan anak dengan 190 ialah 2435. Maka bilangan pertama ialah 24 dan bilangan kedua 35.

sumber : 

Rahayu, Nurhayati. 2009. Matematika itu Gampang. Jakarta: Transmedia

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika, di Sekolah Dasar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya